3600 Detik versi ICIL : Bab 8 “Liburan”

23 Okt

Hari ini adalah hari pembagian rapor. Ify duduk di kelasnya dengan khawatir. Dia tidak yakin nilai rapornya akan bagus. Dalam hati kecilnya dia tidak ingin membuat Alvin dan mamanya kecewa. Tapi, setidaknya kali ini dia sudah berusaha. Pak Donny masuk ke kelas sambil membawa rapor dan banyak kartu pos. beliau meletakkan rapor dan kartu pos tersebut di mejanya dan berjalan ke papan tulis.

    “Hari ini kalian akan mendapatkan hasil belajar kalian selama satu semester ini!” kata Pak Donny, “tapi sebelumnya ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan! Sebagaimana yang telah kita ketahui, di seberang sekolah kita telah dibuka kantor pos baru. Mereka ingin memberikan kartu pos pada kita sebagai kenang-kenangan.” Lalu Pak Donny meletakkan setumpuk kartu pos di meja terdepat masing-masing baris. “Bapak yakin kalian akan menikmati liburan kalian setelah pembagian rapor ini. Jadi kartu pos ini dapat kalian gunakan untuk mengirim kabar pada teman kalian saat kalian pergi ke luar kota atau luar negeri!”

    Ify melihat sekilas kartu posnya yang berwarna biru, lalu memasukkannya ke tas.

    “Nah,” kata Pak Donny, “sekarang Bapak akan membagikan rapor berdasarkan urutan nama kalian. Bagi yang namanya dipanggil silakan maju ke depan.” Jantung Ify berdebar-debar kencang saat akhirnya namanya dipanggil. Pak Donny menatap murid yang duduk di hadapannya. Dia membuka rapor di tangannya.

    “Bapak tidak tahu harus mengatakan apa!” kata Pak Donny menarik napas.

    Melihat ekspresi Pak Donny, Ify merasa putus asa.

    “Nila-nilaimu memang masih kurang!” kata Pak Donny, “tapi Bapak tahu kau sudah berusaha. Kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki nilaimu semester depan. Walau begitu Bapak tetap merasa senang karena tidak ada satu pun nilai merah di rapormu.”

    “Tidak ada yang merah?” tanya Ify terkejut.

    “Ya!” kata Pak Donny sambil tersenyum. “Kelihatannya kau sudah berusaha memperbaiki nilaimu dibandingkan tahun lalu. Bapak tahu kau bukan anak yang bodoh dan sampai saat ini Bapak tidak menyesal karena telah memberikan kesempatan padamu untuk membuktikan hal itu pada dirimu sendiri. Jadi semester depan, cobalah berusaha lebih baik lagi!”

    Pak Donny menunjukkan rapor Ify padanya. “Ini! Kau bisa melihat sendiri!”

    Ify melihat nilai-nilai di rapornya. Memang banyak nilali enam, tapi tidak ada nilai merah. Satu-satunya nilai yang bagus hanyalah nilai olahraga. dia mendapat angka delapan untuk pelajaran tersebut.

    “Berjuanglah semester depan, Ify!” Pak Donny member semangat.

    “Terima kasih, Pak!” Ify tersenyum.

    Ify keluar dari kelas sambil tersenyum. Memang nilainya masih jauh dari sempurna, tapi dia benar-benar sudah berusaha. Dan saat ini dia bangga akan hasilnya. Alvin sudah mengingatkannya dari pagi bahwa dia ingin melihat rapor Ify.

    Ify tidak melihat Alvin di kelasnya.

    “Kau tahu dimana Alvin?” tanya Ify pada salah seorang teman sekelasnya.

    “Oh! Dia dipanggil ke ruang guru!” katanya.

    Ify langsung pucat. Ada apa? Tanyanya panik. Apakah gara-gara nilai rapor Alvin yang menurun?

Ify berlari ke ruang guru. Dia menunggu sampai Alvin akhirnya keluar.

    “Alvin!” sapanya. “Kenapa kau dipanggil? Memang ada masalah dengan nilai rapormu?”

    Alvin mengangguk tanpa semangat. Tangannya memegang rapornya dengan lemas.

    Ify berusaha menghibur. “Tidak apa-apa, Alvin. Kan masih ada semester depan. Kau pasti bisa berusaha lebih baik lagi di semester depan. Pasti nilainya tidak akan lebih parah dari nilai raporku, kan?”

    Alvin menatap Ify dengan serius. “Bagaimana rapormu?”

    Ify memberikan rapornya pada Alvin. “Tidak jelek! Setidaknya tidak ada nilai merah sama sekali! Semester depan kita berusaha bersama-sama, oke!”

    Alvin melihat rapor Ify perlahan-lahan. “Aku senang tidak mendapatkan nilai merah!”

    “Boleh aku melihat rapormu?” balas Ify.

    Alvin menggeleng.

    “Ayolah!” paksa Ify. “Tidak akan seburuk itu, kan?”

    Alvin tetap menggeleng.

    Ify penasaran dan direbutnya raport Alvin dari tangannya.

    “Ify!”

    Tapi Ify berhasil menghindari tangan Alvin dan membuka rapor cowok itu. Ify terkejut melihat rapor Alvin. Dia menutup matanya, lalu memandang sekali lagi untuk memastikan.

    “Nilaimu tidak ada yang jelek!” kata Ify akhirnya. “Semuanya dapat nilai Sembilan!”

    “Memang!” kata Alvin santai.

    “Kalau begitu kenapa kau dipanggil ke kantor guru?” tanya Ify bingung.

    Alvin akhirnya tertawa. “Aku tadi hanya ingin menggodamu. Aku dipanggil ke sini karena para guru mau kasih hadiah atas prestasiku sebagai juara umum.”

    “Hah??? Juara umum???” tanya Ify. “Jadi… kaubohongi aku ya tadi???”

    Alvin mengangguk. “Aku tidak menyangka bisa menipumu!”

    Ify cemberut kesal. “Sebel!!”

    “Aku hanya ingin bercanda!”

    “Tunggu dulu, ada yang tidak aku mengerti!” kta Ify sambil berpikir. “Waktu itu kan kau tidak ikut ujian fisika!”

    “Hei, Non, ada yang namanya ujian susulan!” jawab Alvin.

    “Bagaimana dengan nilai olahragamu?” tanya Ify bingung, “Kok bisa dapat nilai sembilan? Bukannya kau tidak bisa mengikuti olahraga!”

    “Pak Guru memberikan tugas lain untukku!” kata Alvin. “Kliping tentang olahraga!”

    Ify akhirnya mengerti. Ify merasa Alvin bukan orang sembarangan. Dalam kondisi sakit pun dia bisa menjadi juara umum. Ify masih kalah jauh kalau dibandingkan dengannya.

    Mereka berjalan ke taman sekolah dan duduk di bangku.

    “Kau dapat katru pos hari ini?” tanya Alvin memulai. “Punyaku warna kuning!”

    Ify mengangguk dan mengeluarkan kartu pos birunya dari tas. Alvin juga menunjukkan kartu posnya.

    “Aku suka biru!” kata Alvin.

    Ify mengambil kartu pos di tangan Alvin, menukarnya dengan kartu pos di tangannya. “Nah, sekarang kau punya yang biru!”

    Alvin tertawa. “Terima kasih! Jadi… kau akan pergi ke mana liburan ini? Menemui papamu?”

    “Entahlah, aku belum memutuskan!” kata Ify.

    “Kalau kau sudah memutuskan, bawa kartu posmu dan kirimkan padaku. Tulis semua yang kaukerjakan. Oke?”

    “Sip!” kata Ify.

    Mereka terdiam beberapa saat. Alvin menarik napas dalam-dalam.

    “Ify…,” kata Alvin tiba-tiba, “ada yang harus aku katakan padamu.”

    “Apa?”

    Alvin menarik napas lagi. “Kemarin Papa berbicara padaku. Para dokter menyarankan agar aku menjalani operasi jantung.”

    “Kenapa?” protes Ify. “Bahkan kau baik-baik saja? Minggu kemarin kau keluar dari rumah sakit karena kau sudah membaik, kan?”

    Alvin menggeleng. “Kemarin aku menjalani pemeriksaan lagi. para dokter menyimpulkan aku harus menjalani operasi.”

    “Apakah begitu parah?” tanya Ify sedih.

    “Aku sungguh tidak tahu!” kata Alvin. “Operasi ini sangat berisiko. Papa tidak mau aku menjalaninya, tetapi ada kemungkinan aku bisa hidup sehat setelah menjalaninya!”

    “Tapi ada kemungkinan kau juga bisa meninggal!” Ify menyelanya.

    Alvin mengangguk.

    “Kalau begitu jangan dioperasi!” seru Ify. “Setidaknya kau masih bisa hidup lebih lama lagi, kan?”

    Alvin menatap mata Ify. “Aku sudah memutuskan untuk menjalani operasi, Ify!”

    “Mengapa?!!” teriak Ify. “Kau bisa meninggal, Alvin!!”

    “Aku tahu!” balas Alvin keras.

    Alvi ingin meraih tangan Ify, tapi Ify menepisnya. Ify menangis di hadapan Alvin. “Dulu Papa yang pergi, sekarang kau yang akan pergi! Aku tidak mau!!! Aku benci dirimu!!! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!!!”

    Ify berlari meninggalkan Alvin.

    “Ify!!!” teriak Alvin putus asa di belakangnya.

    Ify tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Orang yang disayanginya akan pergi lagi meninggalkannya. Ify tidak mau mengalaminya untuk kedua kalinya.

    “Mengapa?!?” teriaknya sambil mendongakkan kepalanya ke langit. “Ini sungguh tidak adil! Alvin adalah anak yang baik, kenapa dia harus menanggung semua ini?”

    Ify pulang ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya, lalu menurup pintunya dengan keras. Saat ini dia tidak ingin diganggu siapa pun.

    Ify membenamkan mukanya ke bantal. Dia menangis keras-keras. Setelahnya dia berdiam diri. Seharusnya aku tidak berteman dengannya, teriak Ify dalam hati, aku toh sudah tahu kalau dia punya penyakit mematikan. Aku saja yang bodoh. Aku harus berusaha melupakannya. Aku tidak mau ada orang yang menyakitiku lagi.

    Ify mengambil bantal di sebelahnya dan melemparnya ke lantai. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Untuk apa memedulikannya! Kalau dia mau diperasi, operasi saja, apa hubungannya denganku? Toh itu nyawanya. Aku tidak mau berteman dengannya lagi. berapa kali aku harus melakukan kesalahan? Menyayangi seseorang itu terlalu menyakitkan.

 

***

 

Sementara itu Alvin merasa sedih oleh epnolakan Ify. Tetapi dia tahu saat ini sahabatnya itu sebetulnya ketakutan. Alvin berjalan ke ruang music dan melihat piano di depannya. Dia mendekatinya dan duduk di sana sambil memangkukan tangannya di atas piano. Dia merasa tidak berdaya karena tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan untuk meringankan beban di hati gadis itu. Ify harus mengatasinya sendiri, kali ini Alvin tidak bisa membantunya. Alvin menarik napas panjang.

 

***

 

Ify berjalan bolak-balik di kamarnya selama beberapa menit terakhir. Dia kesal sekali. Dia merasa dikhianati teman terbaiknya. tega-teganya dia memutuskan sendiri ingin dioperasi tanpa memberitahuku? Bukankah kami berteman kenapa dia ridak menanyakan pendapatku dulu?”

    Ify akhirnya dudul di meja belajarnya dan mendesah. Perasaannya saat ini hampir sama seperti saat papanya pergi ke luar negeri. Tapi kali ini hatinya lebih sakit. Setidaknya dia bisa menemui papanya suatu hati nanti. Tapi lain halnya dengan Alvin. Kalau operasinya tidak berhasil, Ify tidak akan bertemu lagi dengannya.

    Aku tidak boleh menemuinya lagi! kata Ify sambil memandang cermin. Lebih baik aku pergi saha ke luar negeri dan tinggal dengan Papa. Aku tidak mau tahu apa yang terjadi padanya. Ya, itu keputusan terbaik.

    Lalu menyapa hatinya terasa hampa? Tanpa sengaja tatapan Ify jatuh pada CD di depannya. Hadiah ulang tahun dari Alvin. Ify mengambilnya, berniar melemparnya ke lantai. Ketika tangannya sudah terangkat, niatnya terhenti. Ify menggenggam CD itu dengan erat. Ia tidak bisa melakukannya. Sama halnya ia tidak bisa meninggalkan Alvin. Ify menangis lagi. setelah itu dia keluar dari kamarnya sambil berlari sekencang-kencangnya.

 

***

 

Alvin menyentuh tuts pianonya dengan jarinya. Alvin menutup matanya dan membukanya kembali. Dalam benaknya teringat kenangan bersama Ify di ruang music ini. Dia akan membawa kenangan itu bersamanya apa pun yang terjadi. Jarinya kemudian memainkan lagu Do-Re-Mi, lagu yang sangat disukai Ify.

 

***

 

Ify bernapas terengah-engah. Dia mencari Alvin di taman sekolah, tapi tidak menemukannya. Sudah pulangkah dia? Tanyanya dalam hati.

    Saat ini dia mendengar suara piano dari ruang music. Ify berjalan perlahan mendekati ruangan itu. Ketika sampai di depan pintu, Ify melihat Alvin sedang memunggunginya dan memainkan music kesukaannya. Semua kenangan pertemuan mereka bermunculan di benaknya. Ify menatap punggung Alvin dengan kesedihan yang mendalam.

    Seakan-akan menyadari dirinya tak sendirian, Alvin menghentikan permainan pianonya dan membalikkan badannya. Dilihatnya Ify sedang manatapnya dengan sedih.

    “Aku kira kau tidak mau meliatku lagi!” kata Alvin memulai.

    Ify melangkahkan kakinya mendekati Alvin. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?”

    “Apa?”

    “Kenapa kau memutuskan untuk dioperasi padahal itu membahayakan nyawamu?”

    “Karena aku ingin punya kesempatan untuk sembuh dan menemanimu!” kata Alvin singkat.

    Ify menangis mendengarnya. “Dulu aku tidak pernah takut karena aku tidak pernah memedulikan apa pun. Sekarang setelah bertemu denganmu, aku takut kehilangan segalanya. Aku takut sekali, Alvin!”

    “Kaukira aku tidak takut?” tanya Alvin lembut.

    “Tentu saja kau pasti takut!” kata Ify mengerti. “Kau bisa kehilangan nyawamu!”

    Alvin menggeleng. “Bukan itu yang aku takutkan. Aku tidak takut mati, Ify. Aku sudah bhisa menerimanya sejak dahulu. Itu hanya masalah waktu saja. Yang paling aku takutkan adalah kehilanganmu!”

    “Alvin…,” kata Ify lemah, tidak tahu harus berkata apa lagi. “Aku juga takut kehilanganmu! Amat sangat takut!”

    “Aku tetap akan menjalankan operasi itu Ify!” tegasnya.

    Ify mengangguk. “Aku tahu! Aku akan menemanimu!”

    Alvin menggenggam tangannya. “Terima kasih!”

    “Kapan operasinya?” tanya Ify kemudian.

    “Minggu depan!” kata Alvin.

    “Secepat itu?!” tanya Ify gusar.

    “Aku rasa lebih cepat lebih baik. Kondisi jantungku samakin memburuk, Ify. Jadi aku ingin meakukannya sebelum terlambat. Besok aku sudah harus berada di rumah sakit.”

    Saat ini Ify ingin menghibur Alvin. Lalu dia tertawa.

    “Kenapa tertawa?” tanya Alvin ingin tahu.

    “Aku hanya merasa lucu, karena untuk pertama kalinya aku liburan di rumah sakit. Pengalaman unik, lain daripada yang lain!”

    Alvin ikut tertawa. “Aku selalu liburan di rumah sakit! Tapi tumah sakit tidak terlalu jelek kok, kau bisa makan di kantin yang tidak ada duanya. Menggoda suster malam-malam dengan berkeliaran di lorong-lorong rumah sakit sambil membungkus tubuhmu dengan seprai putih.:

    “Wah, kelihatannya menarik!” kata Ify tertawa terbahak-bahak.

    “Ternyata kau nakal juga ya!” kata Ify. “Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan di rumah sakit tanpa diomeli karena kau sedang sakit!”

    Alvin terdiam lagi.

    “Ada apa?” tanya Ify.

    “Hanya satu hal yang tidak bisa aku lakukan di rumah sakit!” kata Alvin mengakui.

    “Apa?” Ify penasaran.

    “Aku tidak bisa merasakan kehidupan normal seperti orang lain!” kata Alvin jujur.

    Ify menatap Alvin dengan sedih dan menggenggam tangannya.


 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: