3600 Detik versi ICIL : Bab 7 “Ujian”

16 Okt

IFY menguap lebar di kamarnya. Rumus-rumus fisika bertebaran di pikirannya. Baru jam Sembilan malam tetapi melihat buku pelajaran di depannya benar-benar membuatnya mengantuk. Bagaimana mungkin aku menghafal semuanya? Batin Ify putus asa. Besok adalah ujian terakhir semester ini. Ify melihat cermin di sebelahnya. Matanya sudah merah, wajahnya kusut, san rambutnya berantakan. Sepertinya besok dia akan bisa mengerjakan ujian dengan baik. Ify mendesah lagi. Dia sudah minum dua cangkir kopi tapi tetap saja matanya tidak bisa melek. Untuk sementara ditutupnya buku di depannya dan dipejamkannya matanya sebentar. Aku perlu istirahat, katanya.

    “Ify!” teriak mamanya dari lantai bawah. “Telepon untukmu!”

    Ify mengambil telepon yang ada di samping tempat tidurnya. “Halo!” katanya sambil menguap.

    “Wah, kau kedengaran mengantuk!” kata suara di ujung telinganya.

    “Alvin!” katanya tanpa semangat. “Ada apa menelepon kemari?”

    “Aku hanya ingin menanyakan kabarmu!” katanya. “Bagaimana hasil belajarnya?”

    “Payah!” jawab Ify terus terang.

    “Kau mau aku membantumu ke sana?” tanya Alvin menawarkan bantuan.

    “Tidak! Tidak!” bantah Ify. “Aku kapok diajari olehmu! Aku hanya perlu istirahat sebentar!”

    Alvin tertawa. “Jangan-jangan kau malah ketiduran!”

    “Mungkin!” sahut Ify. “Sudah minum dua cangkir kopi tetap saja mengantuk. Sepertinya aku harus mengingat hal ini kalau-kalau aku tidak bisa tidur kapan-kapan.”

    Alvin tertawa lagi. “Ayolah, tidak mungkin separah itu! Kalau kau sudah penat, jangan dipaksa. Kalau kau masih mengantuk juga, coba saja cuci mukamu dengan air dingin!”

    “Yah! Barangkali aku bisa mencobanya!” kata Ify.

    “Aku meneleponmu karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat besok!” kata Alvin. “Karena ujian sudah berakhir, bagaimana kalau kita makan bareng di restoran yang baru buka di dekat sekolah itu?”

    “Oh ya, ide bagus!”

    “Aku tunggu kau sepulang sekolah!”

    “Oke!” Ify menjawab antsias. “Omong-omong kau sendiri tidak belajar?”

    “Oh, aku sih sudah selesai satu jam yang lalu!” kata Alvin tenang.

    “HAH?? Satu jam yang lalu?” tanya Ify terheran-heran. “Kok bisa?”

    “Aku memang cepat kalau menghafal!” kata Alvin. “Lagian otakku lebih encer disbanding punyamu!”

    “Apa kau bilang?? Enak saja!”

    “He, kenapa marah?!” kata Alvin lagi sambil menahan tawa. “Itu kan kenyataan. Menghafal rumus saja kau tidak masuk-masuk!”

    “Aku akan buktikan kalau besok aku bisa mengerjakan ujian dengan baik!” tantang Ify. “Sekarang juga aku akan belajar. Dadah!”

    Ify menutup teleponnya dengan kesal.

    Memangnya hanya dia yang punya otak encer? ujar Ify kesal. Aku juga bisa menghafalnya kalau mau berusaha. Iya, kan? tanyanya pada diri sendiri sambil memandang cermin.

    Ify melihat buku di depannya dan meringis. Dia mengangkat bahu dan mulai membuka buku itu lagi dengan malas.

    Ketika Ify terbangun keesokan harinya, dia kaget karena kesiangan. Ify berpakaian tanpa sempat mandi dan tiba di kelasnya sesaat sebelum ujian dimulai. Ia menarik napas lega.

    Soal ujian dibagikan dari depan ke belakang. Saat kertas itu tiba di mejanya, Ify memandang kertas itu dengan ngeri. Semua rumus yang telah dihafalnya semalam setelah diselingi minum kopi dan cuci muka dua kali, hilang semua.

    Oke. Tenang, jangan panik! Katanyamenenangkan diri sendiri. Aku harus tenang dan rumus-rumus itu akan datang dengan sendirinya! Ify menutup matanya selama satu menit untuk menenangkan diri. Ketika dia membuka matanya lagi, dia tetap tidak mengingatnya.

    Dua jam kemudian, Ify berjalan ke luar ruangan dengan langkah loyo. Tenaganya sudah terkuras menyelesaikan soal-soal di dalam tadi. Walaupun dia mengakui soal yang berhasil dijawabnya, tetapi sebagian besar dia tidak mengerti sama sekali.

    Tetapi kemudian dia tersenyum saat teringat janjinya bersama Alvin sepulang sekolah. Ify menghampiri kelas Alvin sambil berlari gembira. Matanya menyapu ruang kelas, tetapi yang dicarinya tidak berada di sana.

    “Hei!” katanya pada salah satu teman sekelas Alvin. “Kau lihat Alvin tidak?”

    Teman sekelas Alvin menjawab, “Kau belum tahu ya? Kemarin malam Alvin dibawa ke rumah sakit. Katanya kini ia dirawat di ICU!”

    Ify terpaku mendengar berita tersebut. Dia mati rasa. Semalam Alvin masih sempat bercanda dengannya. Hari ini dia sudah berada di rumah sakit. Ify berlari sekencang-kencangnya keluar dari sekolah dan menyetop taksi pertama yang ada di depannya.

    Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, jantung Ify berdetak tidak beraturan. Dia berdoa semoga Alvin tidak apa-apa. Ify menerobos masuk rumah sakit setelah tiba di sana. Di depan ruang ICU Ify melihat Papa Alvin sedang duduk sambil menutup wajahnya. Ify mendekatinya sambil terengah-engah dan duduk di damping lelaki itu.

    “Oom!” katanya sambil menelan ludah. “Bagaimana keadaan Alvin?”

    Papa Alvin membuka matanya dan menatap Ify. “Dia sekarang sedang tidur. Keadaannya sudah stabil!”

    Ify mendesah juga. “Syukurlah kalau begitu!”

    “Jantungnya sempat berhenti tadi pagi!” kata papa Alvin sedih.

    Ify hampir menangis mendengar berita itu.

    “Aku ayah yang payah!” desah papa Alvin. “Aku bisa menyelamatkan nyawa orang lain, tetapi nyaris tidak mampu menyelamatkan nyawa anakku sendiri. Sungguh ironis, bukan?”

    Ify menghibur lelaki di sampingnya. “Oom nggak payah kok! Alvin saja bercita-cita ingin menjadi dokter seperti Oom!”

    “Oya?” Papa Alvin sedikit terhibur.

    Ify mengangguk. “Oom, bolehkah saya menjenguk Alvin?”

    “Kenapa kau tidak tunggu dia bangun?” saran sang dokter.

    “Saya ingin melihatnya sekarang!”

    Papa Alvin mengangguk. “Oke. Masuklah!”

    Ify memasuki ruang ICU perlahan-lahan. Di tempat tidur yang diletakkan di tepi dinding kaca dia melihat Alvin. Ify mendekat ke arah kaca dan melihat Alvin sedang tertidur. Ify menatap Alvin dengan sedih. Disentuhnya kaca di depannya dengan tangannya. Dia ingin menyentuh Alvin. Ify ingat ejekan Alvin semalam sebelum dia menutup telepon. Dia tidak bisa percaya pemuda itu kini berada di balik kaca dan sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

    “Cepat sembuh, Alvin!” kata Ify pelan. “Kalau sudah sembuh, kau boleh mengejekku semaumu! Aku tidak akan keberatan!”

    Seakan-akan bisa mendengar suaranya, Alvin membuka matanya.

    Ify melihatnya lebih dekat lagi.

    Alvin memandang ruangan di sekitarnya dengan bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah dia sedang menelepon Ify dan kemudian mamanya memanggilnya untuk turun ke ruang tamu. Saat menutup telepon, Alvin yakin dia sedang berjalan membuka pintu kamarnya ketika tiba-tiba dia merasakan nyeri yang sangat di dada hingga membuatnya pingsan.

    Sudah berapa lama aku di sini? Tanyanya dalam hati.

    Kemudian pandangannya beradu dengan mata Ify yang menatapnya dengan sedih. Alvin tertawa lemah. Dari seragam sekolah yang dipakai gadis itu, Alvin tahu Ify belum sempat pulang ke rumahnya.

    “Hai!” kata Alvin lemah.

    Ify tidak bisa mendengar perkataan Alvin dari balik kaca, tapi dia bisa membaca gerakan bibir pemuda itu.

    “Hai!” balas Ify.

    Senyum Ify menghangatkan hati Alvin. Ify memerhatikan Alvin yang berusaha menaikkan ranjang tidurnya supaya bisa berhadapan dengannya.

    Karena Alvin tidak bisa mendengar suaranya, Ify menggerakkan tangannya di kaca dan menulis dengan jarinya. Alvin melihat gerakan jari Ify.

    SAKIT?

    Alvin memberikan jawabannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Ify.

    TIDAK LAGI.

    Keduanya tersenyum.

    Alvin teringat kalau hari ini seharusnya dia mengikuti ujian fisika di kelasnya. Lalu dia menggerakkan jarinya lagi.

    UJIAN?

    Ify terdiam sesaat ketika melihat tulisan itu. Alvin menanyakan tentang ujian tadi pagi. Terus terang Ify tidak bisa mengerjkannya dengan baik. Tapi demi kebaikan Alvin dia berbohong.

    Ify tersenyum ceria sambil mengangkat jempolnya, menandakan dia bisa mengerjakan ujiannya dengan baik.

    Alvin tersenyum tertahan, lalu menulis lagi dengan jarinya.

    BOHONG

    Saat itu juga Ify tertawa. Rupanya dia tidak bisa menipu Alvin sebaik apa pun dia berbohong. Alvin meletakkan telapak tangannya di kaca. Perlahan-lahan Ify mengangkat tangan kirinya di kaca itu sampai telapak tangan mereka berdua bertemu. Mereka bertatapan tanpa berkata apa-apa setelah itu.

***

Lima hari kemudian, Alvin membereskan barangnya dari lemari rumah sakit. Ify mengetuk pintu ruangan dengan gembira. Hari ini Alvin akan pulang dari rumah sakit. Para dokter mengatakan kesehatan Alvin pulih dengan cepat. Mereka tidak tahu penyebabnya, karena waktu masuk, kondisi Alvin sangat parah. Mereka menyebutnya sebagai keajaiban.

    Apa pun itu Ify tidak peduli, yang penting Alvin sudah bisa pulang ke rumahnya dan sudah sehat. Ketika Ify mengatakan bahwa para dokter menganggap kasus Alvin merupakan keajaiban karena sembuh secara cepat, Alvin hanya tersenyum.

    “Mungkin belum waktunya!” kata Alvin tenang.

    Mendengar jawaban itu, Ify menatap Alvin yang sedang membereskan bajunya.

    “Sini, biar aku bantu!” kata Ify.

    “Terima kasih!” ucap Alvin sambil tersenyum. “Mungkin sebentar lagi Pak Budi menjemput!” kata Alvin. “Aku mau menunggunya di depan pintu rumah sakit. Jadi Pak Budi tidak usah parkir lagi. Aku sudah tidak sabar ingin keluar dari sini!”

    Ify mengerti perasaan Alvin. “Kalau begitu, ayo kita pergi!” Ify menutup resleting tas Alvin dan mengangkatnya.

    “Biar aku yang bawa!” kata Alvin mau mengambil tasnya.

    “Kau kan baru sembuh!” Ify menepis tangan Alvin. “Aku saja yang bawa!” Lalu Ify bergegas keluar dari kamar Alvin sebelum mereka sempat berdebat lagi. Alvin mengangkat bahu melihat tingkah Ify dan mengikutinya.

    Setelah lima menit menunggu di depan rumah sakit dan tidak ada tanda-tanda mobil Alvin muncul dari pintu gerbang, Ify berkata padanya, “Alvin sebaiknya kita masuk saja dahulu!”

    Alvin menggeleng. “Aku tidak mau masuk lagi ke dalam sana setelah aku bisa keluar sekarang!”

    Ify menatap hujan yang turun dengan deras. “Tapi cuacanya dingin sekali!”

    “Tenang saja,” kata Alvin, “sebentar lagi juga Pak Budi datang kok!”

    Ify tidak berargumen lagi dengan keinginan Alvin, jadi dia meletakkan tas Alvin di lantai dan membuka jaketnya.

    “Ini!” serunya. “Pakailah!”

    Alvin membelalak menatap jaket yang ditawarkan Ify. Dia melihat jaket merah Ify dengan tatapan tidak percaya. Warnanya merah mencolok dan di depannya terdapat gambar kartun seorang gadis yang sedang menampakkan gigi ompongnya. Jaket itu bertuliskan “Are you ready for school.”

    Alvin menggeleng ngeri. “Aku tidak akan memakainya!”

    Ify tersenyum sesaat. “Kau harus pakai! Nanti kalau kau kedinginan dan sakit lagi,bagaimana?”

    Alvin mundur satu langkah menghindari tangan Ify yang mengulurkan jaketnya. “Aku rasa aku lebih baik kedinginan saja!” kata Alvin.

    “Aku tidak akan membuarkanmu sakit lagi!” sanggah Ify. Dia menangkap tangan Alvin dan mengenakan jaket merahnya ke badan cowok itu dengan cepat. Alvin tidak sempat menghindar. Tahu-tahu Ify sudah menutup ritsleting jaket di badannya.

    “Nah!” kata Ify sambil menepuk tangannya dua kali. “Selesai!”

    Alvin memandangnya dengan tatapan tidak suka.

    Seorang pengunjung rumah sakit yang tiba di depan mereka menatap Alvin sambil menahan tawa. Jelas-jelas pria tersebut melihat jaket yang dikenakannya.

    Alvin semakin cemberut.

    “Ayolah!” kata Ify menghibur. “Tidak seburuk itu kok!”

    Tapi lima menit kemudian Ify tertawa terbahak-bahak, ia tidak bisa menahan diri lagi. pemandangan di sebelahnya akan membuat siapa pun tertawa. Seorang cowok dengan jaket yang sangat imut. Orang-orang pasti mengira Alvin punya selera yang aneh.

    Mendengar tawa Ify, Alvin semakin kesal.

    Ify membisikkan sesuatu kepada Alvin. “Anggap saja itu balasan atas sandal konyol yang kauberikan padaku tempo hari!”

    “Tapi itu lain!” Alvin protes. “Kau langsung pulang dengan mobilku tanpa bertemu siapa-siapa. Sekarang semua orang bisa melihatku!”

    Ify tertawa. “Aku tahu! Itu yang membuatnya semakin menarik!”

    Ketika Alvin mau membuka jaketnya, Ify mengancamnya. “Jangan coba-coba membukanya, Alvin!”

    Alvin mengurungkan niatnya mendengar ancaman Ify.

    “Ayolah!” kata Ify menyemangati. “Siapa tahu jaket ini akan menjadi tren kalau kaumemakainya!”

    Dalam hati Alvin mengumpat.

    Lima menit kemudian, mobil Alvin tiba. Dan dia tidak pernah merasa senang bertemu Pak Budi seperti ini sebelumnya. Alvin cepat-cepat masuk ke pintu penumpang. Ify mengikuti di belakangnya sambil terkikik geli.

    Di dalam mobil, Pak Budi juga memerhatikan jaket yang dikenakan Alvin tapi memutuskan untuk tidak berkomentar. Alvin menyuruh Pak Budi mengantar Ify ke rumahnya terlebih dahulu.

    “Istirahat yang banyak!” kata Ify ketika sudah tiba di depan rumahnya.

    Alvin mengangguk. “Masuklah!”

    Alvin memandang jaket yang dikenakannya sambil mendesah. Hari-hari bersama Ify memang tidak pernah membosankan. Sesampainya di rumah, Alvin disambut oleh mamanya di depan pintu.

    “Alvin!” Mama memeluknya. Lalu wanita itu memandang jaket yang dikenakan putranya sambil menahan tawa. Ia pun memutuskan untuk tidak mengomentari jaket itu.

    “Ayo masuk!” ajak Mama lagi.

    Mama rupanya telah menyiapka makanan dan minuman untuk Alvin. “Makan dahulu!” katanya.

    Alvin mengambil sendok yang disodorkan mamanya, lalu mulai makan, sementara Mama mengambil tas yang dibawa Alvin dari rumah sakit. Ia menguluarkan baju-baju putranya untuk di cuci.

    “Kau mau ganti baju sekarang?”

    Alvin menyentuh jaket yang dikenakannya. Entah mengapa dia merasa sayang melepaskan jaket itu setelah Ify tidak ada. Padahal tadi di rumah sakit dia ingin cepat-cepat sampai di rumah dan melepaskan jaket konyol itu.

    “Nanti saja, Ma. Aku mau makan dulu,” Alvin berbohong.

    Mamanya tersenyum mengerti dan keluar dari kamar.

***

Ify melangkah ke kamar mamanya. Hari ini hatinya sedang senang karena Alvin sudah keluar dari rumah sakit. Masih ada satu hal yang perlu dilakukannya. Dia mengetuk pintu kamar mamanya lalu masuk.

    Gina sedang bersiap-siap menghadiri pertemuan dengan para rekannya. “Ada apa, Ify?” tanya Gina ketika putrinya masuk.

    “Aku mau member sesuatu!” kata Ify.

    Ify memberikan bingkai foto yang dipegangnya pada mamanya.

    Gina menatap foto di dalamnya. Itu foto dirinya dan Ify saat putrinya mencoba gaun pesta di toko. Seorang pelayan toko ingin memfoto Ify mengenakan gaun tersebut dan memajang foto tersebut di tokonya. Lalu dia juga meminta berdua untuk berfoto.

    “Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih atas bantuan Mama waktu itu!” kata Ify menjelaskan. “Aku hanya punya foto ini untuk Mama!”

    “Oh, Ify!” Gina terharu. Dielusnya kepala putrinya dengan penuh sayang. “Ini indah sekali!”

    “Mama bisa memajangnya di meja kantor Mama!” kata Ify.

    “Terima kasih, Ify!” kata Gina senang.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: