Our Promise! (lanjutan dari cerpen Harapan Kosong)

8 Apr

***

Tiga tahun berlalu. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

***

Aku menatap sekolahku. Huft… nggak nyangka aku bisa masuk SMA favorit ini! Aku melangkah memasuki gerbang sekolah. Seminggu yang lalu, aku sudah menjali MOS yang benar-benar berbeda. MOS yang tidak menyiksa dan sangat mengasyikan. Minggu ini, kami para murid kelas 10 disuruh memilih ekskul. Dan yang membuatku kagum lagi dengan sekolah ini karena mengadakan ‘promo ekskul’ selama 3 hari, yang dimulai hari ini.

Tapi sedihnya, aku nggak kenal sama sekali murid-murid lain yang bersekolah di sini karena dulu SMP ku berada di kota Surabaya, dan sekarang aku diterima di SMA Internasional di Jakarta.

Benar-benar menyiksa! Pikirku dalam hati.

Dari belakang, aku mersa ada yang menepuk pundakku. “Hai!” Aku berbalik dan mendapati Cakka tersnyum lebar. Dia teman sebangkuku.

“Woy! Tumben telat, Cak?” Aku bertos ria dengan Cakka. Kami sudah sangat akrab. Dia orangnya baik hati dan nggak sombong, dan aku suka itu.

“Biasalah, kayak lo nggak tau jakarta aja! Macet neng tadi!” jawab Cakka dengan logat anak Jakarta yang kental.

“Duduk dulu yuk di sana! Aku capek nih!” aku menunjuk sebuah bangku taman. Dan aku segera menyeretnya.

“Iya, iyaa.. aduh, sakit nih tangan gue! Eh, lo bisa nggak sih kalo bicara sama gue itu pake lo-gue! Risih tau nggak kalo pake aku-kamu!”

“Yee.. Emang kamu siapa aku? Main nyuruh-nyuruh! Nggak mau ah! Enakkan pake aku-kamu! Wleek!” aku menjulurkan lidah kearahnya.

“Risih tauk! Kayak orang pacaran aja pake aku-kamu!” eh, yang bener aja? Apa hubungannya pake aku-kamu sama orang pacaran! Tapi, ogah lah ya dikira pacaran sama nih anak!

“Emang apa hubungannya coba?”

“Aduuuh, pokoknya ada hubungannya! Lo tinggal panggil gue dengan sebutan ‘lo’ dan manggil diri lo sendiri dengan sebutan ‘gue’ nggak susah kan?”

“Emmm, ntar deh. Liat-liat sikon! By the way, kamu mau ikut ekskul apa an?”

“Musik sama basket dong!”

Mataku terbelalak mendengar Cakka ingin ikut ekskul basket. “Emang kamu bisa main basket?”

“Emang ada yang ngelarang? impian gue itu jadi pemain basket di NBA! Lo aja yang belom pernah liat gue main basket! Kalo lo ikut apa?”

Emm, sebenarnya aku masih bingung mau ikut ekskul apa. “Nggak tau deh. Masih bingung!”

“Kenapa nggak ambil ekskul yang sama kayak gue?”

“Gila ya kamu! Suaraku itu cempreng banget! Aku juga nggak bisa main alat musik apa pun! Apa lagi basket! Pas stechingnya aja kira-kira aku bisa ngos-ngosan!”

“Gue bisa ajarin lo main piano!” Cakka menawarkan dengan sangat antusias. Dan pastinya aku sama sekali nggak antusias.

“Nggak minat ah! Lagian emang kamu bisa main piano? Nggak yakin deh aku!”

“Heh! Lu udah ngeremenih gue nggak bisa main basket, sekarang lu ngeremehin gue nggak bisa main piano! Gue nih masternya deh kalo soal piano!” kata Cakka dengan bangga sambil menepuk dadanya yang dibusungkan.

“Pret!”

“Lo perlu bukti? Ayo ikut gue sekarang!”

***

Aku benar-benar terhipnotis!

***

Cakka baru saja menyelesaikan permainan pianonya. Dia membawakan lagu U Smile-nya JB. Aku benar-benar terhipnotis! Nggak hanya menekan tuts-tuts piano saja! Dia juga menyanyikan lagunya!

Keren bangeeeet! Ajarin dooong!”

“Katanya tadi nggak yakin gue bisa main piano!”

Rese banget sih nih anak! “Ayolah Cak! Please!”

“Okay deh kali lo memohon!” sialan nih anak! Bener-bener! “tapi ada syaratnya!”

“Ah, masak kamu gitu sih sama temen sendiri, Cak.”

“Mau nggak nih?”

“Ya udah, emang syaratnya apa an?”

“Lu kudu ikut ekskul musik!”

“Ogaaaah!”

“Huft, ya udah deh kalo nggak mau.” Cakka berdiri dan hendak beranjak pergi.

Aku segera menahannya. “Ya udah aku ikut!” kataku sambil manyun.

***

Khawatir, benar-benar khawatir.

***

Hari ini, hari pertama pelajaran dimulai dengan normal. Dan hari ini pula aku nanti harus masuk kelas musik! Dan Cakka belum dateng. tapi sebentar lagi bel berbunyi. Ah, paling Cakka terlambat lagi. Pikirku dalam hati. Tapi kalau boleh jujur, aku khawatir sekali dengan keadaannya

Ternyata Cakka benar-benar tidak masuk hari ini! Hu-uh sial! Dia yang ngajakin ikut ekskul musik tapi di hari pertama malah nggak masuk!

Aku coba telepon deh! Tapi nomornya nggak aktif! Menyebalkan! Tapi seketika itu juga jantungku berdegub cepat. Keringat dinginku bercucuran.

“Dek, kamu mau ikut ekskul musik kan? masuk aja!” kata salah satu kakak kelas dengan ramah dan menunjuk kertas angket yang kubawa.

Astaga, tanpa sadar aku berjalan ke arah kelas musik dan sekarang sudah berada di depannya persis!

“Eh, anu, iya kak!” kataku tergagap dan melangkah masuk dengan ragu-ragu.

***

Lega sekaligus curiga.

***

Huft.. seminggu Cakka udah nggak masuk. Rasanya sepi banget.

“Oy!” seseorang melambaikan tangan ke arahku. Dan dia berlari ke arahku.

“Cakka!” Astaga! Cakka jadi kurus banget! “Ya ampun, Cak! Kemana aja kamu!! Katanya waktu itu kamu bakalan nemenin aku di kelas musik! Eh, kamu malah nggak masuk! Ngebelin deh!” aku mencubit lengan Cakka.

“Jiaah.. Sorry deh sorry! Jadi loe kangen nih sama gue?!”

“Ye! Sorry lah ya! Kamu kali yang kangen sama aku! Wlee! Eh, tapi, kamu kemana aja sih seminggu nggak masuk! Mana makin kurus aja nih!”

“Ah, perasaan lo aja kali! Elu tuh yang makin gembrot! Wakakak..”

“Ngajak berantem kamu! Enak aja aku dibilang gembrot! Tapi suer deh, Cak! Kamu jadi kurus banget!”

“Masuk yuk!” Cakka menggeret aku masuk menuju kelas.

Aku merasa Cakka menyembunyikan sesuatu dari aku. Tapi apa? Dan anehnya, dia mengenakan topi selama pelajaran berlangsung. Nggak Cuma itu, tapi dia juga bawa bekal!

“Ngapain ngeliatin gue terus?” tanya Cakka pada suapan ketiganya.

“Nggak papa! Tapi kenapa kamu pake topi? Mana nggak ditegur lagi sama guru-guru!” kataku sambil menunjuk topi yang dipakai Cakka.

“Lagi nge-ternd kali pake topi! Lu mau cobain masakan nyokap gue nggak?” Cakka menyodorkan kotak bekalnya ke arahku.

Aku menggeleng. “Tumben juga kamu bawa bekal?” tanyaku dengan nada penuh curiga. “Jangan bilang juga kalo bawa bekal itu lagi nge-trend!”

“Suka-suka gue dong!”

“Oya, Cak! Nanti hari pertama kamu masuk ekskul basket, kan? Aku boleh liat kamu main nanti ya!”

“Eh, nanti ya? Emm, boleh aja sih..”

***

Sebenarnya, apa sih yang kamu sembunyikan dari aku.

***

Aku berjalan disamping Cakka. Dan topinya masih setia berada di atas kepalanya. Lalu Cakka mengganti seragamnya dengan baju basket yang baru saja dibagikan.

Cakka benar-benar terlihat lebih keren dengan baju basketnya. Yah, tapi dia tetap mengenakan topinya! Padahal kan keren kalau nggak pake topi! Lagian emang ada ya? Orang main basket pake topi? Di lapangan Indoor begini juga?

Ternyata Cakka benar-benar jago! Tapi, waktu dia mau nge-shoot bola ke ring. Bolanya dilepas atau lebih tepatnya lepas dengan sendirinya dari tangannya. Dia kelihatan ngos-ngosan. Lalu dia keluar lapangan sambil menutupi hidungnya.

“Kok berhenti sih mainnya, Cak?” tanyaku pada Cakka. Dia tidak menjawab. hanya mengambil handuk dari tasnya (tanpa melepaskan tangan kirinya yang menutupi hidung) dan tersenyum. Dan segera berlari ke arah ruang ganti.

Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat kembali sama kayak waktu Cakka nggak masuk selama seminggu kemarin. Aku segera menyusul Cakka.

“Cak! Cakka! Kamu kenapaa!” teriakku sambil menggedor pintu ruang ganti yang tadi dimasuki Cakka.

“Gue nggak papa kok! Lu pulang aja duluan! Gue masih lama main basketnya! Oke?” Teriak Cakka dari balik pintu.

“Tapi kamu kenapa sih?”

“Kan gue udah bilang sih, Fy! Gue nggak papa!”

***

Sekarang, kamu nggak bisa menghindar lagi.

***

Ke esokan harinya, Cakka nongol di kelas sedetik sebelum bel berbunyi. Dia masih memakai topinya yang kemarin.

“Kemarin kamu kenapa sih, Cak? Kebelet pipis ya? Trus pulangnya kamu jam berapa kemarin?”

Cakka hanya tersenyum tipis. Dia terlihat agak gemukan. Syukurlah.

Berondongan pertanyaanku tadi nggak sempat terjawab karena guru matekamika sudah datang. Aku harus menahan diri sampai bel istirahat pertama berbunyi. Semoga aku tidak mati karena rasa penasaranku ini.

Waktu berlalu, dan berbunyilah bel istirahat.

“Cak, pertanyaanku tadi belom dijawab!”

“Hah? Emang tadi lu nanya apa?” Cakka malah nanya balik.

“Aduh, yang tadi pagi! Masak kamu udah lupa sih?”

“Yeee! Elu kan emang banyak nanya! Mau ingin tau bin sotoy!

“Terserah apa katamu deh! Tadi kan aku tanya..”

“Woy, Cak! Dipanggil Bu Enny tuh!” seru Ray. Bu Eni itu wali kelas kami.

“Oke! Eh, Fy, gue ke bu Enny bentar ya!”

Setelah Cakka menghilang, ku kira Cakka akan kembali ke kelas setelah Istirahat pertama ini selesai. Namun, Saat istirahat kedua hampir habis, dia nggak muncul-muncul juga. Ada apa ya?

Cakka baru muncul saat bel istirahat kedua berkahir berbunyi.

“Kemana aja, mas?” tanyaku keki. Kenapa sekalian aja nggak usah nongol sampai pulang! Hu-uh!

“Nggak kemana-mana mbak!”

“Jadi..” ah, sial! Guru sejarah sudah masuk terlebih dahulu sebelum aku bertanya pada Cakka. Aku tanya kan saja waktu pulang sekolah. Sekalian aku mau nebeng dia. Hehe.

Setelah 2 jam pelajaran penuh berakhir, kini saatnya untuk pulang sekolah! Akhirnya bebas bisa nanya-nanya ke Cakka! Aku menoleh ke arah Cakka. Dan seketika itu pula aku menjerit sambil menunjuk cairan merah yang keluar dari hidung Cakka. “CAKKAAA!”

Cakka kaget dan bertanya “Ada apa sih! Gue nggak budek!”

“Idungmu, Cak! Idungmu! Keluar darah!”

“Hah?” Cakka segera mengambil handuk kecil dari tasnya dan menutup hidungnya.

“Ayo ke UKS, Cak! Ayo!” kataku ngotot sambil narik-narik lengannya.

“Nggak perlu. Gue udah biasa kok. Santai aja kali.”

“Gimana bisa santai! Kamu mimisan! Ayo buruan!”

“Udahlah. Tenang aja! Gue udah biasa!”

“Udah biasa apanya sih, Cak? Aku baru pertama kali ini liat kamu mimisan! Mana bisa biasa aja! Kamunya juga nggak pernah kok sebelumnya mimisan, iya kan!”

“Aduuuh, kayaknya gue harus ngaku sekarang deh sama lo..” Cakka berhenti sejenak dan menarik napas. “Gue punya penyakit leukemia stadium akhir.”

“APAA!” aku kembali duduk di bangkuku. Dan entah mengapa air mataku mengalir dengan derasnya.

“Hey! Kamu kenapa? Jangan nangis dong! Aku nggak papa kok!”

“Aku takut, Cak!” kata ku lirih. “Aku takut kehilangan kamu..” suaraku bergetar dan tangisku semakin menjadi.

Cakka merangkulku. “Gue nggak akan pernah ninggalin lo kok, Fy! Tenang aja! I swear!”

***

Semoga, kamu menepati janjimu itu.

***

Seminggu kemudian.

Hari ini ulangan sejarah. Ditambah Cakka nggak masuk sekolah karena masuk rumah sakit! Gimana aku bisa konsen kalau begini!

Setelah menyelesaikan soal ulangan, tanpa memeriksanya kembali hasil ulangnku itu, aku segera membalik kertas ulangan dan pamit pada guru sejarah. Dan segera berlari menuju tempat parkir dan melajukan mobilku dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit. Aku bergidik ngeri. Aku benci rumah sakit. Aku benci warna putihnya. Aku benci juga bau obat-obatannya. Dan aku benci karena di tempat inilah aku berpisah dengan sahabatku di masa kecilku. Dan aku tak menyangka aku harus kembali ke tempat yang dicat serba putih ini. Dan aku nggak bisa membayangkan kalau aku akan kehilangan sahabatku untuk kedua kalinya ditempat ini!

Setelah bertanya pada suster dimana Cakka dirawat. Dan sempat kesasar. Sampai juga di pintu depan kamarnya Cakka. Aku mengetuk pintu, dan yang keluar adalah Mama Cakka.

“Permisi Tante, bagaimana keadaan Cakka?”

“Keadaannya memburuk. Tante bener-bener khawatir. Ohya, kamu temannya Cakka yang bernama Ify itu kan?”

“Eh, iya tante. Kok tau?”

“Cakka sering bercerita banyak soal kamu! Dan dari tadi dia mengigau manggil nama kamu”

Malu-maluin aja nih Cakka. “Boleh saya masuk tante?”

“Tentu! Tante tinggal dulu cari makanan ya!’

“Iya tante!”

Aku melangkah masuk ke kamar Cakka. Dia tidur dengan nyenyak dengan banyak kabel yang menghubungkannya pada alat-alat yang aku tidak tahu untuk apa itu dan botol infus.

Aku duduk dikursi samping tempat tidurnya. Dan berbisik “Gimana keadaanmu?”

Dan Cakka membuka matanya. “Gue tau, lo pasti dateng!”

“Eh, gue panggil mamamu dulu ya!”

“Nggak usah!”

Setelah itu, kami saling bertatapan.

“Gimana tadi ulangan Sejarahnya?”

“Gila! Parah banget, Cak! Kamu nggak masuk, sih! Aku jadi nggak bisa nyontek kamu!”

“Haha.. yang ada, gue yang nyontek elu!”

“Heuuh, tapi syukurlah kalo kamu nggak papa!”

“Siapa bilang gue nggak papa! Justru sekarang gue di rumah sakit ini pasti ada apa-apa! Tapi katanya lo benci banget sama rumah sakit. Gimana ceritanya bisa nyampek kesini?”

Aku cemberut. “Ya mau gimana lagi! Masak aku nggak jengukin kamu! Kejam banget itu namanya!”

“Haha..”

“Ya udah, aku pulang ya! Cepet sembuh ya, Cak!”

“Mana bisa sembuh, sembuh sama dengan gue mati, kalee! Haha!”

“Hust! Jangan ngomong sembarang ah!” aku rasanya jadi pengen nangis.

“Hey! Kenapa lagi? Kok nangis sih?”

“Habis..” kataku berusaha menahan air mata yang mau keluar “Kamu si bilang yang enggak enggak!”

“Yaelah, kan aku udah janji! Aku nggak akan ninggalin kamu! Sekarang kamu harus janji nggak boleh nangis lagi! Okay?”

***

Aku mohon. Jangan tinggalkan aku.

***

Seminggu kemudian.

Lagi-lagi Cakka nggak masuk! Aku telepon ah.

“Halo, Cak! Kenapa nggak masuk?”

“Nggak papa. Nanti lo pulang sekolah mampir ke rumah gue ya!”

“Emangnya ada apa an?”

“Nggak papa! Pokoknya gue tunggu ya! See you!”

Setelah bel pulang berbunyi, aku melajukan mobil menuju rumah Cakka. Tapi sayangnya terjebak macet. Huft! Menyebalkan!

Setelah setengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba dia meneleponku.

“Halo? Bentar ya, Cak! Kamu tunggu bentar lagi, ya! Aku lagi kejebak macet nih!”

Terdengar suara isakan disebrang. “Halo, Ify..” lho? Ini kan suara mamanya Cakka!

Astaga! Jantungku berdegub cepat lagi! Aduh. Ada apa ini! “Eh, Iya, halo tante.. maaf tadi aku kira Cakka..”

Kini suara isakan itu berubah menjadi tangis yang kencang. “Halo.. halo.. tante? Ada apa?” kali ini detak jantungku berdegup lebih kencang. “Tante! Ada apa, Tan?”

“Cak.. Cakka..” ucap mama Cakka sangat lirih dan terbata-bata.

“Iya tante. Cakka kenapa?”

“Cakka.. ma, masuk rumah sakit lagi, Fy!”

“APA?!! Ya udah, saya segera kesana, tan!”

***

Kau berbohong! Kau ingkar janji!

***

Sekarang aku berada di depan pintu kamar Cakka. Air mataku terus mengalir sejak aku memutar arah menuju rumah sakit. Aku mengetuk pintu kamar Cakka. Tak ada yang menjawab. Akupun memutuskan untuk masuk. Cakka sedang duduk di tempat tidurnya sambil tersenyum padaku. Kumohon. Itu bukan senyuman terkahir yang kulihat darimu! Kumohon. Air mataku mengalir semakin deras. Aku melangkah mendekati tempat tidurnya.

“Hey! Kenapa lo nangis sih?” Cakka mengulurkan sapu tangannya.

Aku meraihnya dan menghapus semua air mataku. “Kamu yang buat aku nangis! Kita kan janjiannya dia rumah kamu! Bukan di rumah sakit!” kataku dengan suara parau.

“Maunya sih gitu! Tapi.. ya udahlah! Ke taman yuk! Di sini tamannya bagus lho!”

“Tapi, kamu nggak papa?”

“Enggak kok! Tenang aja!”

Sesampainya di taman, Cakka mengjakku duduk dibangku taman itu.

“Huft…” Cakka menghembuskan nafasnya perlahan. “Mungkin, sekaranglah saatnya.” Ujarnya dengan pandangan lurus. Seakan dia tidak menghiraukan aku yang sedang duduk di sampingnya.

“Udah saatnya apa an, Cak?”

Dia menoleh padaku. Dan menatap mataku lurus-lurus. “Sorry ya, Fy!”

“Sorry kenapa sih, Cak?”

“Emm.. gue ambil sesuatu dulu ya! Ketinggalan di kamar tadi!”

“Gue temenin ya!”

“Nggak usah!”

Lalu Cakka berjalan dengan tenang menuju kamarnya. Namun 10 menit berlalu Cakka tidak kembali juga. Aku mulai khawatir. Jantungku tiba-tiba berdegub cepat. Lebih cepat dari yang sebelum-sebelumnya. Dan aku memutuskan untuk menyusul Cakka di kamarnya.

Di depan pintu kamarnya, Mama Cakka menangis sejadi-jadinya. Papa Cakka juga ada di sana. Dia memeluk Mama Cakka dan mengelus-elus punggungnya. Mencoba menangkan. Tapi Papa Cakka juga ikut menangis.

“Ada apa tante?” tanyaku pada Mama Cakka.

“Cakka..” tangis Mama Cakka Pecah.

“Cakka sudah nggak ada..” Papa Cakka mencoba menjelaskan hal yang barusan terjadi padaku dan menenangkan Mama Cakka.

Sementara aku benar-benar nggak bisa mencerna semua ini. Sebuah ranjang yang bisa di dorong keluar membawa tubuh Cakka keluar dari kamarnya. Ada bekas darah yang keluar dari mulut dan hidung Cakka, ada pula di tangannya. Aku menangis dan menghentikan ranjang tersebut dan memeluk erat-erat sahabatku itu. Tubuhnya dingin. Dan kaku. Tangisku makin pecah.

***

Selamat jalan, Cakka. Semoga kau takkan melupakanku.

***

Hari ini, aku baru saja pulang dari pemakaman Cakka. Sesampainya dirumah, aku segera masuk kamar dan menguncinya rapat-rapat.

Aku memandang kotak biru muda yang berada di atas tempat tidurku. Aku membukanya perlahan. Ada kertas terlipat berbentuk bola basket. Aku membukanya. Dan membacanya.

Dear Ify,

Sorry ya, kalau gue nggak bisa nepatin janji gue. Tapi gue harap lo bisa nepatin janji lo untuk nggak nangis. Lo boleh ngatain gue sepuas hati lo. Karna gue udah ingkar janji. Tapi gue harap lo tetep inget sama gue. Jangan pernah lupain gue ya, Fy! Eh, tapi sebenernya lo boleh nangis kok! Tapi pas cuman hari pemakaman gue doang ya! Setelah itu, lo janji nggak bakal nangis lagi! Okay?

Oya! Satu lagi, gue harap lo bisa temuin sahabat yang bisa jaga lo, Fy! Yang bisa nepatin janji-janjinya, trus yang bisa gantiin gue juga. Tapi ingat! Gue nyuruhnya buat cari sahabat baru! Bukan nyuruh lo lupain gue! Karna kalo lo lupain gue, gue bakal sedih banget.

Hug, Cakka.

p.s : ada CD buat lo! Tolong disetel ya setelah baca surat ini! Dan juga ada gelang. Gelang persahabatan! Semoga lo suka sama gelangnya, ya!

Air mataku mengalir. Aku mengambil CD yang terletak didasar kotak biru ini
dan menyetelnya di player-nya. Wajah tampan Cakka muncul.

“Hai Ify! Lo lama banget sih? Kemana aja!” aku melihat ada tanggal video itu kapan direkam. Hari saat Cakka mengajak aku ke rumahnya. Lalu dia mulai nyerocos lagi. “Padahal kan gue mau kasih lo hadiah! Mau tau hadiahnya apa? Okey, chek this out!” di video, Cakka berjalan menuju piano putih miliknya. Dan jari-jarinya mulai menari-nari diatas tuts-tuts hitam-putih itu. Kali ini lagu yang dimainkan adalah Rindukan dirimu yang liriknya sedikit diubah.

“Berjanjilah wahai sahabatku

Bilaku tinggalkan kamu

Tetaplah tersenyum

Meski hati

Sedih dan menangis

Kuingin kau tetap tabah menghadapinya

Bila ku harus pergi

Meninggalkan dirimu

Jangan lupakan aku….oooo

Semoga, dirimu disana

Kan baik-baik saja

Untuk selamanya

Disini aku kan selalu

Rindukan dirimu

Wahai sahabatku”

Tangisku pecah. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata. Tapi aku berjanji, aku tidak akan menangis seteah ini, Cak!

***

To Be Continue

2 Tanggapan to “Our Promise! (lanjutan dari cerpen Harapan Kosong)”

  1. kibiw 9 April 2011 pada 4:10 AM #

    yah cakka nya meninggal ~sedih~ tp ceritanya kereeen. btw bikin cerita cakka ify yg happy ending yaa hihi

    • 9cookiemonster7 15 April 2011 pada 7:52 PM #

      wah, thanks ya! insya allah bikin cakka-ify lagi, tapi gak sekarang ya🙂 soalnya masih sibuuuk -___-“

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: