3600 Detik versi ICIL : Bab 6 “Ulang Tahun”

2 Apr

IFY berlari-lari memasuki ruang kelasnya. Hari ini dia bangun terlambat. Sebetulnya jam beker di sebelah tempat tidurnya sudah berbunyi tapi Ify mematikannya dan kembali tidur. Saat dia terjaga untuk kedua kalinya, jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Ify meloncat dari tempat tidurnya secepat kilat. Mandi cepat-cepat, berpakaian, dan langsung berlari menuju sekolah. Saat tiba di depan pintu kelas, napasnya masih teregah-engah. Jam tangannya menunjukkan jam tujuh tepat, dan seketika itu juga bel berbunyi.

Untung masih sempat, katanya dalam hati.

Ify tertawa jikamengingat hari ini dia berusaha setengah mati supaya tidak terlambat masuk kelas. Padahal satu bulan yang lalu dia memang sengaja terlambat agar kemudian bisa membolos.

Hari ini Alvin akan keluar dari rumah sakit. Kabarnya siang ini juga dia akan masuk sekolah. Sepanjang hari itu Ify tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran. Pikirannya melayang pada Alvin. Kemarin dia pertama kali melihat Alvin jatuh tidak berdaya di depan panggung. Ify tidak menyukai perasaan itu. Hal itu tidak akan menjadi kali terakhir. Baru kali ini dia menyadari bahwa Alvin benar-benar sakit parah.

Sewaktu bel istirahat kedua berbunyi, Ify melesat pergi secepat kilat ke kelas sebelahnya, 3 IPA1. Matanya mencari-cari sosok yang dikenalinya, tetapi dia tidak menemukannya. Ify menarik napas kecewa. Apakah dia belum keluar dari rumah sakit? Tanyanya dalam hati. Mungkin pulang sekolah nanti aku harus menjenguknya lagi!

“Permisi, Non!” kata suara pelan di belakangnya, “Kau menghalangi jalan!”

Ify bersiap-siap untuk membentak siapa pun yang berada di belakangnya, ketika dilihatnya Alvin tengah berdiri sambil menenteng tas di bahunya.

“Ngapain di sini? Jadi penjaga pintu kelasku?” tanya Alvin sambil bercanda.

“Penjaga pintu?? Enak saja!” kata Ify. “Aku lagi menunggumu! Aku kira kau masih di rumah sakit!”

“Tadinya begitu!” kata Alvin menjelaskan. “Tapi aku bisa membujuk Papa supaya diizinkan sekolah! Aku bosan setengah mati di rumah sakit. Lagi pula aku sudah sehat kok!”

“Aku lega kau sudah tidak apa-apa lagi!” Ify tersenyum.

“Hei! Aku kan tidak akan menyerah segampang itu!” kata Alvin bersemangat, membuat ify jadi sangat lega.

“Oh ya!” kata Alvin kemudian sambil membuka ritsleting tasnya. “Aku punya sesuatu untukmu!”

Alvin mengeluarkan kotak kecil berbungkus kertas kado dari tasnya.

“Ini!” kata Alvin sambil menyodorkan pada Ify. “Selamat ulang tahun, Ify!”

Ify terpaku tidak bisa berkata apa-apa. Ulang tahun? Tanyanya dalam hati. Ify sendiri saja tidak ingat kalau hari ini dia berulang tahun.

“Bagaimana kay tahu hari ini aku ulang tahun?” tanya Ify bingung.

Alvin tersenyum senang. “Waktu itu kau pernah menunjukkan KTP-mu padaku dan aku mengingat-ingat tanggalnya!”

“Terima kasih!” kata Ify sambil menerima kado dari Alvin. “Aku akan menraktirmu sepulang sekolah nanti!”

“Benarkah? Aku jadi tidak sabar ingin cepat-cepat pulang!”

“Kau mau makan apa?”

“Apa saja boleh!”

“Kalau begitu nanti pulang sekolah kita pulang bersama, oke?”

“Oke!”

Ify tidak sabar menantikan bel pulang berbunyi. Dia sudah berencana akan membawa Alvin makan di restoran favoritnya. Saat bel sudah berbunyi, dia menunggu Alvin di depan kelasnya. Teman-teman sekelas Alvin memandang Ify dengan bingung karena Ify terlihat senyum-senyum sendiri.

“Ayo, pergi!” kata Alvin ketika melihat Ify.

Ify menuruni tangga berjajar dengan Alvin.

Di akhir tangga, Ify melihat Pak Donny berlari ke arahnya.

“Ify, untung kamu belum pulang!” katanya. “Mamamu masuk rumah sakit!”

“Apa?!” teriak Ify, wajahnya memucat.

“Tadi Bapak mendapat telepon dari kantor mamamu!” Pak Donny menjelaskan. “Mamamu pingsan di kantor. Saat ini dia sedang di rumah sakit! Sebaiknya kau segera ke sana!”

Ify berlari menuju gerbang sekolah.

“Ify, tunggu!” teriak Alvin sambil setengah berlari di belakangnya.

Ify berhenti melihat Alvin yang berlari ke arahnya. “Kau gila! Kau baru saja keluar dari rumah sakit! Kau tidak boleh berlari-lari seperti ini!”

Alvin terengah-engah. “Larimu cepat juga!”

“Alvin!” kata Ify. “Maafkan aku hari ini tidak bisa mentraktirmu, aku harus ke rumah sakit!”

“Aku tahu!” kata Alvin. “Itulah sebabnya aku memanggilmu. Kita ke sana naik mobilku saja! Ayo!”

Alvin menarik tangan Ify mendekati parkiran sekolah. Dia meminta Pak Budi agar mengantarkan mereka ke rumah sakit.

Epanjang perjalanan Ify meremas-remas tangannya dengan gugup. Walaupun dia tidak dekat dengan mamanya, tetapi dia benar-benar khawatir akan kondisi mamanya saat ini. Lalu rasa khawatir itu berubah menjadi rasa kesal. Bagus, Ma, batinnya kesal, kenapa Mama harus sakit saat ulang tahunku! Ini benar-benar hadiah yang sempurna!”

Alvin berusaha menenangkan Ify dengan menggenggam tangannya.

Saat mobil Alvin tiba di rumah sakit, Ify tak menunggu lagi, ia segera berlari masuk ke dalam.

Tanpa berlari, Alvin menyusul Ify ke dalam.

Mereka tiba di depan kamar mama Ify beberapa saat kemudian. Ify membuka pintunya dan melihat mamanya tengah berbaring, cairan infuse masuk melalui jarum tangannya.

Mendengar ada yang datang, Gina menoleh.

Diam-diam Ify merasa lega melihat mamanya tidak apa-apa.

Ify bediam diri sesaat, dan hal itu membuat Alvin memandang ibu dan anak itu dengan heran. Ia merasakan jurang pemisah yang begitu lebar di antara mereka berdua.

Alvin menggoyangkan tangan Ify untuk menyadarkan dari kebisuan di kamar tersebut.

“Kelihatannya Mama tidak kenapa-napa!” kata Ify ketus.

Alvin memandang Ify dengan tatapan tidak setuju.

Gina terdiam menatap putrinya. Bahkan di saat dia sedang sakit pun, putrinya tetap tidak bersimpati padanya.

Alvin yang tidak tahan melihat ketegangan di kamar tersebut memberanikan diri untuk mengenalkan diri.

“Selamat siang, Tante!” sapanya. “Nama saya Alvin. Teman Ify. Bagaimana keadaan Tante?”

Gina menoleh pada pria di sebelah Ify. Dia mengamatinya denan serius. Terus terang dia tidak menyangka putrinya bisa berteman dengan pemuda yang sopan. Lalu dia tersenyum. “Terima kasih atas perhatianmu, Alvin! Tante baik-baik saja!”

Ify mendengus kesal mendengar betapa lembutnya mamanya berkata pada Alvin. “Syukurlah kalau begitu!” kata Alvin lega. “Ify panic sekali tadi!”

Ify mendelik pada Alvin, seakan memberitahu agar Alvin tak ikut campur urusannya. Gina tersenyum. Sungguh kontras pribadi teman putrinya itu dengan Ify.

“Saya keluar dulu sebentar!” kata Alvin sambil mengangguk sopan pada Mama Ify. Alvin tahu, sudah saatnya untuk membiarkan ibu dan anak itu sendirian.

Gina hanya tersenyum.

Setelah Alvin menutup pintu Ify menatap mamanya dengan kesal. Ify diam saja selama beberapa menit.

“Apa kau akan diam terus?” tanya Gina, memecahkan keheningan.

“Tidak ada yang ingin aku katakana!” kata Ify.

“Apakah kau benar-benar tidak menyukai Mama sampai sebegitu marahnya?” Suara Gina terdengar lelah.

“Mama bisa menebak sendiri!” jawab Ify ketus.

Gina menarik napas dalam-dalam. “Mama rasa sudah saatnya Mama menjelaskan sesuatu padamu!”

Ify melirik mamanya dengan bingung. “Apa lagi yang Mama ingin katakan?”

“Papamu tidak ingin meninggalkanmu, Ify! Dia ingin kau ikut dengannya,” kata Gina pelan, “tapi Mama yang memintanya supaya kau tinggal bersama Mama di sini!”

Ify menggeleng, seakan tidak memercayai apa yang dikatakan Mama. “Kukira aku tidak bisa membenci Mama lebih dalam lagi. Ternyata aku salah!”

Gina memejamkan matanya, lalu sejenak kemudian membukanya kembali. “Mama rasa Mama berhak mendapatkan hal itu darimu! Mungkin kau tidak memercayainya, tapi Mama benar-benar peduli dan menyayangimu!”

“Hah! Benarkah?” sanggah Ify. “Mama saying padaku?! Mamalebih mementingkan pekerjaan Mama daripada aku!”

“Itu karena melakukan pekerjaanku lebih mudah daripada menghadapimu, Ify!” teriak Gina tidak tahan lagi.

Teriakan mamanya membuat Ify terdiam.

“Kalau kaupikir Mama adalah wanita tangguh, kau salah, Ify. Mama wanita yang lemah! Mama lebih memilih melakukan pekerjaan Mama daripada menghadapimu. Mengapa? Karena pekerjaan itu dapat dengan mudah Mama selesaikan. Dari dahulu Mama selalu memilih jalan yang termudah. Mama takut menghadapi hal yang sulit, dan menghadapimu adalah hal tersulit sepanjang hidup Mama!” Air mata mengalir di pipi Gina.

Pengakuan mamanya membuat Ify terdiam. Dia tidak menyangka mamanya bisa berbicara seperti itu padanya. Perkataan itu sedikitnya telah menyentuh hati Ify. Dia tidak pernah melihat mamanya menangis sebelum ini.

“Kalau begitu, mengapa Mama membuatku tinggal? Mama bisa membiarkan Papa membawaku pergi!” Ify menatap mamanya lekat-lekat.

Gina tersenyum kecil. “Alasannya sederhana. Mama ingin diberi kesempatan untuk mengenalmu. Mama membuat perjanjian dengan Papa untuk membiarkanmu tinggal di sini sampai kau lulus SMA. Setelah itu Mama tidak akan menahanmu lagi jika kau ingin tinggal dengan papamu! Sewaktu kau tidak lulus ujian, walaupun Mama kecewa, tapi hati kecil Mama merasa senang karena mendapat kesempatan satu tahun lagi untuk bersamamu!”

Gina menatap putrinya sambil berlinang air mata. “Maafkan Mama, Ify. Mama telah memaksakan kehendak Mama supaya kau tinggal di sini, dan hubungan kita bukannya semakin membaik, tapi malah semakin parah. Mama benar-benar tidak tahu bagaimana menghadapimu.”

Untuk pertama kalinya Ify merasa mengenal mamanya lebih dekat daripada sebelumnya. Dia merasakan sedikit prasaan menyesal karena selalu bertengkar dengan mamanya tanpa tahu ternyata Mama memendam perasaan seperti ini.

Gina menaikkan tempat tidurnya supaya bisa menatap putrinya dengan lebih jelas.

“Tapi Mama melupaka sesuatu!” lanjutnya. “Mama hanya mementingkan kepentingan sendiri sampai melupakan kebahagiaanmu. Kau tidak bahagia di sini bersama Mama. Kalau kau ingin tinggal bersama papamu, Mama sekarang tidak akan menahanmu. Mama akan mengabari papamu tentang hal ini. Sekarang Mama baru sadar bahwa kebahagiaanmu lebih penting daripada kebahagiaan Mama!”

Ify terdiam tak bergerak mendengar kata-kata mamanya. Dia tahu mamanya bersungguh-sungguh. Dan hal ini membuatnya bingung. Mamanya telah mengizinkannya untuk tinggal bersama papanya. Sejak dulu itu merupakan keinginannya. Tetapi kini, Ify tidak tahu harus berbuat apa.

***

 

Sementara itu Alvin berjaga di depan pintu. Dia tahu hubungan Ify dan mamanya tidak pernah mulus, tetapi dia tidak pernah menyangka akan seburuk ini. Lebih buruk dari perkiraannya. Alvin tidak tahu bagaimana harus menghibur Ify karena dia tidak pernah mengalami hal seperti itu. Orangtuanya tidak pernah meninggalkannya, bahkan mereka selalu ada di sampingnya.

Seorang perawat berjalan mendekati Alvin.

“Maaf, Anda kerabat pasien kamar ini?” tanya perawat itu.

“Saya teman anaknya!” kata Alvin menjelaskan.

Ketika perawat itu hendak masuk, Alvin menghentikan langkah. “Sebaiknya Suster tidak masuk dulu. Teman saya dan ibunya sedang membicarakan sesuatu yang penting!”

Sang suster mengangguk mengerti. “Kalau begitu,” katanya sambil menyerahkan sebuah tas pada Alvin, “tolong berikan ini pada pasien. Tadi terjatuh sewaktu pasien dibawa masuk ke rumah sakit.”

Alvin mengambil tas putih yang diulurkan oleh si perawat. “Terima kasih!”

Tiba-tiba sebuah ranjang tidur berjalan melewati mereka dengan sangat cepat. Oran-orang di belakangnya terlihat sangat panic.

“Pasien harus segera masuk ICU!” teriak dokter di depannya.

Salah seorang pengikutnya tidak sengaja menabrak Alvin, hingga as yang dipegang Alvin lepas, jatuh ke lantai, dan isinya berhamburan.

“Maaf!” kata orang itu sambil terburu-buru.

“Tidak apa-apa!” kata Alvin.

Alvin membungkuk untuk memasukkan kembali barang-barang yang berserakan di lantai ke dalam tas. Tatapannya terhenti pada sebuah dompet yang terbuka. Alvin menatap dompet itu beberapa saat, kemudian menutupnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Tak berapa lama kemudian Ify keluar dari kamar mamanya. Dia terlihat sedih.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Alvin.

Ify mengangguk lemah. “Aku baru saja mengetahui isi hati Mama hari ini. Dia bilang dia tidak akan menahanku kalau aku ingin tinggal bersama Papa!”

“Apa yang kaukatakan padanya?” tanya Alvin lembut.

“Aku tidak mengatakan apa-apa!” katanya pada Alvin. “Dulu tinggal bersama Papa merupakan satu-satunya keinginanku, tetapi sekarang… entahlah. Aku masih sedikit ragu bahwa Mama benar-benar peduli padaku. Dia juga mengatakan dia ingin diberi kesempatan untuk mengenalku!”

“Mamamu kesepian!” kata Alvin tiba-tiba. “Apakah kau pernah memikirkannya?”

Perkataan Alvin membuat Ify tersadar. Dia memang tidak pernah memikirkan perasaan mamanya sebelumnya. Dia memang tidak pernah peduli. Hari ini ketika mamanya mengatakan perasaannya, mau tidak mau Ify juga merasa tersentuh.

“Entahlah!” kata Ify. “Aku tidak pernah memikirkannya!”

“Kesepian merupakan perasaan yang menyedihkan!” kata Alvin lagi. “Aku rasa kau yang paling tahu dibandingkan siapa pun!”

Alvin menyerahkan tas yang digenggamnya pada Ify. “Tadi seorang perawat membawakannya. Ini tas mamamu!”

“Terima kasih, Alvin!”

“Aku harus pulang sekarang!”

“Terima kasih karena mau menemaniku!” kata Ify tulus.

“Itu gunanya teman, bukan?” kata Alvin sambil tersenyum.

Alvin bangkit berdiri. “Ify…,” katanya sebelum pergi, “ada baiknya kau melihat dompet mamamu sebelum memutuskan apa pun yang ingin lakukan! Aku rasa mammu peduli padamu lebih dari yang kaupikirkan!”

Alvin melambaikan tangannya, lalu menghilang di balik pintu luar.

Ify mengerutkan kening lalu membuka tas mamanya, mengeluarkan dompetnya. Ketika Ify membukanya tampaklah sehelai foto menghiasi sebagian besar dompet itu. Foto dirinya ketika pertama kali masuk kelas 1 SMA. Dia sedang tersenyum senang karena berhasil masuk ke sekolah favoritnya.

Ify menutup mulutnya dengan tangannya, menahan tangis. Kalau mamanya benar-benar tidak peduli padanya, mengapa dia menyimpan foto dirinya di dompetnya, yang pasti akan dilihatnya setiap hari?

Saat Ify kembali ke kamar mamanya, dia mendekati dan berdiri di samping tempat tidur mamanya.

“Mama baru saja menelepon papamu! Dia dengan senang hati akan menerimamu!”

Ify menggeleng.

“Aku sudah memutuskan untuk tinggal di sini!” katanya pelan.

“Ify…!” Gina merasa tidak percaya pada ucapan Ify barusan.

“Aku tidak mungkin langsung bisa dekat dengan Mama dalam satu hari,” Ify mengingatkan, “tetapi aku akan mencoba member diriku kesempatan untuk mengenal Mama!”

Gina menangis gembira. “Terima kasih, Ify!” Lalu dengan canggung dipegangnya lengan putrinya. Kali ini Ify tidak menepisnya. Mereka terdiam seperti itu selama beberapa saat.

Malam itu Ify menunggui mamanya di rumah sakit. Ketika fajar tiba, Ify membuka tirai jendela. Mata mamanya perlahan terbuka, menatap wajah anaknya.

“Kau menunggui Mama semalaman?” tanya Gina. “Seharusnya kau pulang ke rumah dan beristirahat!”

Ify menggeleng. “Aku tidak bisa pulang dan membiarkan Mama sendirian di sini!”

“Kau pasti lelah!” kata Gina.

Ify menggeleng. “Apakah Mama mau sarapan sekarang?”

Gina menatap anaknya dan mengangguk. Ia tidak pernah menyangka Ify bisa menatapnya dengan lembut seperti itu. Bahkan Ify membantunya sarapan.

Setelah selesai sarapan, dokter tiba. Setelah memeriksa, dokter memberitahu bahw keadaan Gina mulai membaik dan besok sudah diperbolehkan pulang. Ify sangat senang mendengarnya.

Sesudah makan siang di kantin, Ify menyita laporan kerja yang sedang dibaca mamanya.

“Baru ditinggal sebentar ke kantin, Mama sudah mulai bekerja lagi!” omel Ify. “Seharusnya Mama beristirahat! Mama kan sedang sakit!”

Gina tertawa. “Iya, Mama tahu! Maafkan Mama!”

Ify menatap mamanya dengan kesal. “Aku mengomeli Mama kok Mama malah senang sih?”

Gina tersenyum. “Sudah lama sekali kau tidak memedulikan Mama.”

Ify memegang tangan mamanya. “Bolehkah Ify menanyakan satu hal?”

Mama Ify menatap lurus anaknya. “Tentu saja!”

“Apakah aku yang menjadi alasan Mama dan Papa bercerai?” tanya Ify ingin tahu.

Gina menggenggam tangan anaknya dengan erat. “Tentu saja bukan, Ify! Kau jangan menyalahkan dirimu sendiri. Semua salah Mama. Mama terlalu sibuk dengan bisnis Mama sehingga kurang memerhatikan Papa. Mama selalu membuat keputusan sediri tanpa berbicara dengan Papa. Apalagi saat itu bisnis Mama semakin maju. Mama semakin sibuk. Mama sudah berusaha untuk memperbaiki rumah tangga kami, tetapi sudah terlambat. Perasaan di antara kami sudah begitu jauh. Satu-satunya yang menyatukan kami hanyalah dirimu, Ify. Kami juga berusaha keras untuk menyembunyikan darimu karena kami tidak mau membuatmu khawatir. Sampai suatu hari papamu dan mama setuju kalau bercerai adalah satu-satunya jalan keluar.”

“Mama tidak berusaha mencoba memperbaiki keadaan dahulu?” tanya Ify penasaran.

“Mama sudah mencoba!” kata Gina. “Kami sudah mencoba untuk berkonsultasi tetapi hal itu tidak membawa hasil. Mungkin karena jarak di antara kami sudah terlalu jauh! Malah saat itu Mama menyadari bahwa Mama sudah tidak bisa mencintai papamu seperti dulu lagi. Papamu juga merasa demikian.”

Ify menarik napas. “Jadi kalian tidak mungkin bisa bersatu kembali!”

Gina menggeleng. “Kami sudah tidak saling mencintai lagi. Tetapi kami sangat mencintaimu, Ify. Hal itu tidak akan berubah sampai kamapn pun!”

Ify duduk di ranjang mamanya. “Aku juga mencintaimu, Mama! Aku mengerti sekarang.”

Gina tersenyum dan membelai rambut anaknya.

***

 

Keesokan paginya, mama Ify sudah bersiap-siap untuk pulang.

“Ayo, kita pulang!” kata Gina dengan senang.

“Dokter sudah mengizinkan?” tanya Ify.

Gina menangguk. “Mama sudah tidak apa-apa! Tadi dokter bilang bahwa hasil pemeriksaan Mama sudah keluar dan ternyata Mama kena anemia dan radang lambung.”

“Oke!” kata Ify lega. “Aku akan membantu Mama membereskan barang-barang!”

“Ify!” panggil mamanya.

Ify menoleh.

“Terima kasih!” kata Gina lagi. “Atas semuanya!”

Ify mengangguk dan membereskan pakaian mamanya yang ada di lemari.

***

 

Malam itu, setelah membantu mamanya beristirahat di kamar, Ify masuk ke kamarnya. Hari ini merupaka hari yang panjang. Ify memutar kepalanya untuk menghilangkan kepenatan. Lalu tiba-tiba dia teringat kado yang diberikan Alvin beberapa hari lalu. Dibukanya tas dan dikeluarkannya kado tersebut. Ify membukanya dengan perasaan tidak sabar. Dan ia mengernyit keheranan.

Isinya CD. The Sound of Music. CD yang pernah ia coba curi dulu. Ify tersenyum lebar. Tapi dia kemudian terkejut ketika membuka tutupnya. CD di dalamnya merupakan CD polos dengan tulisan “Selamat Ulang Tahun, Ify. Dari Alvin,” di pinggir kanan bawah.

Dengan penasaran, Ify memasukkan CD tersebut ke player-nya. Lalu didengarnya suara Alvin yang jernih.

“Selamat Ulang Tahun, Ify. Aku tidak tahu mau memberikan hadian apa, jadi aku harap hadiah ini dapat membuatmu terhibur. Kau pernah berkata bahwa kau sangat menyukai lagu Do-Re-Mi dari The Sound of Music. Kali ini aku menghadiahkan satu CD berisi Sembilan nelas lagu Do-Re-Mi sesuai umurmu saat ini. Aku harap kau dapat menikmatinya. Selamat mendengarkan.”

Setelah itu alunan lagu Do-Re-Mi terdengar di kamar Ify. Ify betul-betul menyukai hadiah Alvin tersebut. Dia tersenyum lebar mendengar perkataan Alvin tadi. Satu CD berisi lagu yang sama. Lagu kesukaannya. Ify membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan menutup matanya untuk meresapi dentingan piano Alvin. Ketika lagu pertama berakhir di track berikutnya, sambil bermain piano Alvin menyanyikan lagu tersebut untuk Ify.

Doe, a deer, a female deer

Ray, a drop of golden sun

Me, a name I call myshelf

Far, a long long way to run

Sew, a needle pulling thread

La, a note to follow sew

Tea, I drink with jam and bread

That will bring us back to Do

Ify tersenyum sambil memeluk bantal di sebelahnya. Hadiah yang benar benar sempurna untuknya. Kini lagu tersebut tidak membuat Ify sedih lagi. Kenangan baru telah terbentuk dalam benaknya. Ify akan selalu menghargai hadiah Alvin selamanya.

Tatapan Ify kemudian jatuh ke tempat sampah di kamar tidurnya. Beberapa hari yang lalu papanya mengiriminya hadiah ulang tahun, namun Ify langsung membuangnya tanpa membukanya. Kini dibukanya tempat sampah itu, dan diambilnya kado yang masih terbungkus itu. Disobeknya pembungkusnya, yang menutupi kotak kecil manis di dalamnya. Ify membukanya perlahan. Sebuah liontin emas berbentuk hati terpasang cantik di dalamnya. Ify menangis tersedu-sedu. Setelah tangisnya mereda, Ify mengeluarkan HP-nya dan menekan nomor telepon papanya.

“Ify!” kata suara di ujung telepon dengan gembira.

“Papa!” kata Ify dengan kerinduan yang teramat sangat.

“Papa senang kau mau berbicara lagi dengan Papa!” kata Papa Ify. “Papa baru saja menelepon mamamu. Dia sudah pulang dari rumah sakit, bukan?”

“Ya,” kata Ify, “Mama sudah baikan.”

“Syukurlah!” kata Papa. “Tadinya Papa sudah memesan riket untuk pergi menemui kalian.”

Ify tersenyum. “Dan melewatkan hari pertunangan Papa besok?”

Papanya terdiam beberapa saat. “Ify… tentang pertunangan Papa…”

Ify menyelanya, “Selamat ya, Pa. Ify yakin pilihan Papa pasti tidak salah.”

Papanya tidak menyangka Ify akan berbicara seperti itu. “Terima kasih, Ify. Papa ingin sekali kau datang ke sini. Tapi Papa tahu kau harus menjaga mamamu.”

“Ya,” kata Ify. “Aku sudah berbicara dengan Mama soal perjanjian Papa dengannya!”

“Ify…,” kata Papa perlahan, “jangan salahkan mamamu. Dia hanya ingin kesempatan untuk bersamamu. Berikan mamamu kesempatan.”

“Aku akan mencobanya!” kata Ify, lalu dia menggenggam liontin hati di tangannya. “Liontinnya benar-benar bagus, Pa. terima kasih, Pa.”

“Selamat ulang tahun, Sayang!” kata papanya. “Papa hanya ingin kau tahu, kau selalu berada di hati Papa. Dan kapan pun kau butuh Papa, kau tinggal menelepon Papa, dan Papa pasti akan datang ke hadapanmu.”

Ify menangis lagi. “Aku tahu,” katanya terisak-isak. “Bisakah Papa mengirimkan foto pertunangan Papa ke sini?”

“Tentu!” kata papanya. “Papa akan kirim sebanyak-banyaknya.”

“Aku akan hadir pada pernikahan Papa! Tahun depan, kan?” kata Ify. “Aku janji!”

Papanya menarik napas lega. “Terima kasih, Ify.”

“Pa…,” kata Ify perlahan.

“Apa?”

“Aku rindu Papa.”

“Aku juga merindukanmu, Ify!” kata Papa dengan nada sayang.

Ify berbicara dengan papanya selama setengah jam dan bercerita tentang kehidupannya selama satu tahun ini. Juga tentang Alvin. Ketika Ify menutup telepon, hatinya terasa nyaman. Ify menutup matanya perlahan dan mendengarkan music yang mengalun di kamarnya.

***

 

Satu jam kemudian, Gina menemukan anaknya sedang berbaring di tempat tidur. Lagu Do-Re-Mi masih terdengar di kamar Ify. Gina berjalan ke arah CD player dan mematikannya. Dilihatnya anaknya tertidur lelap. Diambilnya bantal yang dipeluk Ify dan diletakkannya di sampingnya. Setelah itu dia menyelimuti putrinya.

“Walaupun telat beberapa hari hari… Selamat ulang tahun, Sayang!” katanya pelan. Gina meletakkan bingkai foto yang dibawanya di sebelah tempat tidur Ify. Setelah itu dia berbalik, mematikan lampu dan keluar dengan perlahan.

Saat pintu kamar telah tertutup, Ify membuka matanya. Ternyata tadi dia tidak tertidur. Dia menggenggam selimut yang ada di tangannya. Lalu pandangan matanya eralih pada bingkai foto yang ada di sebelah tempat tidurnya. Foto itu adalah foto yang pernah dia pecahkan saat pertama kali masuk sekolah. Ify mengambil foto tersebut dan menatapnya selama beberapa menit. Dipeluknya foto tersebut di dadanya dan dia pun tertidur.

***

 

Pagi itu Ify terbangun dengan perasaan segar. Sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini. Ify bangkit berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Sewaktu dia turun dari tangga, mamanya sedang menyiapkan sarapan untuknya.

“Selamat pagi!” sapa mamanya.

“Bukankah Mama seharusnya masih beristirahat di kamar?” tanya Ify bingung.

“Mama tidak mungkin melewatkan sarapan bersamamu!” kata Gina sambil tersenyum. Ia kemudian duduk dan menyuruh Ify duduk di sampingnya. Ify melakukannya tanpa bicara.

Ketika ia mau mengambil sayur untuknya, Ify menghentikannya.

“Mama tidak perlu melakukannya!” kata Ify. “Aku bisa mengambil sendiri!”

Gina melepas sendok sayur yang dipegangnya. “Baiklah!”

Ify mengambil sayur di depannya dengan terburu-buru. Saat ini dia tidak tahu harus berbicara apa dengan mamanya. Sudah lama sekali Ify tidak makan dalam suasana seperti ini dengan mamanya. Ia ingin mendekat, tapi rasanya canggung sekali. Ify makan cepat-cepat, setelah selesai dia berdiri dan berkata “Aku pergi ke sekolah dulu!”

Gina ikut berdiri. “Hati-hati ya!” katanya sambil mengantar Ify ke depan.

Ify berkata lagi, “Mama tidak udah mengantarku! Istirahatlah!”

Beberapa menit kemudian Ify sudah keluar dari rumahnya. Terus terang dia merasa canggung dan bingung, tidak tahu mau berkata apa. Sepertinya proses penjalinan hubungan dirinya dan mamanya akan berlangsung lambat. Tapi mungkin lebih bai daripada tidak sama sekali.

Di ruang kelasnya, teman-temannya sudah berdatangan. Mereka berkerumun di tengah kelas membicarakan sesuatu. Masing-masing memiliki selembar undangan berwarna biru. Sebetulnya Ify tertarik untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan tetapi hari ini gilirannya piket. Sekarang tanpa disuruh pun Ify akan melakukan tugas piketnya. Melihat Alvin melakukan hal yang sama beberapa minggu lalu membuat Ify merasa bersalah tidak pernah melakukannya untuk kelasnya. Jadi setelah menaruh tasnya dia segera membawa tong sampah ke tempat penampungan sampah di belakang sekolah.

Ketika Ify kembali dari tugasnya, Alvin sudah mengunggu di depan pintu kelasnya.

“Hai!” sapa Alvin.

Ify tersenyum “Tumben pagi-pagi kau ada di sini. Mau jadi penjaga pintu kelasku?”

Alvin tertawa. “Tawaran yang sangat menggoda, tetapi aku ke sini karena ada hal lain!”

“Oh ya?” tanya Ify penasaran. “Apa itu?”

Alvin mengulurkan selembar undangan berwarna biru pada Ify. Ify menerimanya sambil bertanya, “Tadi aku memang melihat teman-temanku membawa undangan ini. Apa sih ini?”

“Undangan ulang tahunku!” kata Alvin sambil tersenyum.

“Ulang tahunmu?” tanya Ify. “Benarkah?”

Alvin mengangguk. “Aku juga awalnya terkejut ketika melihat tanggal lahir di KTP-mu. Ternyata tanggal lahir kita Cuma beda seminggu saja! Kita punya zodiak yang sama!”

Ify tertawa lebar. “Jadi kau mau mengundang teman-teman sekelasku juga?”

“Ya! Semua anak kelas tiga sebenarnya!” kata Alvin. “Aku ke sini karena ingin menyampaikan undanganku padamu secara pribadi! Yang lain sih dikirim lewat pos!”

“Hah?” tanya Ify bingung. “Kau mengundang semua anak kelas tiga?” pasti pestanya besar!”

“Mamaku yang mengurusnya!” kata Alvin. “Aku ingin kau hadir di pesta ulang tahunku ini!”

“Tentu!” kata Ify. “Aku pasti datang!”

“Oke, aku tunggu!” kata Alvin.

Bel tanda masuk berbunyi. Alvin tersenyum lalu masuk ke kelasnya.

Undangan ulang tahun, kata Ify dalam hati. Aku harus member kado apa? Oh ya, aku tadi malah lupa berterima kasih padanya. Nanti saja deh pas istirahat.

Ify membuka undangan tersebut perlahan-lahan. Di dalamnya tertulis nama Alvin dan perayaan ulang tahunnya yang ke delapan belas. Perta tersebut diadakan di rumahnya, dimulai jam tujuh malam. Seperti biasanya Alvin akan mengadakan pesta taman. Ify tersenyum. Dia belum pernah berkunjung ke rumah Alvin sebelumnya dan saat ulang tahun nanti dia akan mendapat kesempatan tersebut.

 

***

 

Seminggu kemudian, Ify berjalan modar-mandir dengan gelisah di depan kantor mamanya. Sebetulnya dia tidak ingin melakukan hal ini, tetapi ini adalah jalan terakhirnya. Sesaat dia ragu dan mengurungkan niatnya, tetapi sekretaris mamanya sudah keburu memergokinya, dan saat ini sedang melepon mamanya untuk memberitahu kedatangannya.

“Ify! Mama senang kau datang kemari!” kata Gina saat Ify tiba di dalam kantornya.

Ify berjalan memasuki ruang kerja mamanya. Untuk pertama kalinya Ify benar-bena memerhatikan ruangan mamanya itu. Di meja kantor tersebut terdapat fotonya saat berumur sepuluh tahun.

Ify duduk di hadapan mamanya dan terdiam seribu bahasa. Dia tidak bisa memohon sesuatu pada mamanya. Kali ini Ify benar-benar merasa canggung.

“Ada masalah, Ify?” tanya Gina melihat kebisuan putrinya.

Ify menggerak-gerakkan tangannya gelisah. “Begini… Ma… temanku mau berulang tahun dan aku…. Aku tidak punya baju untuk pergi ke sana!”

Gina tersenyum mengerti. “Kau mau minta bantuan Mama untuk membelikan baju pesta untukmu?”

Ify mengangguk. “Aku belum pernah membeli baju pesta sebelumnya. Tapi kalau Mama sibuk, tidak apa-apa! Aku bisa…”

“Ify!” sela Gina. “Mama akan dengan senang hati membantumu mendapatkan baju pesta uang cocok untukmu!”

“Apakah aku tidak mengganggu pekerjaan Mama?” tanya Ify perlahan.

“Saat ini tidak ada yang lebih penting daripada mencarikan baju pesta untuk putriku!” kata Gina tegas. “Ayo!” katanya sambil mengambil dompetnya. “Kita berburu baju!”

Mereka keluar-masuk dari satu toko ke toko yang lain. Sampai akhirnya Ify berhenti di depan sebuah toko dan memandang baju yang ada di etelase. Mamanya melihat ke arah Ify kemudian ke arah baju tersebut. Dia tertawa pelan. Mereka sudah menemukan baju yang tepat.

“Ayo, kita masuk!” katanya pada Ify.

Saat Ify mengenakan baju yang dilihatnya setengah jam kemudian,gaun berwarna merah dengan kedua tali tipis di bahunya, ternyata benar-benar tampak pas di badannya.

“Mama rasa kita sudah menemukan gaun yang cocok!” kata Gina senang.

“Ma, warnanya tidak terlalu terang, kan?” tanya Ify ragu sesaat.

Gina menggeleng. “Tidak! Sangat cocok untukmu!”

Ify tiba di rumah dan cepat-cepat mandi untuk mengenakan baju tersebut. Terdengar ketukan di pintu kamarnya.

“Ya!” kata Ify sambil melihat bayangannya di cermin.

Mama masuk dan memendang putrinya. Dia tersenyum. Lalu dia mendudukkan Ify di kursi rias. “Sekarang!” katanya “Duduk dan tutup matamu! Mama akan mendandanimu!”

Gina mendandani putrinya dengan perasaan senang. Dioleskannya lipstick sebagai sentuhan terakhir.

“Kau boleh membuka matamu sekarang!” katanya kemudian.

Ify membuka matanya dan menatap mukanya di cermin dengan terkejut. Wajah yang memandangnya benar-benar cantik.

“Ah, Mama hampir saja lupa!” katanya lagi. Dia memasangkan anting-anting perak ke telinga Ify. “Cantik!”

Ify tidak tahu harus berkata apa pada mamanya. Lalu tatapannya jatuh pada jam dinding di kamarnya. Sudah jam setelah delapan.

“Aku telat!” teriak Ify panik. “Pestanya sudah dimulai jam tujuh! Kau harus pergi!”

Gina menenangkan anaknya. “Sudah ada taksi yang menunggu di depan rumah!”

Ify berlari mengambil sepatunya dan memakainya. Lalu dia mengambil kado yang sudah terbungkus di atas tempat tidurnya. Sesaat sebelum melewati pintu kamarnya, Ify menoleh.

“Terima kasih, Ma!” kanyanya canggung. Lalu dia bergegas turun dan naik ke taksi. Dari atas jendela kamar anaknya, Gina memandang putrinya yang berlari ke arah taksi. Putriku sudah besar, desahnya dalam hati. Sewaktu menemani anaknya berbelanja, dia merasa senang sekali. Sebelumnya mereka tidak pernah sedekat itu. Dan saat Ify mengatakan terima kasih dengan canggung, dia tahu bahwa putrinya itu benar-benar menghargai usahnyanya.

“Selamat bersenang-senang, Ify,” katanya kemudian.

***

 

Alvin memandang kerumunan orang di depannya. Dia sudah meniup lilin dan memotong kue, tetapi tamu yang dia harapkan belum datang juga. Apakah dia tidak akan datang? Tanyanya dalam hati. Tentu saja Alvin akan kecewa jika Ify tidak datang. Tentu saja banyak temannya yang lain yang hadir. Tapi kedekatannya dengan Ify membuatnya gelisah, dan Alvin mengharapkan kehadiaran gadis itu.

Ify keluar dari taksi sambil megeluh. Sepatu hak tingginya telah membuatnya harus berjalan perlahan-lahan. Terus terang baru kali ini Ify mengenakan hak tinggi dan dia sudah kapok, tidak akan mengenakannya lagi. Sepatu tinggi itu membuatnya menderita. Tatapannya kemudian dialihkan pada rumah dihadapannya. Rumah tersebut sangat luas. Dengan taman di depannya, rumah itu terlihat elegan. Ternyata rumah Alvin lebih besar dari rumahnya. Para tamu terlihat sudah berdatangan.

Ify merapikan gaunnya dan berjalan sambil mengernyit. Sepatunya benar-benar membuatnya sengsara. Tapi dia tidak mungkin ke pesta dengan sepatu kets kesukaannya,kan? Ify yakin kakinya akan lecet sepulangnya dari pesta ini.

Ketika Ify memasuki rumah Alvin semua mata memandang ke arahnya. Ify berjalan sangat cepat melewati mereka. Dia sangat tidak suka juka ada orang yang menatapnya. Matanya mencari-cari Alvin di antara kerumunan orang yang di depannya.

***

 

“Kau sepertinya tidak menikmati pesta ini!”

Alvin menoleh ke belakang dan mendapati papanya sedang mendekatinya sambil menawarkan minuman padanya. Alvin mengambil minuman itu.

“Bukan seperti itu, Pa!” kata Alvin menarik napas panjang. “Pestanya meriah. Mama telah mempersiapkannya dengan sempurna. Aku harus berterima kasih pada Mama nanti!”

“Lalu kenapa kau melamun di sini?” tanyanya lagi.

“Aku sedang menunggu seseorang!” kata Alvin.

“Ah!” kata papanya tersenyum mengerti. “Ify, bukan?”

Alvin mengangguk.

Tiba-tiba mamanya menghampiri. “Alvin, kenapa kau tidak bergabung dengan teman-temanmu di taman?”

Alvin menatap mamanya sambil tersenyum. “Nanti Alvin ke sana!” katanya lembut. “Saat ini aku masih ingin berada di sini!”

“Kenapa? Ada yang kurang dengan pestanya?” tanya mamnya bingung.

Alvin menghampiri mamanya dan mencium lembut pipinya. “Pestanya sempurna, Ma! Terima kasih sudah repot-repot menyiapkan pesta ini untuk Alvin!”

Mama tersenyum senang. Lalu menarik tangan anaknya ke depan beranda. “Kau tidak mau menyapa mereka?” tanyanya sambil menunjuk teman-teman Alvin di bawah beranda. “Mereka mengatakan pada Mama kalau mereka ingin mengucapkan selamat padamu!”

Alvin melihat kerumunan orang di bawahnya dengan tatapan malas. Dia tidak terlalu bersemangat. Namun, tiba-tiba pandangannya jatuh pada gadis yang mengenakan baju merah. Gadis itu berjalan dengan langkah lebar dan kepala mendunduk. Lalu saat keseimbangannya goyah dia memegang batang pohon di sebelahnya dengan kuat. Alvin tersenyum melihatnya.

“Mama benar!” kata Alvin senang. “Sudah saatnya Alvin ke bawah!”

Mama bingung melihat Alvin secepat kilat melewatinya dan turun ke bawah. “Kenapa dia?” tanyanya pada suaminya. “Tadi dia tidak mau turun ke bawah, kenapa sekarang tiba-tiba dia antusias sekali?”

Suaminya hanya tersenyum, ia menunjuk Alvin yang berlari perlahan ke arah gedis bergaun merah. “Teman yang ditunggunya sudah datang!” Mama Alvin mengikuti pandangan suaminya ke arah bawah beranda.

Ify menarik napas lega sambil menutup matanya. Rasanya dia tidak sanggup meneruskan malengkah di atas rumput yang tidak rata. Ify mengusap lutunya perlahan dengan tangannya.

“Akhirnya kau datang juga!” kata suara yang dikenalnya.

Ify menatap Alvin dengan kagum. Alvin tampak sangan tampan dengan kemeja biru dan jas hitam. “Kau cantik sekali!” kata Alvin. “Benar-benar berbeda dari Ify yang aku kenal!”

Ify tersenyum sambil tersipu mali. “Terima kasih!”

Alvin meraih tangan Ify dan mengajaknya masuk ke rumah. “Ayo masuk!”

Ify tertatih-tatih mengikuti langkah cepat Alvin. Rupanya Alvin lupa bahwa ia tidak bisa berjalan cepat karena memakai sepatu berhak tinggi. Ketika sampai di ruang tamu, Alvin menyuruh Ify untuk duduk. Ify lega bukan main. Kakinya seakan tidak sanggup untuk berdiri lagi.

“Kau mau minum apa?”

Ify menggeleng. “Aku belum haus. Nanti saja! Ini hadiah untukmu!” katanya sambil memberikan kado berwarna biru yang sudah dibungkus Ify siang tadi.

“Terima kasih!” kata Alvin, seraya mengambil hadiah tersebut dari tangan Ify.

“Mungkin hadiahnya tidak sebagus hadiahmu untukku minggu lalu!” kata Ify pelan.

Alvin tersenyum. “Aku tidak peduli! Apa pun yang kauberikan untukku, aku pasti menyukainya!”

Ify ikut tersenyum.

Alvin menggoyangkan hadiah yang diberikan Ify dengan santai. “Lumayan berat untuk kado sekecil ini!”

“Isinya kotak musik!” kata Ify tanpa basa-basi.

Alvin cemberut mendengarnya. “Ify! Alasan orang membungkus kado adalah supaya yang ulang tahun bisa membukanya dan merasa penasaran pada isinya. Jadi sewaktu bungkusnya sudah tebuka, dia akan merasa surprised. Kau baru saja menghentikan kesenanganku untuk sebuah kejutan!”

Ify menatap Alvin tanpa merasa bersalah. “Ops! Aku kelepasan ngomong kalau begitu. Toh kau akan mengetahuinya cepat atau lambat! Jadi lebih baik aku memberitahumu secepatnya!”

“Sudahlah!” kata Alvin menghentikan perdebatan mereka. “Kau mau melihat-lihat rumahku?”

“Bukankah seharusnya kau bersiap-siap untuk potong kue dan tiup lilin?” tanya Ify kemudian.

Alvin memandang sejenak Ify sambil menggeleng. “Hei, Non, lihat jam tanganmu. Ini sudah jam berapa? Aku sudah melakukan kedua hal itu setengah jam yang lalu!”

Ify melihat jam tangannya dan baru tersadar bahwa dia datang sangat terlambat. “Aku baru sadar bahwa aku sangat terlambat!” katanya enteng. “Kau khawatir aku tidak datang, ya?”

“Bukannya khawatir lagi!” Alvin bersungut kesal. “Aku takut kau kenapa-napa di jalan!”

Kepedulian Alvin terhadapnya membuat hati Ify tersentuh. “Maaf deh!” kata Ify sambil tersenyum. “Habis aku juga kelupaan waktu! Alvin, pestamu meriah sekali! Belum pernah melihat pesta ulang tahun sehebat ini!”

“Pestaku yang keenam belas lebih hebat daripada ini!” Alvin memberitahu.

“Oya? Tapi kenapa umur enam belas, bukan tujuh belas?”

Alvin menatap Ify dengan tenang. “Karena para dokter memperkirakan aku akan bertahan sampai umur enam belas tahun.”

Ify langsung terdiam mendengar jawaban Alvin. Dia tidak pernah mengangka hal ini sebelumnya.

“Jadi sewaktu aku masih bisa merayakan ulang tahunku yang keenam belas…” lanjut Alvin, “Mama benar-benar mempersiapkan sehebat mungkin! Kalau dipikir-pikir tiap tahun juga Mama selalu merayakan ulang tahunku semeriah mungkin!”

Itu karena mamau tidak tahu kapan kau akan berhenti merayakannya! Kata Ify dalam hati. Untuk mengalihkan perhatian Alvin, Ify berkata lagi, “Aku suka musik ini!”

Alvin mendengar grup band membawakan lagu lembut. “Aku juga menyukainya!”

Alvin berdiri dan mengulurkan tangannya pada Ify. “Kau mau berdansa denganku?”

Ify tersenyum dan mengambut uluran tangan Alvin.

Mereka berjalan ke rengah ruang tamu. Alvin memelik pinggang Ify dan mereka mulai berdansa. Ketika baru beberapa langkah, Ify mengernyit kesakitan. Dia baru ingat kalau sepatu hak tingginya membuatnya sakit.

Alvin menghentikan dansanya dan bertanya. “Ada apa?”

“Sepatu ini!” kata Ify kesal sambil menunjuk sepatunya. “Aku benar-benar menderita dibuatnya. Kakiku sakit semua!”

Alvin tersenyum. “Kalau begitu lepas saja.”

Ify memandang Alvind dengan bingung.

“Tidak ada gunanya kita berdansa kalau tidak menikmatinya. Jadi lepas saja sepatumu kalau itu membuat kakimu sakit!”

“Tapi…”

“Ify!” tegas Alvin sambil menatap mata Ify. “Lepas saja!”

Ify membungkuk untuk melepas sepatunya. Betul, setelah itu dia merasa lega. Alvin tersenyum melihatnya, lalu dia juga melakukan hal yang sama, membuat Ify menatap pemuda itu bingung.

“Kau melepas sepatumu, aku juga melepas sepatuku!” kata Alvin. “Ini baru adil, bukan?”

Ify terbahak senang.

“Nah, sekarang bisakah kita berdansa?” tanya Alvin.

Kini giliran Ify yang mengambil tangan Alvin dan meletakkannya di pinggangnya. “Ayo, dansa!”

Sesekali mereka bertubrukan satu sama lain dan menginjak kaki lawannya.

“Auwww!” teriak Alvin. “Kenapa kau menginjak kakiku?”

“Karena kau menghalangi jalanku!” kata Ify.

“Kau seharusnya mundur,” kata Alvin, “bukannya maju!”

“Kau yang seharusnya mundur!” balas Ify tidak mau kalah. “Lagi pula kau belajar dansa sari mana sih? Payah sekali!”

“Biar kau tahu, ini dansa pertamaku!” kata Alvin mengakui.

“Pantas!” kata Ify menggumam.

“Memangnya kau pernah belajar dansa sebelumnya?” tanya Alvin.

“Tentu saja…,” kata Ify, “belum. Hehehe… ini juga dansa pertamaku!”

Keduanya pun terbahak berbarengan.

“Kita benar-benar payah!” kata Ify akhirnya mengakui.

“Ya!” kata Alvin setuju.

Saat itu musik sudah berhanti.

“Sepertinya music sudah berhenti!” kata Ify.

Alvin memelik pinggang Ify lagi dengan lembut. “Jangan bergerak! Kita berdansa seperti ini saja!”

Ify merebahkan kepalanya ke bahu Alvin dan tersenyum.

Ya! Begini jauh lebih nyaman, kata Ify dalam hati.

Setelahnya, Alvin mengantar Ify melihat-lihat rumahnya dan menawarkan minuman. Ketika malam sudah semakin larut dan Ify ingin pulang. Alvin mengantakan dia ingin mengantarnya.

“Lalu bagaimana dengan tamumu yang lain?” tanya Ify.

“Kaulah tamuku!” kata Alvin. “Tunggu sebentar!”

Alvin bergegas ke lantai atas mencari-cari sesuatu. Ketika menemukannya, dia mengambilnya dan kembali ke hadapan Ify.

“Ini!” kata Alvin sambil menyodorkannya pada Ify. “Pakailah!”

Ify melihat sandal berbulu bergambar beruang di hadapannya. Lalu dia menatap Alvin sambil menggeleng. “Aku tidak mau memakainya!”

“Bukankah kakimu sakit?” tanya Alvin. “Daripada kau mengenakan sepatu hak tinggi itu bukankah lebih baik pakai sandal ini?”

Ify menatap Alvin putus asa. “Apa tidak ada sandal yang lain?”

Alvin tertawa. “Sebenarnya sih ada, tapi aku ingin kau mengenakan yang ini! Pasti cocok!”

“Kau mau mengerjaiku ya?”

“Ayolah, Ify!” kata Alvin sambil membujuk. “Anggap saja ini permintaan dari orang yang berulang tahun!”

Ify melototi Alvin, tapi akhirnya dia memakai sandal tersebut. “Baiklah!”

Alvin melihat penampilan Ify dari atas sampai bawah. Tentu saja gaun Ify yang sangat tifak sesuai dengan sandal yang dikenakannya membuat tampilan Ify jadi aneh dan lucu. Dan itu membuat Alvin tertawa terbahak-bahak.

“Kalau kau berani tertawa lagi…,” ancam Ify sambil mendelik kesal lalu berjalan ke arah pintu depan. Di belakangnya Alvin masih tertawa geli.

“Ayo, pergi!” kata Alvin.

Sesampainya di depan rumah, Ify buru-buru membuka pintu penumpang. “Terima kasih ya, Alvin.” Dia ingin cepat-cepat masuk ke rumah dan mengganti sandal konyol itu.

“Sama-sama!” kata Alvin. “Hari ini adalah pesta terbaik sepanjang hidupku!”

Ify tidak berkomentar dan melangkah masuk.

“Ify!” teriak Alvin. “Kau lupa sepatumu!”

Ify berbalik dan mengambil sepatu hak tingginya dari Alvin sambil menahan malu. “Bye!” katanya.

Saat Ify sudah masuk, tawa Alvin tidak terbendung lagi.

“Mala mini kau kelihatan senang sekali, Alvin!” kata Pak Budi, memecahkan tawa Alvin.

“Ya!” jawan Alvin sambil tersenyum.

“Bapak tidak pernah melihat senyumanmu yang seperti ini!” Pak Budi merasa senang. “Syukurlah kau bisa gembira!”

“Pak Budi!” kata Alvin sambil menarik napas. “Aku tidak akan melupakan kejadian malam ini seumur hidupku!”

Satu Tanggapan to “3600 Detik versi ICIL : Bab 6 “Ulang Tahun””

  1. Dwi Ratih C ☃ 3 Agustus 2011 pada 1:02 PM #

    kak lanjutin dong…….😀😀😀😀😀
    aku suka,,,
    walaupun ini bukan bikinan kkaka. tapi suer!!! pemainnya cocokkk!!!
    ALVIN-IFY lanjutkannn kaaak!!!!!!!!!!
    oh iya cerpennya juga…..lanjut ya
    tetep CAKKA-IFY, walopun udah meninggal hidupin aja lagi (?)
    waaaaaa,,,,,hehe maaf kalo saya lebay ._.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: