3600 Detik versi ICIL : Bab 5 “Malam kesenian”

25 Mar

INI mimpi buruk!!!! Keluh Ify dalam hati.

Ify memasuki ruangan demi ruangan tempat latihan malam kesenian berlangsung. Ruangan pertama diisi oleh para pelajar yang sedang menari. Melihat mereka melakukan gerakan rumit dalam tariannya membuat Ify yakin dia tidak akan dapat melakukan hal itu. Bisa-bisa kakinya terkilir. Ruangan berikutnya berisi para penyanyi solo. Ify langsung melewatinya tanpa masuk ke dalam.

Ify menengok ruangan lain yang berisi macam-macam instrument music. Ketika Ify hendak memasukinya, salah seorang murid sedang memainkan salah satu alat music tersebut dengan kencang sehingga membuat telinga Ify sakit. Ify cepat-cepat keluar sebelum telinganya terkena risiko menjadi tuli.

Akhirnya dia sampai di kelas terakhir. Kelas drama. Seorang guru sedang menulis di papan tulis.

“Baiklah,” guru tersebut memulai, “saya ulang dulu. Kita akan mementaskan legenda Candi Prambanan. Legenda ini dimulai dari seorang putrid bernama Roro Jonggrang yang mendapat lamaran dari Bandung Bondowoso. Roro Jonggrang berusaha menolak pinangan lelaki itu. Ia mengajukan syarat, Bandung Bondowoso harus membuat seribu candi dalam satu malam untuknya.

“Bandung bondowoso menyanggupi syarat tersebut. Dia menggunakan kekuatan supernatural yang dimilikinya untuk membangun seribu candi. Ketika Bandung Bondowoso hampir menyelesaikannya, Roro Jonggrang berusaha menggagalkannya dengan membakar jerami dan menumbuk padi, sehingga suasana yang sebenarnya masih malam, berubah menjadi seperti pagi.

“Kegagalan membuat seribu candi dalam semalam membuat Bandung Bondowoso marah besar. Dia mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung. Kira-kira begitulah inti ceritanya. Kalian diharapkan dapat mementaskan legenda tersebut dengan maksimal. Ibu yakin kalian dapat melakukan peran masin-masing dengan baik.”

Karena tidak ada pilihan lain lagi, Ify memasuki kelas terakhir itu.

“Ify…,” kata guru pelatih drama, “apa yang kau lakukan disini?”

“Saya mau ikut pentas drama ini!” kata Ify.

Sang guru mendesah. “Sayang sekali semua peran sudah terisi!”

Ify terdiam. Dia harus masuk pentas drama ini karena setidaknya ini pilihan yang terbaik di antara yang terburuk. Tiba-tiba dia tersenyum.

“Saya rasa masih ada satu peran lagi yang bisa saya mainkan!” kata Ify yakin.

***

Setengah jam kemudian Ify menemui Alvin yang sedang berlatih di ruang musik. Suara piano Alvin memenuhi ruangan musik tersebut. Katika lagu berakhir Ify bertepuk tangan.

“Lagu apa tadi?” tanya Ify.

Beethoven, Moonlight Sonata.”

Ify mendekati Alvin dan duduk di sampingnya. “Tertarik untuk main duet?”

“Dengan dirimu sebagai pasangan mainnya?” tanya Alvin bergidik ngeri. “Aku rasa tidak. Bisa-bisa julukanku sebagai pianis hilang gara-gara kau!”

Ify tertawa terbahak-bahak.

“Jadi kau sudah tahu mau melakukan apa malam kesenian nanti?” tanya Alvin santai.

Ify mengangguk.

“Kau ikut apa?” Alvin penasaran.

“Aku ikut pentas drama!” kata Ify.

“Drama?!” tanya Alvin curiga. “Benar nih?”

Ify mengangguk tegas.

Alvin tersenyum. “Aku jadi penasaran ingin melihatnya!”

“Kau akan melihatnya di malam kesenian nanti!” kata Ify.

“Dramanya tentang apa?” tanya Alvin lagi.

“Legenda Candi Prambanan!”

“Legenda yang menarik!” komentar Alvin. “Kau berperan jadi siapa?”

Ify tersenyum misterius. “Kau pasti tidak akan menyangka!”

Alvin mengangkat alisnya ingin tahu.

“Aku dapat peran jadi Roro Jonggrang!” kata Ify.

Alvin ternganga saking kagetnya. “Serius??! Kau dapat peran utama??! Aku tidak menyangka sama sekali! Aku dengar audisi di bidang drama sulit sekali.”

Ify tertawa manis. “Yah! Aku mendapatkannya kok!”

“Kau jadi Roro Jonggrang?!” Suara Alvin masih ragu.

“Yah, secara teknis aku Roro Jonggrang!”

“Secara teknis?” Alvin bertanya curiga. “Apa maksudnya?”

Nanti juga kau tahu,” kata Ify. “Tapi yang penting aku dapat perannya, kan?”

Alvin percaya ketika Ify bilang padanya bahwa dia tidak punya bakat seni. Dan memperoleh peran utama adalah hal yang benar-benar fantastis. Alvin berharap pentas drama nanti tidak akan berantakan. Tetapi tiba-tiba dia tersenyum sendiri. Bukankah kalau sedikit berantakan malam kesenian mereka nanti jadi unik?

Selama sebulan berikutnya, Ify merenungkan hari-harinya. Dia tidak menyangka akan betah di sekolah barunya ini. Padahal waktu melangkahkan kakinya pertama kali, dia ingin segera pergi. Dia bahkan rela mengikuti acara konyol seperti malam kesenian yang jelas-jelas tidak disukainya. Itu semua gara-gara Alvin, dan juga gara-gara kalah taruhan lagi. Setiap pulang sekolah dia harus ikut berlatih drama. Saat ingin membolos latihan, ucapan Alvin yang bebunyi “semoga berhasil” selalu membuat Ify mengurungkan niatnya.

Walau sudah sebulan terlibat dalam persiapan acara malam kesenian ini, Ify masih menganggap acara ini konyol. Apalagi sekarang dia berdandan memakai pakaian daerah tradisional Jawa, lengkap dengan sanggulnya. Ketika melihat bayangannya di cermin, Ify tahu hal ini akan membayanginya seumur hidup.

“Kau terlihat berbeda mala mini,’ kata suara di belakangnya.

Ify menengok ke belakang dan tampak Alvin yang mengenakan jas hitam. Disbanding penampilannya, penampilan Alvin yang rapi jauh lebih baik.

“Kau tahu aku benar-benar menyesal melakukan taruhan itu denganmu!” kata Ify kesal.

Alvin menahan senyumnya. “Ayolah! Acara ini kan sangat bagus untuk melihat bakat seni yang dimiliki para murid!”

“Tentu saja kau bisa mengatakan itu dengan mudah!” kata Ify sambil mengomel. “Coba kaupakai pakaian tradisional aneh ini, pasti kau akan berkata lain. Kepalaku seakan bertambah berat karena sanggul ini. Apa kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat rambutku seperti ini?? Satu jam! Ohhh, benar-benar satu jam paling sengsara seumur hidupku!”

Alvin tertawa mendengar keluh kesah Ify. “Anggap saja pengalaman sekali seumur hidup!”

“Ini memang pengalaman sekali seumur hidup!” tukas Ify ketus.

“Sudah saatnya kita ke belakang panggung untuk bersiap-siap,” Alvin mengalihkan perhatian Ify.

“Ya!” kata Ify masih kesal. “Berdasarkan urutan acara, drama yang aku mainkan akan berada pada acara puncak. Permainan pianomu di urutan keberapa?”

“Ururtan ketiga!” kata Alvin. “Jadi aku masih bisa melihat penampilanmu saat drama nanti!”

Mendengar hal itu, Ify tertawa dalam hati. Ada satu hal yang belum dia katakana pada Alvin tentang perannya dalam drama ini. Tetapi Alvin akan mengetahuinya nanti.

“Apap yang kautertawakan?” tanya Alvin bingung, karena sebelumnya Ify terlihat uring-uringan.

“Oh… tidak ada apa-apa!” kata ify. Dia mendorong Alvin dengan lembut ke belakang panggung. “Ayo, kita bersiap-siap!”

Para petugas dekorasi sudah mempersiapkan panggung secara maksumal. Boleh dibilang hasilnya lumayan baik. Para penonton sudah berdatangan dan megisi sebagian besar kursi.

Acara dimulai dengan pembacaan pidato oleh Kepala Sekolah. Lalu diikuti lagu mars sekolah yang sinyanyikan oleh paduan suara. Setelah itu giliran Alvin utnuk memainkan lagu dengan pianonya. Semua penonton dibuat terpukau dengan permainan piano Alvin. Lagu Moonlight Sonata yang syahdu membuat pnonton hening. Ify melihat Alvin dari belakang panggung dengan kagum. Dia memang benar-benar jago main piano, kata Ify dalam hati.

Tiba-tiba Alvin berhenti memainkan piano dan tangannya meraih dada sambil bernapas terengah-engah. Ify langsung berlari ke arah Alvin, begitu juga para guru yang berada di bawah panggung.

“Alvin!!!” teriak Ify panic. “Kau kenapa!!!??”

Guru kesehatan segera memeriksa denyut jantung Alvin. “Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang juga!” ujarnya pada guru lain.

“Aku ikut!” teriak Ify.

“TIdak!” kata Alvin lemah sambil menatap Ify. “Kau harus tinggal dan menyelesaikan peranmu!”

“Tapi, Alvin…”

“Tidak!” jawab Alvin untuk kedua kalinya.

Sesuatu pada tatapan mata Alvin membuat Ify tidak berlari untuk menemaninya ketika para guru menggotong dan membawa pemuda itu keluar dari gedung. Alvin telah meminta Ify untuk tinggal di sini dan menyelesaikan perannya. Untuk pertama kalinya Ify melihat Alvin berjuang mempertahankan hidupnya. Dan dia masih sempat menyuruh Ify menyelesaikan perannya di sini.

Alvin, aku akan mengikuti keinginanmu, kata Ify dalam hati.

Ify menunggu di belakang panggung sambil berjalan mondar-mandir. Waktu seakan berjalan dengan lambat. Dia tidak sabar ingin cepat-vepat menyelesaikan tugasnya dan mengunjungi Alvin di rumah sakit.

“Ify…,” kata seseorang di belakangnya, “sekarang giliranmu!”

Ify berhenti hilir-mudik dan bersiap-siap memasuki panggung. Setelah menyelesaikan perannya dia bergegas ke kamar mandi untuk membuka sanggul dan mencuci mukanya yang penuh dengan make-up. Lalu dia berganti abju dengan kaus putih dan celana jins biru kesukaannya. Ify tidak mau menunggu sampai acara selesai. Dia berlari ke depan gerbang sekolah dan menghentikan taksu pertama yang muncul di hadapannya. Sepanjang perjalanan Ify berdoa semoga Alvin baik-baik saja. Setelah tiba di rumah sakit Ify menanyai petus rumah sakit dimana kamar Alvin dirawat.

Ify berjalan memasuki kamar Alvin dengan was-was. Dibukanya pintu perlahan. Ketika menengok ke dalam, tidak ada seorang pun yang berbaring di ranjang. Ify panic seketika. Apakah Alvin berada di ruang operasi atau…

Kini penyesalan mendera dirinya. Seharusnya tadi dia tidak mengindahkan perintah Alvin dan menemaninya ke rumah sakit. Untuk pertama kalinya selama satu tahun terakhir ini, Ify ketakutan setengah mati.

“Alvin…,” seru Ify hampir menangis.

Seseorang menepuk punggungnya dari belakang. “Dramanya sudah selesai?”

Ify langsung membalikkan badannya dan memeluk Alvin. “Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku kira kau…” Ify tidak menyelesaikan kalimatnya.

Alvin melepaskan pelukan Ify. “Aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja. Ketika sampai di rumah sakit, aku sudah tidak kenapa-napa! Aku ingin balik ke sekolah lagi, tapi para guru melarangku!”

Ify membantu Alvin berbaring di tempat tidur. “Kau benar-benar membuatku khawatir!”

Alvin menatap mata Ify. “Aku tidak apa-apa, Ify, sungguh!”

“Kalau kau mengalami hal seperti tadi lagi, bisa-bisa jantungku yang copot duluan sebelum jantungmu!”

Alvin tertawa. “Dokter bilang aku hanya perlu dirawat satu hari saja. Cuma perlu diinfus saja kok. Jadi, ceritakan tentang pementasanmu. Sukses nggak?”

Ify duduk di samping Alvin. “Yah, bisa dibilang begitu!”

“Aku benar-benar berharap aku bisa menyaksikan akting perdanamu!” kata Alvin menyesal.

“Kau tidak kahilangan banyak kok!” kata Ify pelan.

“Berhubung kau sudah di sini, bagaimana kalau kau memerankan salah satu adegan dalam dramamu!”

Ify menggeleng. “Lebih baik tidak!”

“Mengapa? Ayolah, aku tidak akan mengkritikmu! Kau takut apa? Kan sekarang penontonnya Cuma aku!”

Ify mempertimbangkan selama beberapa waktu. “Baiklah!” katanya. “Tapi janji kau tidak akan protes!”

“Aku janji!”

Ify menarik napas panjang-panjang dan mempersiapkan diri.

Setelah lima menit tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Ify, Alvin jadi tidak sabar. “Kau sudah selesai belum sih melakukan persiapannya? Kok lama sekali?”

Ify tertawa tertahan, tetapi dia berkata dengan sok menggurui. “Alvin, akting itu tidak mudah, perlu penjiwaan. Sangat sulit bagiku menemukan kembali peasaan akting yang pernah aku jalani.”

“Oke,” kata Alvin, “aku mengeti. Pasti berperan sebagai Roro Jonggrang sangat sulit bagimu. Apalagi ini kali pertama. Kau tidak perlu memerankan semuanya, coba saja adegan yang kausukai!”

“Oke!” kata Ify.

Dia menarik napas kemudian merapatkan kedia tangannya di depan dadanya.

Alvin memerhatikan Ify dengan perasaan tertarik.

Ify terdiam selama satu menit. Setelah satu menit dia melepaskan tangannya dan berkata, “Bagaimana aktingku?”

Alvin melongo. “Akting apa? Kau tidak berbicara sama sekali!”

“Memang! Aku memerankan Roro Jonggrang pada adegan terakhir, ketika dia menjadi patung!” Ify penjelaskan.

“Kalau begitu sekarang adegan yang lain.

“Adeganku Cuma itu.”

“HAH?!!” tanya Alvin bingung.

“Aku kan sudah bilang, secara teknis aku memang bermain sebagai Roro Jonggrang. Maksudku yah… Jadi patungnya, begitu!”

“Aku tidak mengerti!” kata Alvin bingung.

“Ketika aku masuk ke kelas drama, semua peran sudah terisi. Lagi pula yang berperan semuanya harus berasal dari klub drama. Jadi aku mengusulkan untuk berperan menjadi patung Roro Jonggrang saja di akhir pentas. Aku tidak perlu peran yang beray dan tidak perlu berbicara. Hanya diam saja satu menit! Akhirnya mereka sejutu!”

“Jadi selama ini sewaktu aku mengira kau berlatih drama dengan serius, kau hanya mendapat peran di akhir cerita? Dan tidak berbicara apa-apa?”

“Hei! Kau bilang kan yang penting aku ikut berpartisipasi. Nah, aku sudah ikut, kan?”

“Rupanya kau mengakaliku!” kata Alvin sebal.

“Iya memang!” kata Ify tertawa penuh kemenangan. “Tapi aku sudah menepati janjimu, kan? Aku ikut berpartisipasi di malam kesenian!”

“Aku rasa hanya kau yang kepikiran untuk melakukan hal ini!” kata Alvin menggeleng-geleng berusaha menahan tawa.

“Sudah malam!” kata Ify sambil melihat jam di kamar.

“Ya! Sebaiknya kau segera pulang!”

“Oke, aku pulang dulu! Besok kau sudah bisa keluar dari rumah sakit, kan?”

Alvin mengangguk.

“Ify…,” kata Alvin sebelum Ify keluar dari pintu, “aktingmu tadi adalah akting terbaik yang pernah aku ligat, walaupun aku tidak menyangka sama sekali!”

Ify tertawa geli. “Terima kasih! Sampai jumpa besok!”

***

Gina berjalan bolak-balik di ruang tamu. Putrinya belum pulang dari acara sekolah. Dia sudah menelepon pihak sekolah dan mereka mengatakan bahwa acara mereka sudah berakhir satu jam yang lalu. Gina benar-benar khawatir. Dia selalu khawatir setiap kali Ify keluar rumah di malam hari. Jika hal ini terjadi bulan yang lalu, setidaknya Gina tahu kalau Ify berada di kelab malam. Tetapi kini dia tidak tahu di mana putrinya berada. Apalagi di luar sedang hujan lebat.

Suara pintu depan yang dibuka membuatnya menengok buru-buru. Ify muncul dengan rambut dan baju basah.

“Ify, kau dari mana saja?” tanyanya khawatir.

Ify hanya menjawab, “Bukan urusan Mama!”

“Mama tahu kau menghadiri acara sekolah!” kata Gina. “Mama sudah menelepon pihak sekolah dan mereka mengatakan acara itu sudah berakhir sejam yang lalu!”

Ify menggeleng tidak percaya. “Oh, jadi sekarang Mama mematai-matai aku, begitu?”

“Ify, Mama tidak bermaksud demikian!” bantah Gina. “Mama benar-benar khawatir!” Gina berusaha memegang tangan anaknya dan merapikan rambutnya.

Ify langsung menepis tangan mamanya.

“Jangan sentuh aku!” teriak Ify. “Aku pergi ke mana pun bukan urusan Mama! Kenapa Mama tidak mengurusi bisnis Mama saja?”

“Ify…,” keluh Gina, “kau tahu kau lebih penting bagi Mama!”

“Benarkah?” tanya Ify sangsi. “Mama akan mrlakukan apa pun yang aki inginkan?”

Gina mengangguk. “Apa pun akan Mama lakukan untukmu!”

Ify tersenyum sinis, “Kalau begitu lebih baik Mama berada di kantor karena aku tidak mau melihat Mama!”

Setelah berkata seperti itu Ify berlari menaiki tangga.

Di bawah tangga Gina terduduk di kursi tamu sambil membenamkan muka di tangannya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: