3600 Detik versi ICIL : Bab 4 “Taruhan”

19 Feb

SEMINGGU kemudian Alvin melihat Ify sedang menulis sesuatu di taman sekolah pagi-pagi sekali. Alvin menyentuh pundak Ify dengan telunjuknya.

“Nulis apa kau?” tanyanya ingin tahu.

Saat Alvin melihat buku fisika di depan ify dan coretan tangan gadis itu di kertas kecil, Alvin akhirnya mengerti.

“He, kau bikin sontekan ya!”

“Ya!” ujar Ify sambil tersenyum.

Alvin mendesah kecewa. “Buat apa sih kaulakukan itu?”

“Aku kelupaan belajar semalam!” kata Ify.

“Tapi itu bukan alasan supaya kau boleh menyontek!” kata Alvin lagi sambil cemberut.

“Ayolah!” kata ify bercanda. “Memangnya seumur hidup kau belum pernah menyontek?”

Alvin menggeleng. “Tidak pernah!” jawabnya serius.

Entah mengapa Ify yakin Alvin mengatakan yang sebenarnya. “Kau harus mencobanya kapan-kapan. Aku bisa mengajarimu supaya tidak tertangkap!”

“Dengar, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyontek. Aku lebih menghargai orang yang jujur walaupun nilainya jelek.”

“Bukankah lebih baik kalau kau dapat nilai bagus tanpa ketahuan bahwa kau menyontek!” kata Ify masih bercanda.

“Aku tidak bisa menyakinkanmu untuk tidak menyontek,kan?” tanya Alvin akhirnya.

“Ya!” kata Ify menatap. “Begini, Alvin, aku tahu kau kecewa padaku, tapi ulangan ini penting bagiku. Ini adalah ulanganku yang pertama semenjak aku masuk sekolah ini. Kalau aku dapat nilai jelek, Pak Donny pasti akan memberitahu mamaku, dan aku tidak mau mendengar petuah-petuah Mama lagi, oke?!”

“Karena aku tidak bisa meyakinkanmu untuk tidak menyontek…,” lanjut Alvin sambil mencari akal, “bagaimana kalau kita taruhan saja!”

Ify tertarik mendengar usul Alvin. “Taruhan apa?”

Alvin mengarahkan jarinya pada bunga melati yang ada di sebelah Ify. “Aku akan memetik salah satu bunganya. Kalau kelopak bunganya genap, kau boleh menyontek, dan aku tidak akan menghalangimu. Tapi kalau jumlahnya ganjil, kau tidak boleh menyontek lagi. Tidak sekarang, tidak juga nanti!”

Ify tertawa mendengar usul itu. “Wah, berat sekali!”

“Berani, tidak?” tantang Alvin.

“hei! Memangnya aku pengecut? Baik, aku terima tantanganmu, tapi aku juga punya permintaan. Kalau genap artinya aku yang menang kan, aku ingin kau menyebutku ‘Kakak’ setiap kali kita bertemu sambil menundukkan kepala, sampai lulus SMA!”

“Hah?!!” Alvin terenyak bingung. “Kakak?! Untuk apa aku melakukan hal konyol seperti itu!?”

“Kenapa, Alvin? Kau mau mengundurkan diri dari taruhan ini?” Giliran ify yang menantang Alvin.

“Tidak!” tegas Alvin. “Hanya saja permintaanmu tidak masuk akal!”

“Hei! Aku memang lebih tua setahun darimu! Sudah sepantasnya kau menyebutku ‘kakak’!” protes Ify. “Tidak percaya??” Ify mengeluarkan dompetnya. “Ini KTP-ku!”

Alvin memerhatikan tanggal lahir Ify. Benar, Ify lebih tua satu tahun darinya.

“Aku tidak lulus ujian Ebtanas tahun lalu, jadi aku harus mengulang tahun ini!” kata Ify menjelaskan.

“Oh, begitu rupanya!” Alvin mengangguk-angguk.

“Taruhannya jadi tidak?!” tanya Ify tidak sabar.

Alvin menatap tantangan yang terpancar di mata Ify. “Tentu saja jadi! Ingat, kau tidak boleh ingkar janji!”

“Begitu juga denganmu!” kata Ify tidak mau kalah.

Alvin menutup matanya sambil menarik napas, dan mengambil salah satu bunga melati di belakang Ify.

Satu per satu kelopak melati itu dicabuti Alvin, hingga akhirnya sampai kelopak yang terakhir jatuh ke tanah.

Alvin tersenyum senang. Ify cemberut kesal. Jumlahnya ganjil.

“Aku yang menang!!” seru Alvin senang. “Jadi, kau tdak boleh menyontek!” Kemudian ia mengulurkan tangannya, meminta kertas berisi rumus-rumus yang sudah susah payah ditulis Ify dari pagi.

Ify menyerahkan kertas tersebut ke tangan Alvin sambil cemberut dan mengomel.

“Janji tetap janji!” kata Alvin.

“Yah!” kata Ify. “Bukan berarti aku harus menerimanya dengan senang hati, kan?”

Bel tanda masuk berbunyi. Kalaupun Ify mau berbuat curang dan membuat sontekan lagi, tetap saja dia tidak akan berhasil karena ulangannya berada di jam pertama. Dia tidak akan sempat membuat sontekan lagi.

Alvin tersenyum. “Aku akan menemuimu istirahat nanti!” Alvin menyentuh pundak Ify. “Semoga ulanganmu sukses!”

Alvin meninggalkan Ify yang terus menggerutu.

Beberapa saat kemudian, ketika Ify melihat soal ulangan di papan tulis, dia betul-betul kesal. Dia tahu saat itu juga kalau nilai ulangan kali ini pasti akan mendapat nilai jelek.

“Jadi,” kata Alvin pas istirahat siang, “bagaimana ulangannya tadi?”

Ify mendelik kesal. “Aku harus bertetima kasih padamu karena aku yakin sekali ulangan tadi dapat nilai jelek!”

Alvin tertawa terbahak-bahak. “Itu kan salahmu sendiri tidak belajar!”

Ify semakin cemberut.

Saat ulangan tersebut dibagikan keesokan harinya, Ify menatap kertas di hadapannya dengan kesal. Angka tiga berwarna merah menghiasi bagian atas kertas tersebut. Kali ini wali kelasnya pasti akan memberitahu mamanya. Ify harus bersiap-siap mendengar nasihat yang tidak ingin di dengarnya lagi. Kenapa pula dia harus kalah taruhan dengan Alvin?

Siangnya Ify sudah berada di ruangan guru lagi. Dia memandang sekelilingnya dengan jenuh. Sepertinya ruangan ini akan sering aku masuki, katanya dalam hati.

“Jadi, Ify….” Kata Pak Donny, “apakah kau mau menjelaskan kenapa ulanganmu jelek? Kau satu-satunya yang mendapat nilai jelek di kelas!”

“Saya tidak belajar!” kata Ify menjelaskan.

Pak Donny menarik napas panjang. “Apakah soal-soal tadi terlalu sulit untukmu?”

“Saya tidak tahu!” kata Ify terus terang. “Saya tidak memerhatikan! Apakah bapak akan memberitahu mama saya?”

“Baiklah, begini saja,” kata Pak Donny, “Bapak akan memberimu satu kesempatan untuk ulangan lagi besok. Kalau nilaimu masih jelek juga, Bapak akan memeberitahu mamamu!”

Ify tidak menyangka Pak Donny akan berkata demikian. “Kenapa Bapak ingin memeberi saya kesempatan untuk mengulang?”

Pak Donny terenyum. “Bapak menghargai kejujuranku untuk tidak menyontek. Kau bisa melakukannya saat ujian kemarin. Tapi hal itu tidak kaulakukan. Berdasarkan keterangan dari sekolah lama, kau akan menyontek setiap ada kesempatan. Bapak rasa kau berhak mendapat kesempatan kedua. Pastikan kali ini kau belajar dengan serius. Kau boleh keluar sekarang.”

Ify berdiri dan melangkah ke pintu.

“Ify!” kata Pak Donny beberapa saat kemudian. “Hanya sekedar ingin tahu, kenapa kau tidak menyontek?”

Ify memandang Pak Donny. “Karena saya kalah taruha.”

Ify berlalu, meninggalkan Pak Donny yang terdiam bingingung mendengar jawaban Ify.

***

 

“Dapat nilai berapa?” tanya Alvin sepulang sekolah.

Ify menunjukkan kertas ulangannya pada Alvin.

“Wow!” Alvin menggeleng. “Ini nilai terjelek yang pernah kulihat!”

Ify mendesah kesal.

“Apa kata wali kelasmu?” tanya Alvin penasaran.

“Dia akan memberiku satu kesempatan lagi untuk ulangan susulan besok!” kata Ify menjelaskan.

Alvin tertawa. “Itu kabar bagus!”

“Aku tidak percaya harus ulangan lagi!” kata Ify kesal.

“Hei!” kata Alvin menenangkan. “Kalau kau mau aku bisa membantumu!”

“Kau mau membantuku? Memangnya berapa nilaimu?” tanya Ify penasaran.

Alvin tertawa misterius. “Katakan saja aku dapat nilai lebih tinggi darimu!”

Ify memandang Alvin dengan curiga. Lalu secepat kilat disambarnya tas Alvin dan membuka isinya. Ify menemukan kertas ulangan fisika di dalamnya.

“Heh! Mau ngapain sih?” tanya Alvin bingung.

“Mencari tahu nilai ulanganmu!” jelas Ify. “Ah… aku tahu sekarang. Nilai sempurna! Aku hanya tidak mengerti mengapa kau bersusah payah ingin menjadi murid teladan?”

“Aku ingin menjadi dokter, seperti papaku!” kata Alvin singkat. “Dan supaya bisa jadi dokter, aku rasa aku harus dapat nilai yang bagus!”

Ify tertegun mendengar jawaban Alvin. Dia tidak menyangka orang seperti Alvin masih punya keinginan untuk menjadi dokter.

“Kau ingin jadi dokter?”

“Ya!” jawab Alvin tegas. “Bukankah semua orang punya cita-cita?”

“Aku tidak punya cita-cita! Aku tidak tahu ingin jadi apa di masa depan.”

Alvin menatap Ify dengan lembut. “Jangan khawatir, kau akan mengetahuinya suatu hari nanti.”

Ify tersenyum. “Kelihatannya kau yakin sekali!”

“Aku selalu yakin!” kata Alvin pasti.

Ify tersenyum dalam hati.

“Bagaimana kalau kita sekarang ke perpus dan belajar?” tanya Alvin.

“Bukankah kau mau pulang ke rumah?” tanya Ify heran.

Alvin menggeleng. “Aku mau mengajarimu sampai bisa!”

Ify tertawa terbahak-bahak. “Aku rasa itu membutuhkan waktu yang lama!”

“Tidak apa-apa!” kata Alvin sambil bergerak ke perpustakaan. “Hari ini aku tidak ada kegiatan. Daripada pulang ke rumah dan berdiam diri di kamar sepanjang hari, lebih baik aku berada di sini.”

Ify benar-benar terharu mendengarnya. “Aku senang kau mau menemaniku belajar!” katanya tulus, ketika mereka mengambil tempat duduk di bagian yang tidak terlalu ramai.

Alvin tersenyum lebar sambil membuka buku fisika. “Sebenarnya aku hanya ingin melihat penderitaamu sewaktu belajar. Oh ya, aku perlu mengingatkanmu kalau aku adalah guru yang perfeksionis. Kau tidak akan keluar dari perpustakaan ini sebelum menyelesaikan soal latian ini.”

Ify melihat soal latihan di depannya. “Hah?! Tiga lembar?!!”

Alvin tersenyum manis. “Ya! Aku sudah bilang kan kau tidak akan keluar dari sini sebelum semua latihannya selesai?”

Ify memandang Alvin dengan tatapan menderita

***

Ketika Ify melihat nilai ulangan fisikanya dua hari kemudian, dia menarik napas lega. Walaupun nilai tujuh masih bukan nilai sempurna, setidaknya Pak Donny tidak akan menghubungi mamanya. Dan hal itu jelas membuat ia senang.

Alvin melihat nilai ulangan Ify sambil menggeleng-geleng. “Setelah aku bersusah payah mengajarimu, kau hanya dapat nilai segini?”

“Aku kan sudah berusaha!” kata Ify.

“Yah, aku bisa bilang apa?” kata Alvin sambil mengangkat bahu. “Ini bukan salah gurunya, tapi muridnya!”

“Aku sudah belajar mati-matian sampai kepalaku sakit, mataku merah, dan tanganku kram setengah mati,” protes Ify.

Alvin menerawang membayangkan hal itu beberapa hari yang lalu, dan dia tersenyum lebar. “Kau sangat lucu saat itu!”

“Aku rasa aku kapok diajar olehmu!” teriak Ify.

“Kalau begitu jangan dapat nilai jelek lagi lain kali!” kata Alvin sederhana.

“Belajar bersamamu bagiku mimpi buruk!!” kata Ify sambil bergidik.

Mendengar kata-kata tersebut, Alvin terbahak-bahak. Ify menatap Alvin dengan serius. Dia berharap Alvin bisa tertawa terus seperti ini setiap hari. Saying sekali hal itu tidak berlangsung lama karena seminggu kemudian Ify menemukan Alvin sedang termenung sedih di kelasnya.

“Hei, kenapa kau?” tanya Ify.

Alvin terdiam.

“Hei!” Ify menyenggol tangan Alvin dengan tidak sabar. “Ada yang tidak beres ya?”

Akhirnya Alvin menatap mata Ify.

“Pagi tadi aku bertengkar dengan papaku!” kata Alvin menjelaskan.

Ify kaget mendengarnya. Baginya ini aneh. Ia sudah terbiasa bertengkar dengan mamanya setiap hari, tetapi setahunya Alvin tidak pernah bertengkar dengan orangtuanya.

“Kenapa?” tanya Ify kemudian.

“Papa mengatakan hari ini aku harus menjalani pemeriksaan lahi sepulang sekolah. Aku bilang padanya aku memutuskan untuk tidak melakukannya lagi!”

“Bukankah kau ingin sembuh?” tanya Ify bingung.

Alvin mengerutkan alisnya. “Hal ini sudah berlangsung seumur hidupku, Ify. Tidak pernah ada kemajuan sama sekali.”

“Jadi kau memutuskan untuk menyerah?” ujar Ify keras.

“Aku lelah, Ify!”, kata Alvin.

Baru kali ini Ify melihat wajah Alvin yang sedih. Ify tidak tahu harus mengatakan apa karena dia tidak pernah mengalami apa yang dirasakan Alvin. Tetapi itu bukan berarti dia tidak tahu pemeriksaan kesehatan sangat penting bagi Alvin. Kalau Alvin memutuskan untuk menghentikan pemeriksaan itu, sama artinya tidak ada harapan untuk sembuh. Ify tahu Alvin pasti lelah menghadapi semua itu.

“Alvin…,” kata Ify pelan, “aku tidak tahu apa yang kaurasakan saat ini. Tapi tidakkah kau punya keinginan untuk sembuh?”

“Tentu saja ingin!” kata Alvin. “Aku hanya berharap aku tidak perlu melalui pemeriksaan yang tidak ada habis-habisnya!”

Ify mengerti perasaan pemuda itu. “Jadi kau tidak mau pergi ke rumah sakit hari ini?”

Alvin menggeleng.

“Sayang sekali!” kata Ify sambil menarik napas.

“Mengapa?” tanya Alvin bingung.

Dengan tenang Ify menjawab, “Karena tadinya aku mau menemanimu!”

Alvin tersenyum.

***

 

Ify menemani Alvin ke rumah sakit hari itu. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, mereka berua bercanda dan tertawa tiada henti. Pak Budi melihat mereka sambil tersenyum. Baru kali ini dia melihat Alvin tertawa lepas, dan hal ini dikarenakan teman yang berada di sampingnya. Alvin mengenalkan Ify pada Pak Budi sebelum masuk ke mobil. Walaupun awalnya Pak Budi terkejut karena Alvin mempunyai teman yang tidak biasa, tetapi akhirnya Pak Budi mengerti kenapa mereka bisa cocok.

Alvin juga tidak menyangka dirinya akan memutuskan pergi ke rumah sakit. Tetapi satu perkataan dari Ify tadi telah membantunya tersentuh dan tidak menyerah. Karena kini dia tidak lagi sendirian.

Papa Alvin terkejut ketika melihat anaknya berada di rumah sakit. Bukankah tadi pagi Alvin sudah bersikeras untuk tidak berada di rumah sakit lagi.

“Alvin?”

Alvin menatap ayahnya dengan tenang. “Maafkan aku karena tadi pagi bertengkar dengan Papa. Aku memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan!”

Papanya senang bukan main. Kemudian dilihatnya gadis yang berdiri di sebelah Alvin.

Seakan tahu apa yang dipikirkan ayahnya, Alvin lalu memperkanalkan Ify.

“Papa, ini Ify, teman sekolahku!”

Papa Alvin tersenyum. Jadi ini teman istimewa Alvin yang hendak dikenalkannya tempo dulu! Katanya dalam hati. Papa Alvin mengamati Ify dengan teliti. Memang bukan teman yang biasa, katanya lagi.

“Halo, Ify!” Papa Alvin menyapa.

“Halo, Oom!” balas Ify sopan. “Senang bertemu dengan Oom!”

“Oom juga!” balas pria di hadapannya sambil tersenyum. Lalu dia berpaling pada Alvin, “Apakah kita bisa mulai pemeriksaan sekarang juga, Alvin?”

“Pa…,” kata Alvin, “keberatan tidak, kalau Ify ikut bersamaku?”

Papa Alvin memandang anaknya, kemudian berpaling ke Ify. “Tidak!” jawabnya kemudian.

Pertama-tama Alvin dibawa ke sebuah ruangan untuk diambil darahnya. Ify berada di sampingnya ketika Alvin mengulurkan tangan pada suster yang sudah memegang jarum suntik. Tanpa sengaja tatapan Ify jatuh pada tangan Alvin. Di sana terdapat banyak sekali bekas tusukan jarum. Dan kali ini luka itu akan bertambah satu lagi.

Kesedihan terpancar di mata Ify.Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Alvin, jadi diambilnya tangan Alvin yang satunya lagi dan digenggamnya dengan erat. Alvin memandang Ify dengan tenang, matanya sekakan berkata, “Terima kasih”.

Ketika pemeriksaan tersebut selesai, Alvin mengajak Ify makan di kantin rumah sakit. Alvin memandang Ify tanpa berkedip.

“Apa ada sesuatu di mukaku?” tanya Ify, merasa tidak enak dipandang terus.

“Tidak ada!” kata Alvin. “Hanya saja aku teringat pertama kali kita bertemu! Aku belum pernah bertemu gadis sepertimu sebelumnya! Rambut merah, kuku merah, dan baju seragam yang berantakan. Benar-benar kesan uang tidak terlupakan!”

Ify tertawa. “Pasti! Aku memang sengaja mau membuat sekolah kalian mengeluarkanku hari itu juga!”

Satu jam kemudian, Alvin menurunkan Ify di depan rumahnya.

“Terima kasih karena sudah mengantarku!” kata Ify.

“Ify…”

“Ya…”

“Aku rasa kau lebih cantik tanpa menggunakan anting-anting di hidungmu itu!”

Ify tertawa. Alvin masuk ke mobilnya dan pergi dari rumahnya.

Keesokan harinya Ify melepas anting-anting di hidungnya dan berhenti merokok.

***

 

Seminggu kemudian…

Ify sedang menikmati makanannya di taman sekolah dan menghirup udara segar di pagi hari, ketika Alvin duduk di depannya sambil mengulurkan secarik kertas merah ke hadapannya.

“Apa ini?”

“Ini pamphlet malam kesenian yang akan diadakan sebulan lagi!” kata Alvin. “Setiap tahun sekolah mengadakan malam kesenian. Kali ini aku jadi salah satu panitianya!”

“Selamat, kalau begitu!” kata Ify sambil menaruh kertas tersebut di bangku taman tanpa tertarik dengan isinya sama sekali.

Alvin mengambil kertas itu dan menaruhnya lagi di tangan Ify.

“Kau harus iku!” serunya riang.

Ify terbatuk-batuk sambil berusaha menelan makanannya. “Tidak!” katanya tegas.

“Oh ayolah! Pasti akan menyenangkan!” kata Alvin sambil tertawa.

“Aku tidak punya bakat seni!” tandas Ify.

“Bagaimana kau tahu kalau kau tidak mencoba?”

“Percaya deh, aku benar-benar payah di bidang seni, Alvin!”

“Minggu lalu aku mengikuti keinginanmu untuk pergi kerumah sakit. Jadi kali ini kau harus ikut. Sebagai panitia aku diharuskan merekrut orang untuk ambil bagian pada malam kesenian ini. Aku belum mendapatkan satu orang pun!”

“Seharusnya itu jadi petunjuk kalau tidak semua orang punya bakat seni!” kata Ify menjelaskan.

Alvin tertawa. “Ini acara sekolah terakhir untuk kita. Tahun depan kita sudah tidak berada di sekolah ini lagi. Jadi ikut, ya?”

“Omong-omong, kau mau menyumbang apa?” tanya ify penasaran.

“Aku seperti biasa, main piano!” Alvin tertawa. Dia senang karena sepertinya ada gejala Ify tertarik pada acara ini. “Jadi, kau mau ikut?”

Ify tersenyum manis dan menjawab, “Tidak”

Alvin cemberut. “Ayolah!!”

Ify tetap menggeleng.

“Kau tidak mau melakukannya untukku?” Alvin memohon lagi.

“Begini, Alvin… aku tidak mau mengikuti acara seperti ini,” kata Ify. “Kau bisa meminta yang lain, tapi jangan yang ini, oke?”

“Ah… aku tahu!” kata Alvin mencoba taktik lain. “Kau takut, ya? Demam panggung atau kau takut orang-orang menertawakanmu? Ternyata Ify yang aku kenal seorang penakut.”

Taktik Alvin kena sasaran. Ify langsung marah. “Aku tidak demam panggung! Dan aku bukan penakut!”

“Kalau begitu buktikan!” balas Alvin senang, karena taktiknya berhasil.

Tiba-tiba Ify sadar Alvin hanya berusaha memancing kemarahannya. “Tunggu dulu… ini tidak akan berhasil, Alvin. Aku tidak mau ikut!”

Alvin mendesah putus asa. “Bagaimana kalau kita taruhan lagi? Genap berarti kau ikut malam kesenian, kalau ganjil artinya kau tidak ikut!”

Ify memandang Alvin dengan curiga. Kelihatannya dia sudah putus asa. Seingat Ify, taruhan terakhir bunganya berjumlah ganjil. Jadi ada kemungkinan kalau sekarang dia bisa menang. Lagi pula dia tidak mau Alvin mengganggunya terus dengan hal ini sepanjang hari.

“Baiklah!” kata Ify akhirnya. “Tapi kali ini aku yang memetik bunga!”

“Oke!” kata Alvin.

“Kalau ganjil kau tidak akan mengungkit soal ini lagi!” kata Ify mengingatkan.

“Aku janji!” kata Alvin.

Ify mengambil setangkai bunga melati dan mulai menghitung kelopaknya. Dia tidak memercayai apa yang dihitungnya. Genap.

Senyum Alvin semakin lebar. “Besok sepulang sekolah ada latihan. Kau bisa memiliih salah satu pentas yang akan dimainkan. Selamat bersenang-senang!”

Ify menggerutu kesal. “Kenapa aku selalu kalah darimu?”

“Itu karena aku memang ahlinya taruhan!” kata Alvin.

“Ahli dari mana?”

“Ify…,” kata Alvin menjelaskan, “aku selalu bertaruh setiap hari untuk hidupku dan sampai saat ini aku selalu menang, bukan?”

Mendengar perkataan itu Ify terdiam lama.

“Baiklah aku mengaku kalah!” kata Ify akhirnya. “Sepertinya aku tidak akan menang bertaruh denganmu! Aku akan mengikuti acara konyol itu. Jangan salahkan aku kalau nanti acaranya kacau.”

Alvin bertepuk tangan. “Ayo, semangatlah. Pasti tidak akan separah itu. Aku yakin!”

***

Sementara itu di sebuah hotel bertingkat, seorang wanita sedang menatap foto di mejanya. Di depan meja tersebut terdapat plakat bertuliskan “Gina Sonia, Direktur”. Foto tersebut adalah foto putrinya, Ify. Sesaat yang lalu dia menelepon wali kelas anaknya untuk menanyakan kabar Ify dua minggu belakangan ini. Sepertinya putrinya pernah mendapat nilai jelek lalu wali kelasnya memberikan kesempatan lagi dan Ify bisa mendapat nilai yang lumayan.

Baru kali ini ada sekolah yang bisa menampung Ify lebih dari dua minggu. Kali ini mungkin putrinya punya kesempatan. Walaupun hubungannya dengan Ify belum bisa dikatakan membaik, tetapi beberapa hari ini putrinya sudah jarang kaluar hingga dini hari. Tidak pernah pergi ke kelab malam lagi.

Gina menelepon sekretarisnya. “Hari ini aku mau pulang lebih cepat, tolong batalkan semua pertemuan malam hari!”

“Baik, bu!”

Gina mendesah dalam hati. Pekerjaannya yang sukses sangat kontras dibandingkan kehidupan pribadinya yang kacau-balau. Dia mengakui memang dirinya lebih banyak menghabiskan waktu di kantornya disbanding di rumah. Semenjak bercerai dengan suaminya, Gina sudah mencoba meluangkan waktunya bagi Ify, tetapi sepertinya terlambat. Putrinya tidak mau menerimanya sama sekali. Beberapa kali pun mencoba, hasil akhirnya selalu diwarnai dengan pertengkaran.

Sepulang dari kantor, Widia naik ke atas, ingin berkunjung ke kamar putrinya. Diketuknya pintu beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban dari dalam. Gina membuka pintu tersebut. Ranjang tidur masih rapi seakan belum ditempati oleh siapa pun.

Ify belum pulang, katanya dalam hati.

Gina duduk di ranjang anaknya dan melihat sekelilingnya dengan cermat. Biasanya di kamar ini selalu ada aroma rokok yang menyengat. Kali ini dia tidak merasakannya. Diam-diam Gina tersenyum. Putrinya mungkin saja sudah berhenti merokok. Yang pasti beberapa hari terakhir ini tingkah laku putrinya lain daripada yang lain.

Gina tidak tahu apa yang menyebabkan putrinya berubah, tetapi apa pun itu dia bersyukur putrinya berubah ke arah yang lebih baik. Kini dia harus memikirkan bagaimana caranya agar Ify memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan apa yang ada di hatinya. Tentu saja dia sangat menyayangi Ify. Walaupun dia tidak pandai mengungkapkannya dengan kata-kata atau tindakan, tapi perasaannya pada putrinya adalah nyata. Gina tersenyum ironis. Siapa yang menyangka melakukan negosiasi bisnis ternyata lebih mudah daripada berkomunikasi dengan putrinya sendiri?

Gina memandang kamar Ify sekali lagi sebelum menutup pintu kamar tersebut. Tidak adanya aroma rokok di kamar tersebut membuatnya tersenyum. Ify telah berubah.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: