Aku Bertahan (cerpen versi Icil)

13 Jan

sedih ku tahu kini perasaanmu kepadaku

sedih saat kau tak yakin kepadaku

akan cintaku
***
Jakarta, Indonesia
Sinar matahari tak lagi nampak. Awan putih pun telah berganti warna. Sepertinya sebentar lagi akan turuh hujan, batinku.Aku melangkah, memandang sekeliling. Cukup sepi. Lalu aku mengalihkan pandanganku ke jam tangan putih yang melingkar di tangan kiriku. Pantesan, orang udah jam 3 sore.Tak seperti biasa, sekolahku terlihat sangat sepi. Hanya segelintir murid yang lalu lalang dan beberapa murid yang ada ekskul.Hari yang sempurna. Bagaimana tidak? Tadi saat istirahat aku bertemu dengan orang yang kusukai. Kami sempat saling bertatapan. Aku jadi makin salah tingkah.Lalu, baru saja aku mengerjai teman ku, Acha yang hari ini berulang tahun. Anak anak Geng-ku, FiveStars berhasil membuat Acha basah kuyup tapi sayangnya tembakan ceplok telor ku gagal.Saat ini aku sedang melangkah berdampingan dengan Via teman sekelasku sejak kelas 10 hingga 11, kami akan menuju ke kantin untuk membeli minuman setelah ngos-ngosan lari dari kejaran Acha yang akan membalas dendamnya. Oh, my happy day my wonderful day! aku bisa bertemu dengannya hari ini dua kali! Tapi, saat aku akan melangkah memasuki area kantin. Alvin, orang yang kusukai sejak kelas 10 itu terburu-buru pergi bahkan dia menyeret temannya juga untuk segera pergi.Ah.. kenapa? Apa aku salah lihat? Dia langsung pergi? Aku merasa dia menjauhiku.. Tapi kenapa? Hatiku sakit, ingin sekali rasanya aku menangis.Tapi aku bukan wanita yang lembah, aku wanita yang kuat!Setelah selesai membeli minuman, aku pulang bersama Via.
***
jalan berliku takkan membuatku

menyerah akan cinta kitatatap mataku dan kau kan tahu

semuanya yang ku rasakan
***
Di rumah, aku meluapkan segalanya. aku menangis. Bagaimana tidak? Aku menyukai Alvin sudah sejak kelas 10. Dan sekarang aku merasa aku di tolak olehnya mentah mentah. Aku terngiang ngiang ucapan via tadi saat kami menunggu angkutan. Cowok di dunia itu masih banyak. tapi bagaimana kalau ternyata hatiku tak bisa berpaling ke orang lain? ahhh.. pusiiiing.. aku memaksa mataku terpejam, aku berharap besok aku bisa melupakan kejadian hari ini.
ke esokan harinya.aku terbangun. rasanya kepalaku berat. mataku juga sembab.dan aku masih belum bisa melupakan kejadian hari ini.sebaiknya aku tidak berusaha melupakannya, karena bila aku ingin sekali melupakannya hal itu akan terjadi sebaliknya.
di sekolah aku berusaha keras untuk tetap terlihat ceria seperti biasa. mungkin aku bisa membohongi teman teman di kelas, namun hal itu tidak berlaku bagi FiveStars. mereka sudah mengira bahwa aku seperti ini karena kejadian kemarin. tapi aku selalu mengelak. tapi semakin aku mengelak, semakin pula FiveStars mendesakku. dan akhirnya aku mengaku juga.”Ya.. aku begini karna hal kemarin. Tapi kalian tenang aja! Besok aku akan kembali seperti semula.. Kalian jangan mengira aku selemah itu dong.. hahahaa” ujarku. Aku bukannya ingin berbohong kepada FiveStars, kepada sahabat-sahabatku itu. Tapi aku tidak ingin merepotkan mereka.aku berjanji aku akan kembali seperti semula teman teman, tapi tidak sekarang. Lalu aku tersenyum.
Waktu terus berjalan. Detik berganti menjadi menit, Menit berganti menjadi jam, Jam berganti menjadi hari, Hari berganti menjadi minggu dan minggu berganti menjadi bulan. Selama itu pula aku berusaha untuk melupakan Alvin, tapi hasilnya. Nihil. aku seakan tak bisa melupakan dia dan juga kejadian hari itu. Tak terasa, waktu seakan berputar cepat.
***
aku bertahan karna ku yakin cintaku padamu

sesering kau coba tuk mematikan hatiku

takkan terjadi yang aku tahu kau hanya untukku

aku bertahan ku akan tetap pada pendirian

kusekeras kau coba tuk membunuh cintaku

yang aku tahu kau hanya untukku

tatap mataku dan kau kan tahu

semuanya yang ku rasakan

***
Jakarta, Indonesia23 Mei
argh! mengapa hari ini harus ada? mengapaa!hari suram yang paling kubenci akhirnya menampakkan diri. namun dari pagi hari tadi saat aku bagun, tak ada tanda-tanda kesialan yang akan menimpaku. tunggu saja sampai acara di sekolah nanti selesai, dan aku akan merasakan kesialan hari ini. aku sangat tidak ingin melewati hari ini, karena. karena hari ini Alvin wisuda kelulusan. dan itu artinya aku tidak akan bisa bertemu lagi dengannya. tapi, tunggu! bukankah dengan kepergiannya aku dapat melupakannya lebih cepat?hemm.. ya! benar juga.
“hey! cha!” aku menyapa sahabatku, acha yang pertama kali kulihat begitu aku tiba disekolah.”eh, Ify. kukira kamu nggak bakalan masuk. hehee”lalu Via, Agni, Zahra, dan Dea muncul. saat melihat aku, mereka semua berteriak histeris. “IFYYY! kamu serius mau dateng ke sekolah?”sebelum aku berangkat tadi, aku mengirim sms ke sahabat sahabatku terlebih dahulu. aku nanti ke sekolah🙂.
cih. aku nggak selemah apa yang kalian kira, batinku lalu tersenyum masam.
miracle. aku masih hidup. aku masih bernafas.padahal hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan Alvin. tapi hingga saat ini aku belum menemukan batang hidungnya.kuputuskan untuk pulang. mungkin aku dan dia tidak berjodoh. lagi pula kalau kami memang berjodoh juga tidak akan kemana, benar kan?saat melewati taman sekolah. aku menangkap sesosok orang yang tak asing. Alvin! namun raut wajahnya sangat sedih. setelah terlibat perang batin, akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan Alvin. lagi pula ini hari terakhir aku bertemu dengannya, mubazir bila kulewatkan begitu saja. atau sekedar untuk say ‘good bye’ padanya.
“Ehmm” aku berhedam. namun Alvin tak menggubris, sepertinya ia sedang sibuk dengan pikirannya hingga tak menyadari aku kini berada di sampingnya. tarik nafas. hembuskan.”Ehmm” kali ini aku berhedam lebih keras. sepertinya Alvin tersentak ke alam sadar. dia memperhatikanku. wajahnya benar benar kusut, sorot matanya dingin dan seperti ada sinar keputus asaan dan keterpurukan.”aku boleh duduk disini?” tanyaku sambil menunjuk kursi di samping alvin.”…” Alvin tak menjawab, diam berarti tanda setuju.”sorry, aku boleh tanya nggak?””…” Alvin tidak menjawab pertanyaanku lagi.”kau terlihat sedih. Nilaimu tidak memuaskan ya?”Alvin melihatku, masih tersirat rasa itu. keterpurukan. lalu bola mata alvin berganti ke fokus lain, seakan memberitahu penyebabnya aku pun mengikuti arah bola matanya.aku tesentak kaget. bukankah itu. Shilla. dan. astaga! Rio!sekarang aku mengerti, “Kau cemburu?” tanyaku pada Alvin.kali ini alvin memandangku. sangat dingin dan tak bersahabat seolah berkata jangan ikut campur usuran orang lain!aku menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokanku terasa amat kering. lalu aku berdiri, melangkah lalu berkata “maaf, aku tak bermaksud untuk mencampuri urusanmu. aku.. hanya ingin mengucapkan. selamat tinggal” lalu aku segera pergi dari hadapan Alvin.Aku mencintainya, aku mencintainya dengan tulus, tapi kenapa ia tak memberiku kesempatan untuk menunjukkan rasa cintaku yang tulus ini padanya.
***
aku bertahan karna ku yakin cintaku padamu

sesering kau coba tuk mematikan hatiku

takkan terjadi yang aku tahu kau hanya untukku

aku bertahan ku akan tetap pada pendirian

kusekeras kau coba tuk membunuh cintaku

yang aku tahu kau hanya untukku
***
3 tahun kemudianParis, Prancis.
aku mendapat beasiswa di Sorbonne paris. Seperti saat ini, aku baru pulang dari kampus dan sekarang aku sedang berjalan menuju tempat kos ku yang tak jauh dari kampus.Angin musim semi menerpa wajahku. hari ini sangat cerah, hatiku pun berbunga bunga seperti bunga yang mekar di pohon itu. tunggu bunga apa itu? aku belum pernah melihat bunga itu sebelumnya. karena terlalu fokus aku memperhatikan bunga itu dan aku masih dalam ke adaan berjalan.BRUK. aku terjatuh, rupanya aku menabrak seseorang.”désolé” (maaf) ucapnya sembari menolongku berdiri.”merci” (terimakasih) balasku. tunggu, wajah pria ini rasanya tak asing. wajah oriental, matanya yang sipit. sepertinya aku pernah melihat pria ini sebelumnya.tapi, kapan? siapa? tapi sepertinya aku pernah bertemu pria ini di jakarta.”pouvez-vous parler bahasa indonesia?” (dapatkah kamu berbicara bahasa indonesia?)”ya.. kau, Alyssa Saufika, betul?””eh, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?””ya! aku Alvin Jonathan” aku terbelalak. dia.. dia Alvin? apakah aku sedang bermimpi. “Sepertinya kau lupa denganku” ucapnya lagi.”oh tidak. Tidak! mana mungkin aku bisa lupa dengan, eh.. maksudku aku tidak lupa denganmu, Alvin” ucapku seraya tersenyum.”kau bersekolah disini?” tanyanya sambil menunjuk Sorbonne University.”ya, aku mendapat beasiswa? sedangkan kau sendiri, kau juga bersekolah disini?””hemm.. ya!””oh””terimakasih!””ha? untuk?””untuk segalanya” apa yang alvin maksud. aku benar benar tidak mengerti. “kau mengajariku arti dari cinta yang tulus, dan sekarang aku mencoba untuk mencintaimu dengan tulus””…” aku syok.”jadi, boleh kah aku menjadi kekasih hatimu, yang akan menerima keadaanmu apa adanya?” aku hanya terdiam. aku tak berani menatap muka Alvin. Pasti sekarang mukaku memerah, semerah kepiting rebus.”Ify..” panggil Alvin.”oui, bien sur” (ya, tentu)
***
aku bertahan ku akan tetap pada pendirianku

sekeras kau coba tuk membunuh cintaku

yang aku tahu kau hanya untukku
THE END

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: