3600 Detik versi ICIL : Bab 3 “Teman Sejati”

2 Jan

3600 Detik versi ICIL : Bab 3 “Teman Sejati”

 

IFY menatap rumahnya dengan perasaan hampa. Sebesar apa pun rumahnya, tidak ada kehangatan di dalamnya. Walaupun banyak pembantu yang berada di rumahnya untuk memasak, memotong rumput, membersihkan rumah, Ify tetap merasa kesepian. Bahkan ketika mamanya ada juga, dia tetap merasa kesepian. Ify tahu banyak orang yang ingin bertukar tempat dengannya untuk menjalani kehidupan mewah seperti itu, tetapi Ify malah tidak menginginkannya sama sekali.

Setelah meletakkan tasnya di kamarnya, Ify bersiap-siap berganti pakaian untuk pergi ke sebuah kelab. Ketika melihat uang di dompetnya habis, dia menuju kamar mamanya. Satu-satunya saat dia melihat kamar mamanya adalah saat dia membutuhkan uang. Ify membuka lemari dan laci-lacinya. Dia tidak menemukan apa yang dicarinya di sana.

Lalu dia melangkah ke atas meja rias mamanya. Ify menarik lacinya. Tidak ada uang, tetapi ada kartu kredit dan jam tangan emas mamanya. Ify tersenyum. Diambilnya kartu kredit tersebut dan dikenakannya jam tangan emas itu di tangannya. Apa yang akan dipikirkan mamanya kalau dalam satu hari dia menghabiskan limit kartu kredit itu. Ketika Ify hendak menutup laci itu lagi, pandangannya jatuh pada selembar undangan yang ada di sana, yang baru ia perhatikan keberadaannya.

Karena penasaran Ify mengambilnya dan membuka isinya. Rasa terkejut menerjangnya hingga ia terduduk di kursi rias. Dia tidak memercayai isi undangan itu. Ify menarik napas pendek-pendek untuk menahan amarahnya. Dia meremas tangannya lalu memorak-porandakan seluruh barang yang ada di meja rias mamanya. Dan berteriak keras.

Tiba-tiba HP-nya berbunyi. Ify melihat dengan kesal. Papanya menelepon lagi. Dia langsung memutuskan hubungan telepon itu. Setelah tiga kali mencoba menghubungi Ify dan terus ditolak, papa Ify akhirnya memutuskan untuk mengirim SMS.

Hubungi Papa. Papa ingin berbicara denganmu.

Ify membacanya lalu langsung menghapus pesan itu. Setelah itu ia mematikan HP-nya. Ify benar-benar sebal pada papanya. Dengan perasaan marah, ia berjalan ke ruang tamu dan duduk di sana sampai mamanya pulang.

Ketika Ginapulang dari kantor sore harinya, ia mendapati Ify duduk dengan tenang di ruang tamu. Ia terkejut karena Ify menungguinya.

“Ada apa?” Gina meletakkan tas kerja dan kunci pintu rumah di meja lalu berjalan ke arah putrinya.

Ify melemparkan undangan yang ditemuinya siang tadi ke meja. Ia melihat undangan tersebut dan wajahnya langsung memucat.

“Apa ini?” tanya Ify dingin.

“Ify….,” katanya dengan lemah.

“Mama mau menyimpannya sampai kapan?” teriak Ify. “Kapan Mama mau memberitahu aku!?”

“Ify…,” ujarnya berusaha menenangkan Ify, “Mama akan memberitahumu besok!”

“Mama bohong!!!!” teriak Ify. “Undangan itu dikirim seminggu lalu. Kenapa Mama tidak memberitahuku saat itu? Aku benci Mama!!!!!!!”

Ify berlari ke luar ruangan sambil membanting pintu. Di dalam rumah, Gina duduk dengan lelah di ruang tamu. Dia melihat undangan di depannya sambil mendesah. Dia tahu cepat atau lambat Ifyakan mengetahuinya juga. Hanya saja dia mencari waktu yang tepat untuk mengatakannya.

Tak berapa lama kemudian, Ify tiba di sebuah kelab. Ditunjukkannya KTP palsu yang pernah ia buat unttuk memalsukan umurnya yang sebenarnya. Ify tidak menyangka membuat KTP palsi begitu mudah ketika uang tidak menjadi masalah. KTP palsu itu sering dia perlukan kalau ingin memesan minuman keras. Penjaga kelab memerhatikan KTP di tangannya dan melihat orang di hadapannya.

Ify balas menatap penjaga kelab tersebut dengan tenang. Dia sudah sering melakukan ini puluhan kali san selalu berhasil. Ify selalu terlihat percaya diri dan tidak panic. Si penjaga kelab mengembalikan KTP Ify dan mempersilahkannya masuk.

“Terima kasih!” kata Ify dengan sopan.

Ify duduk di restoran klab itu, dan beberapa saat kemudian seorang pelayan menawarkan menu padanya.

“Saya minta semua yang ada di menu!” kata Ify langsung tanpa basa-basi.

“Semua?” tanya pelayan itu bingung.

“Iya! Semuanya! Sekarang juga!” kata Ify kesal.

Si pelayan pergi tanpa berkata-kata lagi.

Ify mengeluarkan bungkus rokok dari tasnya dan mulai merokok. Dia tidak tahu lagi sudah mengisap rokok beberapa banyak hari itu, tetapi kegalauan hatinya tidak kunjung mereda. Akhirnya Ify memejamkan mata, mencoba melupakan segalanya. Ketika dia membuka matanya kembali, meja di depannya sudah penuh dengan berbagai macam makanan dan minuman.

Ify bangkit berdiri dan menghampiri kasir. Dia mengeluarkan kartu kredit mamanya. Saat penjaga kasir menyodorkan bonnya, Ify dengan mudah meniru tanda tangan mamanya, seperti yang tertera di kartu kredit tersebut. Dia sudah sering kali meniru tanda tangan mamanya. Terutama jika guru-gurunya yang terdahulu memintanya untuk mendapatkan tanda tangan tersebut saat nilai ulangan Ify jelek. Ify tidak merasa menyesal ketika dia keluar dari kelab itu tanpa menyentuh makanan yang dipesannya sama sekali.

 

***

 

Keesokan harinya Alvin mengunjungi kelas Ify.

Kedatangan Alvin membuat semua murid kelas 3 IPA2 memandang ke arahnya. Pandangan Alvin menyapu seluruh ruangan, tetapi dia tidak menemukan orang yang dicarinya.

“Permisi!” kata Alvin pada seorang murid kelas itu. “Kau tahu Ify di mana?”

Murid di hadapan Alvin merasa heran. “Aku tidak tahu! Hari ini dia tidak masuk sekolah lagi!”

Perasaan kecewa menghinggapi diri Alvin. Kenapa dia bolos lagi?

“Terima kasih!” kata Alvin sambil berjalan keluar dari kelas.

Siang itu Alvin hanya bisa mengikuti pelajaran setengah hari karena harus melakukan pemeriksaan lagi di rumah sakit. Alvin berharap bisa bertemu dengan Ify hari itu. Alvin tidak bisa menggambarkan perasaannya saat bertemu gadis itu. Yang pasti bukan perasaan hampa.

Sewaktu Alvin keluar dari sekolah, Pak Budi, sopir keluarganya, sudah menunggunya di depan gerbang. “Siang, Pak!” sapa Alvin.

“Siang, Alvin!” kata Pak Budi.

Pak Budi sudah menjadi sopir keluarganya semenjak Alvin lahir, jadi beliau sudah tahu segalanya tentang Alvin dan dia merasakan simpati yang mendalam terhadapnya. Ia teringat saat Alvin kecil menangis ketika diajak ke rumah sakit, Alvin kecil yang berusaha kabur setiap kali dokter datang, atau bagaimana Alvin meminta untuk dibawa pergi ke tempat yang tidak seorang pun mengetahuinya.

Pak Budi sangat menyayangkan pemuda sebaik dan sepintar Alvin mendapat penyakit yang mematikan. Sesudah membukakan pintu untuk Alvin, Pak Budi beralih ke kursi kemudian dan menjalankan mobil.

Di tengah perjalanan, Alvin melihat Ify memasuki tempat biliar. Alvin pasti tidak salah melihat karena dia bisa mengenali rambut merah itu di mana saja.

“Pak! Berhenti dulu!” kata Alvin pada Pak Budi tiba-tiba.

Pak Budi menghentikan mobilnya di tempat parkir terdekat.

“Ada apa, Alvin?” tanya Pak Budi panik.

“Tolong Pak Budi tunggu di sini sebentar!” kata Alvin sambil keluar dari mobil.

Alvin berjalan menuju tempat biliar dan masuk ke dalamnya. Dilihatnya Ify sedang memainkan bola biliar di meja paling ujung. Ketika merasa seseorang melagkah mendekatinya, Ify langsung menoleh. Alvin adalah salah satu orang yang tidak ingin dilihatnya hari ini.

“Apa yang kaulakukan di sini?” bentak Ify. “Keluar! Aku tidak mau melihatmu!”

Alvin berdiri di seberang Ify.

“Mengapa kau bolos sekolah hari ini?”

Ify berkonsentrasi pada sebuah bola tanpa menyimak perkataan Alvin. Disodoknya bola itu hingga keluar papan dan menuju ke arah perut Alvin.

“Aku sudah bilang jangan pernah campuri urusanku!” kata Ify dingin.

Alvin mengambil bola yang jatuh di sebelahnya dan meletakkannya kembali di papan biliar sambil memandang Ify dengan tajam. Alvin memandangnya beberapa saat seperti itu tanpa berkata apa-apa.

Ify yang tidak senang diperhatikan seperti itu lama-lama membanting tongkat yang dipegangnya dan berjalan mendekati Alvin.

“Kau bisa main biliar?” tantang Ify.

“Tidak,” jawab Alvin.

“Punya uang untuk taruhan?” tantang Ify lagi.

“Tidak,” jawab Alvin lagi.

“Kalau begitu apa yang kau lakukan di sini?” teriak Ify di depan hidung Alvin.

“Menemunimu,” Alvin menjabnya dengan sederhana.

“Kau memang penguntit,” gerutu Ify sambil merengut. “Tidak punya kerjaan lain, ya?”

Alvin tidak menjawab.

“Baik!” kata Ify ketus. “Kalau kau tidak mau leuar, terserah.” Lalu tatapan Ify beralih pada orang di sebelahnya. “Ayo, kita lanjutkan!”

“Kita mau bertaruh apa?” tanya orang di sebelahnya.

Ify melirik jam tangan emas mamanya yang diambilnya kemarin, lalu melemparnya kepada orang itu. “Kalau kau menang, kau boleh memiliki jam tangan emas ini!”

“Kalau aku kalah?” tanya orang itu balik.

“Kau boleh memiliki jam tangan emas ini juga! Bukankah itu tawaran yang menarik?” jelas Ify.

“Menang atau kalah aku tetap dapat jam tangan emas inni!” kata orang itu sambil mengangguk. Dia memerllihatkan jam tersebut dengan teliti. Matanya sudah terlatih untuk melihat benda-benda berharga. Dia yakin jam tangan yang dipegangnya adalah emas asli. “Setuju!” katanya kemudian.

Ify mengambil tongkat biliarnya lalu mulai bersiap-siap untuk memukul bola. Tangan Alvin sudah berada di tangan Ify sebelum dia sempat menggerakkan tongkatnya.

“Apakah kau tidak lelah menyakiti dirimu sendiri?” kata Alvin perlahan.

Ify menyentakkan tangannya dengan kasar. “Cukup! Aku sudah tidak tahan lagi denganmu! Apa kau berpikir dengan bertemu satu-dua kali kau sudah mengenalku? Jangan kaukira karena kau penyakitan maka aku tidak bisa memukulmu! Aku tidak peduli!” Ify menunjuk dada Alvin. “Apa mungkin itu yang harus kulakukan? Memukulmu supaya aku dikeluarkan dari sekolah?”

Alvin hanya terdiam mengamati ify.

Lama-kelamaan Ify menjadi semakin kesal. Tiba-tiba ia mengeluarkan sebatang rokok.

“Kau mau coba?” tanya Ify sinis sambil mengulurkan rokok tersebut pada Alvin. “Toh jantungmu sudah sakit, jadi apa salahnya mengisap satu saja?”

Alvin mengambil rokok yang diulurkan Ify dan membuangnya ke tempat sampah. “Tampaknya hari ini suasana hatimu sedang buruk!”

“Bukankah kau ingin jadi temanku?” tanya Ify mengejek Alvin lagi. “Kalau begitu temani aku main biliar ini!”

Alvin tergoda untuk menyanggupinya tetapi dia teringat Pak Budi yang sedang menunggunya di depan. “Maaf, hari ini aku tidak bisa! Aku ada janji lain!”

Ify tertawa terbahak-bahak. “Aku sudah menyangkanya. Pasti kau mau kabur ke Pak Donny dan memberitahu dia kalau aku ada di sini sedang main biliar. Silakan saja beritahu. Aku tidak peduli. Malah bagus, aku sudah tidak sabar ingin keluar dari sekolah itu!”

Alvin menatap Ify dengan sedih. “Kau salah. Aku tidak akan mengadu pada siapa pun tentang keberadaanmu!”

“Ha ha ha!” tawa Ify singkat. “Aku tidak percaya padamu! Aku tidak percaya pada semua orang! Jadi pergi saja dari hadapanku!”

Alvin menarik napas panjang. “Aku harap bertemu denganmu di sekolah besok!” Dia lalu berjalan ke arah pintu.

Ify tersenyum pendek. “Jangan terlalu berharap banyak, anak teladan. Kalau aku pergi ke sekolah besok, pasti aku akan berbuat onar. Nanti kau akan kecewa dan jantungmu tidak kuat menahannya!”

Alvin menoleh, sekali lagi menatap Ify. “Lalu kenapa kau tidak datang ke sekolah besok dan melihatnya sendiri?” setelah itu Alvin membuka pintu dan pergi dari hadapan Ify.

Alvin masuk ke mobil.

“Ayo, jalan, Pak!” kata Alvin lemah.

Pak Budi belum pernah melihat Alvin seaneh itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Pak Budi khawatir.

“Tidak apa-apa,” jawab Alvin menenangkan. “Mari kita ke rumah sakit! Papa pasti sudah menunggu!”

Pak Budi segera menjalankan mobilnya.

Melihat kepergian Alvin, Ify tidak punya keinginan lagi untuk meneruskan permainannya. Lalu dia melemparkan tongkat biliar ke atas meja.

“Aku tidak mau main lagi!” kata Ify.

Sekeluarnya dari tempat biliar, Ify mendesah. Dia tahu tadi dia telah bersikap keterlaluan terhadap Alvin, tetapi dia kan sudah beberapa kali memperingatkan pemuda itu. Ify masih tidak bisa memikirkan alasan kenapa Alvin ingin berteman dengannya, padahal jelas-jelas dia tidak mau berteman dengan Alvin. Ada sesuatu dari tatapan mata Alvin yang membuat Ify merasa bersalah. Seakan-akan Alvin telah melihat jiwanya. Sesaat tadi, Ify sempat memercayai perkataan Alvin bahwa dia tidak akan mengadukan Ify pada Pak Donny tentang pertemuan mereka di tempat biliar.

Baiklah, anak teladan. Besok aku akan membuat onar lagi dan kita lihat sejauh mana kau mau menjadi temanku! Tekad Ify dalam hari.

 

***

 

Sudah malam saat Ify memasuki rumahnya setelah bermain seharian. Mama, seperti biasa sudah duduk di kursi tamu.

“Dari mana saja?” tanya Gina. “Tadi siang Mama mendapat telepon dari sekolahmu, katanya kau membolos lagi!”

Ify menatap mamanya dengan santai. “Jadi kenapa? Toh itu bukan hal baru lagi!”

Gina menghela napas panjang. “Apakah kau masih mau seperti ini, Ify?”

“Ya!” kata Ify. “Aku memang tidak mau berubah!”

Gina ingin mengatakan sesuatu lagi tetapi dering telepon menghentikan perkataannya. “Jangan pergi dulu! Mama belum selesai berbicara denganmu!”

Ia mengangkat telepon di dampingnya. “Halo!”

Untuk sesaat ia mendengarkan suara si penelpon. “Ya, benar!” katanya kemudian. “Kemarin sore saya memang melaporkan bahwa saya telah kehilangan kartu kredit!”

Beberapa detik kemudian, ia mengerutkan dahinya dengan bingung. “Apa maksud anda? Kartu kredit saya baru saja digunakan kemarin!? Tapi saya sama sekali tidak menggunakannya kemarin. Saya yakin kartu kredit saya sudah dicuri.”

Ify dengan tenang mengampiri mamanya dan memutuskan pembicaraan telepon itu.

“Apa yang kaulakukan?” protes Gina. “Mama sedang menelepon!”

Ify mengambil kartu kredit mamanya dari sakunya dan melemparnya ke meja telepon. “Aku yang mencuri kartu kredit Mama. Dan aku menggunakannya kemarin malam di kelab!”

Gina terpana tidak percaya. “Kenapa kau tega melakukan hal seperti ini, Ify? Sekarang kau berani mencuri dari Mama?”

“Seharusnya Mama tidak heran lagi!” kata Ify. “Mungkin suatu hari aku akan berakhir di penjara!”

Secepat kilat tamparan Gina mengenai pipi Ify. Tetapi secetat itu pula dia menyesali perbuatannya.

Ify menyentuh pipinya dan tertawa. “Ayo, tampar aku! Pasti Mama sudah ingin melakukannya dari dulu!”

Gina menatap putrinya dengan sedih. “Mama tidak bermaksud demikian, Ify. Hanya saja perkataanmu tadi sudah keterlaluan. Mama sudah bingung harus berbuat apa. Mama kira dengan pindah ke kota baru dan rumah baru kau akan mendapatkan lingkungan baru dan memulai dari awal lagi!”

Ify tertawa sinis. “Memulai baru? Satu-satunya alasan kenapa Mama mau pindah ke kota ini adalah untuk membuka cabang hotel baru Mama.”

“Itu tidak benar!”

“Seakan-akan lima hotel masih kurang!” kata Ify. “Mama harus menambah satu lagi?”

“Tampaknya apa pun yang Mama katakana, kau tidak akan mendengarnya!” Gina menatap Ify sedih. “Mama hanya mau kau percaya bahwa kau satu-satunya yang terpenting bagi mama! Mama berharap suatu hari kau dapat mengerti ini.”

“Aku capek!” kata Ify. “Aku tidak mau mendengar omongan Mama lagi!”

“Ify…”

Tetapi Ify sudah menaiki tangga menuju kamarnya.

“Oh ya, satu hal lagi!” kata Ify menoleh ke arah mamanya. “Aku juga mengambil jam tangan emas yang ada di laci Mama. Aku rasa mama tidak akan melihat jam tangan itu lagi!”

“IFYYY!!!” teriak Gina kesal.

Ify masuk ke kamrnya sambil menutup pintu keras-keras.

Di lantai bawah, Gina menangis terisak-isak.

Satu hari lagi berlalu dengan pertengkaran hebat.

 

***

 

Keesokan paginya Ify sudah mempersiapkan apa saja yang akan dilakukannya di sekolah supaya dia dikeluarkan hari itu juga. Ada sejumput perasaan aneh yang menghinggapi hatinya saat terpikir dia tidak akan bertemu Alvin lagi. Suka atau tidak, Alvin adalah satu-satunya orang yang peduli padanya setelah sebelum tidak akan seorang pun yang berani mendekatinya.

Ketika bel tanda pelajaran berbunyi, Pak Donny mendekati Ify.

“Istirahat nanti temui Bapak di ruang guru!” kata Pak Donny tegas. “Kau sudah membolos seharian kemarin untuk pergi ke tempat biliar! Coba renungkan hukuman apa yang pantas untukmu”

Setelah berkata demikian, Pak Donny pergi meninggalkannya.

Ify terkejut bercampur marah mendengar perkataan wali kelasnya.

Percaya pada Alvin??? Betapa bodohnya aku sempat berpikir untuk memercayai anak penyakitan itu, teriak Ify dalam hati, semua orang sama saja, tidak bisa dipercaya. Teman apanya? Dia hanya ingin jadi anak teladan kesayangan guru

Saat Istirahat, sebelum menemui Pak Donny, Ify melabrak Alvin di kelasnya. Saat itu Alvin sedang duduk seorang diri sambil menulis sesuatu di bukunya.

“Aku salut padamu!” kata Ify keras. “Bagaimana kau bisa munafik seperti ini? Dengan memakai alasan teman segala!”

Alvin tidak mengerti perkataan ify. Maksudnya?”

Ify tertawa sinis. “Masih pura-pura tidak mengerti, lagi! Aktingmu hebat sekali! Kau memberitahu Pak Donny kalau aku ke tempat biliar kemarin!”

Kali ini giliran Alvin yang terkejut. Dia meletakkan bolpoinnya dan menatap Ify dengan serius. “Aku tidak memberitahu siapa pun!”

“Bohong!” teriak Ify. “Wali kelasku baru saja memanggilku pagi ini, memintaku menemuinya karena aku berada di tempat biliar kemarin. Kalau bukan kau siapa lagi yang mengatakannya, hah?!”

“Aku benar-benar tidak mengadukanmu!” tegas Alvin.

“Yah! Aku tidak percaya padamu!” Ify berjalan keluar dari kelas Alvin. “Aku hanya ingin melihat tampangmu saat aku memberitahu hal tadi. Dan percayalah ini adalah hari terakhir kalinya kau melihatku karena sudah pasti hari ini aku akan dikeluarkan dari sekolah! Kau pasti senang, kan?”

“Ify!” teriak Alvin.

Teriakan Alvin berhasil membuat Ify menghentikan langkahnya, tetapi ua tidak membalikkan badannya.

“Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, tetapi aku benar-benar tidak memberitahu Pak Guru soal kemarin. Kau temanku dan aku tidak mau melihatmu pergi dari sekolah!”

Ify berbalik dan melihat tatapan sedih memancar dari mata Alvin. “Yah, kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan, bukan?”

Sesudahnya Ify menemui Pak Donny di ruangannya.

“Duduk, Ify!”

Ify duduk menghadap wali kelasnya.

“Apakah kau mau mengakui kalau kemarin kau bolos dan main ke tempat biliar?” tanya Pak Donny tanpa basa basi.

“Ya, benar!” sahut Ify. “Apakah sekarang Bapak akan mengeluarkan saya?”

Pak Donny tersenyum. “Kau benar-benar berpikir Bapak akan mengeluarkanmu? Aku masih belum menyerah menghadapimu, Ify! Mengeluarkanmu adalah langkah terakhir. Bapak masih ingin memberimu kesempatan. Jadi mulai hari ini hukuman membersihkan WC-mu akan diperpanjang jadi enam minggu!”

“Saya lebih suka dikeluarkan!” kata Ify tenang.

“Bapak tahu!” kata Pak Donny sambil tertawa. “Tapi Bapak lebih sukahukuman yang ini! Kalau kau tidak mau melakukannya, Bapak akan tembah lagi dua minggu sampai kau mau melakukannya!”

Ify mendesah.

“Kalau tidak ada pertanyaan lagi, kau boleh keluar!” kata Pak Donny.

Ify bangkit dan melangkah ke luar.

“Oh ya, satu hal lagi,” lanjut Pak Donny, “kalau kau mau main biliar, jangan lakukan lagi di dekat rumah Bapak kalau tidak mau ketahuan!”

Ify berhenti melangkah dan berbalik menghadap Pak Donny. “Maksud Bapak, kemarin Bapak melihat saya di tempat biliar?”

“Iya!” kata Pak Donny.

Ify tertawa. “Wow, saya tidak menyangka Bapak membolos juga kemarin!”

Pak Donny menatap Ify dengan tajam. “Kemarin Bapak memang izin dari sekolah karena urusan keluarga! Bapak tidak membolos, Ify. Bapak benar-benar ingin melihatmu berubah menjadi lebih baik. Bapak harap kau bisa menerima hukuman dari Bapak dan melaksanakannya!”

Ify hanya mendengus, namun dia akhirnya tahu kalau ternyata bukan Alvin yang memberitahu pak Donny. Beliau tahu karena melihatnya sendiri. Tampaknya Ify telah salah sangka.

Sepulang sekolah, Ify melihat Alvin yang sedang duduk sambil melamun sedih. Kelas sudah kosong karena para murid yang lain sudah pulang semua. Ify mendekati Alvin dan berdiri di depannya.

“Bukan kau yang memberitahu Pak Guru!” kata Ify member pernyataan.

Alvin tersadar dari lamunannya dan menatap Ify dengan pandangan, “kan sudah kubilang”.

“Aku minta maaf,” lanjut Ify.

Alvin bangkit dari kursinya dan meletakkan tasnya di punggungnya. “Jadi aku tidak akan melihatmu lagi karena kau akan dikeluarkan dari sekolah!”

Ify tersenyum. “Sebetulnya aku tidak dikeluarkan dari sekolah. Hanya disuruh membersihkan WC enam minggu!”

Alvin tertawa balik. “Enam minggu? Lama sekali. Kau akan melakukannya?”

Ify nyengir. “Tidak!”

Alvin mendesah. “Sayang sekali!”

“Kenapa?” tanya ify heran.

“Karena tadinya aku mau menemanimu!”

Siang itu, sepulang sekolah Ify membersihkan toilet ditemani Alvin. Tanpa sepengetahuan mereka, Pak Donny melihatnya dari jauh dan tersenyum.

Alvin memerhatikan Ify yang sedang membersihkan WC dengan senang. Tiba-tiba Ify tertawa.

“Apa yang kautertawakan?” tanya Alvin ingin tahu.

“Aku hanya memikirkan perkataan yang dulu!” kata Ify.

“Yang mana?”

“Kau bilang hidupmu hanya berkisar di rumah sakit, sekarang aku merasa hidupku hanya akan berkisar di toilet!”

Alvin terbahak mendengarnya.

“Kau tidak akan membersihkan WC kalau kau tidak melakukan kesalahan lagi!”

“Yah, benar!” kata Ify malas. “Tapi aku punya perasaan aku akan melakukannya lagi!”

“Berhentilah menyakiti dirimu sendiri!” kata Alvin serius. “Rasanya tidak enak. Aku pernah mengalaminya waktu berumur dua belas tahun. Papa melarangku pergi ke taman bermain bersama teman-teman karena aku tidak cukup sehat. Aku mengamuk seharian. Ketika melihat Papa dan Mama menangis, akhirnya aku berhenti mengamuk dan sadar bahwa mereka juga sedih!”

Ify terdiam mendengar cerita Alvin. Ify membayangkan Alvin yang berusia dua belas tahun mengamuk karena tidak bisa pergi ke tempat bermain seperti anak yang lainnya. Di lain pihak, dirinya mungkin sedang bersenang-senang di taman bermain tersebut bersama papa dan mamanya. Kenangan akan papanya membuat Ify sedih lagi.

“Setahun yang lalu orangtuaku bercerai! Aku tidak pernah dekat dengan Mama, dan Papa malah meninggalkan aku dengannya! Aku benci mereka berdua!”

Begitu rupanya, kata Alvin dalam hati.

“Aku marah sekali dan berusaha sekeras mungkin untuk menyakiti Mama dan orang-orang yang kutemui!” lanjut Ify.

“Tetapi kau malah menyakiti dirimu sendiri lebih dalam lagi!” Alvin menyelesaikan perkataan Ify.

“Ya!” Ify mengangguk. “Dua hari yang lalu aku menemukan undangan pertunangan papaku! Papa akan bertunangan di luar negeri! Itulah sebabnya aku marah sekali dan membolos untuk pergi ke tempat biliar. Tapi betapapun aku membencinya, aku tetap merindukannya!”

“Kalau kau begitu merindukannya, kenapa kau tidak pergi menghadiri pertunangannya?” tanya Alvin lembut.

Ify menggeleng. “Aku belum siap menghadapi Papa!” Ify membersihkan kain pel yang sudah dipakainya dan mengembalikan tongkat pel itu ke tempatnya semula.

“Tidak usah terburu-buru!” kata Alvin menghibur. “Kau akan tahu saat yang tepat untuk menemuinya!”

“Waktu itu aku pasti sudah siap!” kata Ify yakin.

Alvin tersenyum. “Sudah selesai?”

“Ya!” kata Ify mantap.

“Baiklah!” kata Alvin. “Aku pulang dulu! Pak budi, sopirku, pasti sudah menunggu dari tadi! Kau mau kuantar pulang?”

Ify menggeleng. “Tidak usah! Aku bisa pulang sendiri!”

“Sampai jumpa besok!” ujar Alvin, membalikkan badannya dan melangkah menuju gerbang sekolah.

“Alvin!!” teriak ify.

Alvin berbalik menghadap Ify lagi. “Apa?”

“Aku mau jadi temanmu!” kata Ify keras.

Alvin tersenyum dan berjalan mendekati Ify lagi. “Terima kasih!”

“Hanya satu yang membuatku penasaran,” lanjut Ify.

“Apa itu?”

“Kenapa kau mau berteman denganku?”

Alvin menjawab dengan yakin, “Alasan yang sama kau ingin berteman denganku! Karena tidak ada yang mau berteman dengan orang yang penyakitan!”

“Dan tidak ada yang mau berteman dengan anak berandalan!” tandas Ify menyelesaikan.

Mereka berdua tersenyum.

Bye!” ujar Alvin akhirnya.

Ify memandang punggung Alvin yang menjahuinya. Untuk pertama kali dalam setahun ini dia merasa gembira.

 

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: