3600 Detik versi ICIL : Bab 8 “Liburan”

23 Okt

Hari ini adalah hari pembagian rapor. Ify duduk di kelasnya dengan khawatir. Dia tidak yakin nilai rapornya akan bagus. Dalam hati kecilnya dia tidak ingin membuat Alvin dan mamanya kecewa. Tapi, setidaknya kali ini dia sudah berusaha. Pak Donny masuk ke kelas sambil membawa rapor dan banyak kartu pos. beliau meletakkan rapor dan kartu pos tersebut di mejanya dan berjalan ke papan tulis.

    “Hari ini kalian akan mendapatkan hasil belajar kalian selama satu semester ini!” kata Pak Donny, “tapi sebelumnya ada sesuatu yang ingin Bapak sampaikan! Sebagaimana yang telah kita ketahui, di seberang sekolah kita telah dibuka kantor pos baru. Mereka ingin memberikan kartu pos pada kita sebagai kenang-kenangan.” Lalu Pak Donny meletakkan setumpuk kartu pos di meja terdepat masing-masing baris. “Bapak yakin kalian akan menikmati liburan kalian setelah pembagian rapor ini. Jadi kartu pos ini dapat kalian gunakan untuk mengirim kabar pada teman kalian saat kalian pergi ke luar kota atau luar negeri!”

    Ify melihat sekilas kartu posnya yang berwarna biru, lalu memasukkannya ke tas.

    “Nah,” kata Pak Donny, “sekarang Bapak akan membagikan rapor berdasarkan urutan nama kalian. Bagi yang namanya dipanggil silakan maju ke depan.” Jantung Ify berdebar-debar kencang saat akhirnya namanya dipanggil. Pak Donny menatap murid yang duduk di hadapannya. Dia membuka rapor di tangannya.

    “Bapak tidak tahu harus mengatakan apa!” kata Pak Donny menarik napas.

    Melihat ekspresi Pak Donny, Ify merasa putus asa.

    “Nila-nilaimu memang masih kurang!” kata Pak Donny, “tapi Bapak tahu kau sudah berusaha. Kau masih punya kesempatan untuk memperbaiki nilaimu semester depan. Walau begitu Bapak tetap merasa senang karena tidak ada satu pun nilai merah di rapormu.”

    “Tidak ada yang merah?” tanya Ify terkejut.

    “Ya!” kata Pak Donny sambil tersenyum. “Kelihatannya kau sudah berusaha memperbaiki nilaimu dibandingkan tahun lalu. Bapak tahu kau bukan anak yang bodoh dan sampai saat ini Bapak tidak menyesal karena telah memberikan kesempatan padamu untuk membuktikan hal itu pada dirimu sendiri. Jadi semester depan, cobalah berusaha lebih baik lagi!”

    Pak Donny menunjukkan rapor Ify padanya. “Ini! Kau bisa melihat sendiri!”

    Ify melihat nilai-nilai di rapornya. Memang banyak nilali enam, tapi tidak ada nilai merah. Satu-satunya nilai yang bagus hanyalah nilai olahraga. dia mendapat angka delapan untuk pelajaran tersebut.

    “Berjuanglah semester depan, Ify!” Pak Donny member semangat.

    “Terima kasih, Pak!” Ify tersenyum.

    Ify keluar dari kelas sambil tersenyum. Memang nilainya masih jauh dari sempurna, tapi dia benar-benar sudah berusaha. Dan saat ini dia bangga akan hasilnya. Alvin sudah mengingatkannya dari pagi bahwa dia ingin melihat rapor Ify.

    Ify tidak melihat Alvin di kelasnya.

    “Kau tahu dimana Alvin?” tanya Ify pada salah seorang teman sekelasnya.

    “Oh! Dia dipanggil ke ruang guru!” katanya.

    Ify langsung pucat. Ada apa? Tanyanya panik. Apakah gara-gara nilai rapor Alvin yang menurun?

Ify berlari ke ruang guru. Dia menunggu sampai Alvin akhirnya keluar.

    “Alvin!” sapanya. “Kenapa kau dipanggil? Memang ada masalah dengan nilai rapormu?”

    Alvin mengangguk tanpa semangat. Tangannya memegang rapornya dengan lemas.

    Ify berusaha menghibur. “Tidak apa-apa, Alvin. Kan masih ada semester depan. Kau pasti bisa berusaha lebih baik lagi di semester depan. Pasti nilainya tidak akan lebih parah dari nilai raporku, kan?”

    Alvin menatap Ify dengan serius. “Bagaimana rapormu?”

    Ify memberikan rapornya pada Alvin. “Tidak jelek! Setidaknya tidak ada nilai merah sama sekali! Semester depan kita berusaha bersama-sama, oke!”

    Alvin melihat rapor Ify perlahan-lahan. “Aku senang tidak mendapatkan nilai merah!”

    “Boleh aku melihat rapormu?” balas Ify.

    Alvin menggeleng.

    “Ayolah!” paksa Ify. “Tidak akan seburuk itu, kan?”

    Alvin tetap menggeleng.

    Ify penasaran dan direbutnya raport Alvin dari tangannya.

    “Ify!”

    Tapi Ify berhasil menghindari tangan Alvin dan membuka rapor cowok itu. Ify terkejut melihat rapor Alvin. Dia menutup matanya, lalu memandang sekali lagi untuk memastikan.

    “Nilaimu tidak ada yang jelek!” kata Ify akhirnya. “Semuanya dapat nilai Sembilan!”

    “Memang!” kata Alvin santai.

    “Kalau begitu kenapa kau dipanggil ke kantor guru?” tanya Ify bingung.

    Alvin akhirnya tertawa. “Aku tadi hanya ingin menggodamu. Aku dipanggil ke sini karena para guru mau kasih hadiah atas prestasiku sebagai juara umum.”

    “Hah??? Juara umum???” tanya Ify. “Jadi… kaubohongi aku ya tadi???”

    Alvin mengangguk. “Aku tidak menyangka bisa menipumu!”

    Ify cemberut kesal. “Sebel!!”

    “Aku hanya ingin bercanda!”

    “Tunggu dulu, ada yang tidak aku mengerti!” kta Ify sambil berpikir. “Waktu itu kan kau tidak ikut ujian fisika!”

    “Hei, Non, ada yang namanya ujian susulan!” jawab Alvin.

    “Bagaimana dengan nilai olahragamu?” tanya Ify bingung, “Kok bisa dapat nilai sembilan? Bukannya kau tidak bisa mengikuti olahraga!”

    “Pak Guru memberikan tugas lain untukku!” kata Alvin. “Kliping tentang olahraga!”

    Ify akhirnya mengerti. Ify merasa Alvin bukan orang sembarangan. Dalam kondisi sakit pun dia bisa menjadi juara umum. Ify masih kalah jauh kalau dibandingkan dengannya.

    Mereka berjalan ke taman sekolah dan duduk di bangku.

    “Kau dapat katru pos hari ini?” tanya Alvin memulai. “Punyaku warna kuning!”

    Ify mengangguk dan mengeluarkan kartu pos birunya dari tas. Alvin juga menunjukkan kartu posnya.

    “Aku suka biru!” kata Alvin.

    Ify mengambil kartu pos di tangan Alvin, menukarnya dengan kartu pos di tangannya. “Nah, sekarang kau punya yang biru!”

    Alvin tertawa. “Terima kasih! Jadi… kau akan pergi ke mana liburan ini? Menemui papamu?”

    “Entahlah, aku belum memutuskan!” kata Ify.

    “Kalau kau sudah memutuskan, bawa kartu posmu dan kirimkan padaku. Tulis semua yang kaukerjakan. Oke?”

    “Sip!” kata Ify.

    Mereka terdiam beberapa saat. Alvin menarik napas dalam-dalam.

    “Ify…,” kata Alvin tiba-tiba, “ada yang harus aku katakan padamu.”

    “Apa?”

    Alvin menarik napas lagi. “Kemarin Papa berbicara padaku. Para dokter menyarankan agar aku menjalani operasi jantung.”

    “Kenapa?” protes Ify. “Bahkan kau baik-baik saja? Minggu kemarin kau keluar dari rumah sakit karena kau sudah membaik, kan?”

    Alvin menggeleng. “Kemarin aku menjalani pemeriksaan lagi. para dokter menyimpulkan aku harus menjalani operasi.”

    “Apakah begitu parah?” tanya Ify sedih.

    “Aku sungguh tidak tahu!” kata Alvin. “Operasi ini sangat berisiko. Papa tidak mau aku menjalaninya, tetapi ada kemungkinan aku bisa hidup sehat setelah menjalaninya!”

    “Tapi ada kemungkinan kau juga bisa meninggal!” Ify menyelanya.

    Alvin mengangguk.

    “Kalau begitu jangan dioperasi!” seru Ify. “Setidaknya kau masih bisa hidup lebih lama lagi, kan?”

    Alvin menatap mata Ify. “Aku sudah memutuskan untuk menjalani operasi, Ify!”

    “Mengapa?!!” teriak Ify. “Kau bisa meninggal, Alvin!!”

    “Aku tahu!” balas Alvin keras.

    Alvi ingin meraih tangan Ify, tapi Ify menepisnya. Ify menangis di hadapan Alvin. “Dulu Papa yang pergi, sekarang kau yang akan pergi! Aku tidak mau!!! Aku benci dirimu!!! Aku tidak mau bertemu denganmu lagi!!!”

    Ify berlari meninggalkan Alvin.

    “Ify!!!” teriak Alvin putus asa di belakangnya.

    Ify tidak ingin mendengar apa-apa lagi. Orang yang disayanginya akan pergi lagi meninggalkannya. Ify tidak mau mengalaminya untuk kedua kalinya.

    “Mengapa?!?” teriaknya sambil mendongakkan kepalanya ke langit. “Ini sungguh tidak adil! Alvin adalah anak yang baik, kenapa dia harus menanggung semua ini?”

    Ify pulang ke rumahnya dan langsung menuju kamarnya, lalu menurup pintunya dengan keras. Saat ini dia tidak ingin diganggu siapa pun.

    Ify membenamkan mukanya ke bantal. Dia menangis keras-keras. Setelahnya dia berdiam diri. Seharusnya aku tidak berteman dengannya, teriak Ify dalam hati, aku toh sudah tahu kalau dia punya penyakit mematikan. Aku saja yang bodoh. Aku harus berusaha melupakannya. Aku tidak mau ada orang yang menyakitiku lagi.

    Ify mengambil bantal di sebelahnya dan melemparnya ke lantai. Bodoh! Bodoh! Bodoh! Untuk apa memedulikannya! Kalau dia mau diperasi, operasi saja, apa hubungannya denganku? Toh itu nyawanya. Aku tidak mau berteman dengannya lagi. berapa kali aku harus melakukan kesalahan? Menyayangi seseorang itu terlalu menyakitkan.

 

***

 

Sementara itu Alvin merasa sedih oleh epnolakan Ify. Tetapi dia tahu saat ini sahabatnya itu sebetulnya ketakutan. Alvin berjalan ke ruang music dan melihat piano di depannya. Dia mendekatinya dan duduk di sana sambil memangkukan tangannya di atas piano. Dia merasa tidak berdaya karena tidak ada satu pun yang bisa dia lakukan untuk meringankan beban di hati gadis itu. Ify harus mengatasinya sendiri, kali ini Alvin tidak bisa membantunya. Alvin menarik napas panjang.

 

***

 

Ify berjalan bolak-balik di kamarnya selama beberapa menit terakhir. Dia kesal sekali. Dia merasa dikhianati teman terbaiknya. tega-teganya dia memutuskan sendiri ingin dioperasi tanpa memberitahuku? Bukankah kami berteman kenapa dia ridak menanyakan pendapatku dulu?”

    Ify akhirnya dudul di meja belajarnya dan mendesah. Perasaannya saat ini hampir sama seperti saat papanya pergi ke luar negeri. Tapi kali ini hatinya lebih sakit. Setidaknya dia bisa menemui papanya suatu hati nanti. Tapi lain halnya dengan Alvin. Kalau operasinya tidak berhasil, Ify tidak akan bertemu lagi dengannya.

    Aku tidak boleh menemuinya lagi! kata Ify sambil memandang cermin. Lebih baik aku pergi saha ke luar negeri dan tinggal dengan Papa. Aku tidak mau tahu apa yang terjadi padanya. Ya, itu keputusan terbaik.

    Lalu menyapa hatinya terasa hampa? Tanpa sengaja tatapan Ify jatuh pada CD di depannya. Hadiah ulang tahun dari Alvin. Ify mengambilnya, berniar melemparnya ke lantai. Ketika tangannya sudah terangkat, niatnya terhenti. Ify menggenggam CD itu dengan erat. Ia tidak bisa melakukannya. Sama halnya ia tidak bisa meninggalkan Alvin. Ify menangis lagi. setelah itu dia keluar dari kamarnya sambil berlari sekencang-kencangnya.

 

***

 

Alvin menyentuh tuts pianonya dengan jarinya. Alvin menutup matanya dan membukanya kembali. Dalam benaknya teringat kenangan bersama Ify di ruang music ini. Dia akan membawa kenangan itu bersamanya apa pun yang terjadi. Jarinya kemudian memainkan lagu Do-Re-Mi, lagu yang sangat disukai Ify.

 

***

 

Ify bernapas terengah-engah. Dia mencari Alvin di taman sekolah, tapi tidak menemukannya. Sudah pulangkah dia? Tanyanya dalam hati.

    Saat ini dia mendengar suara piano dari ruang music. Ify berjalan perlahan mendekati ruangan itu. Ketika sampai di depan pintu, Ify melihat Alvin sedang memunggunginya dan memainkan music kesukaannya. Semua kenangan pertemuan mereka bermunculan di benaknya. Ify menatap punggung Alvin dengan kesedihan yang mendalam.

    Seakan-akan menyadari dirinya tak sendirian, Alvin menghentikan permainan pianonya dan membalikkan badannya. Dilihatnya Ify sedang manatapnya dengan sedih.

    “Aku kira kau tidak mau meliatku lagi!” kata Alvin memulai.

    Ify melangkahkan kakinya mendekati Alvin. “Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?”

    “Apa?”

    “Kenapa kau memutuskan untuk dioperasi padahal itu membahayakan nyawamu?”

    “Karena aku ingin punya kesempatan untuk sembuh dan menemanimu!” kata Alvin singkat.

    Ify menangis mendengarnya. “Dulu aku tidak pernah takut karena aku tidak pernah memedulikan apa pun. Sekarang setelah bertemu denganmu, aku takut kehilangan segalanya. Aku takut sekali, Alvin!”

    “Kaukira aku tidak takut?” tanya Alvin lembut.

    “Tentu saja kau pasti takut!” kata Ify mengerti. “Kau bisa kehilangan nyawamu!”

    Alvin menggeleng. “Bukan itu yang aku takutkan. Aku tidak takut mati, Ify. Aku sudah bhisa menerimanya sejak dahulu. Itu hanya masalah waktu saja. Yang paling aku takutkan adalah kehilanganmu!”

    “Alvin…,” kata Ify lemah, tidak tahu harus berkata apa lagi. “Aku juga takut kehilanganmu! Amat sangat takut!”

    “Aku tetap akan menjalankan operasi itu Ify!” tegasnya.

    Ify mengangguk. “Aku tahu! Aku akan menemanimu!”

    Alvin menggenggam tangannya. “Terima kasih!”

    “Kapan operasinya?” tanya Ify kemudian.

    “Minggu depan!” kata Alvin.

    “Secepat itu?!” tanya Ify gusar.

    “Aku rasa lebih cepat lebih baik. Kondisi jantungku samakin memburuk, Ify. Jadi aku ingin meakukannya sebelum terlambat. Besok aku sudah harus berada di rumah sakit.”

    Saat ini Ify ingin menghibur Alvin. Lalu dia tertawa.

    “Kenapa tertawa?” tanya Alvin ingin tahu.

    “Aku hanya merasa lucu, karena untuk pertama kalinya aku liburan di rumah sakit. Pengalaman unik, lain daripada yang lain!”

    Alvin ikut tertawa. “Aku selalu liburan di rumah sakit! Tapi tumah sakit tidak terlalu jelek kok, kau bisa makan di kantin yang tidak ada duanya. Menggoda suster malam-malam dengan berkeliaran di lorong-lorong rumah sakit sambil membungkus tubuhmu dengan seprai putih.:

    “Wah, kelihatannya menarik!” kata Ify tertawa terbahak-bahak.

    “Ternyata kau nakal juga ya!” kata Ify. “Kau bisa melakukan apa pun yang kauinginkan di rumah sakit tanpa diomeli karena kau sedang sakit!”

    Alvin terdiam lagi.

    “Ada apa?” tanya Ify.

    “Hanya satu hal yang tidak bisa aku lakukan di rumah sakit!” kata Alvin mengakui.

    “Apa?” Ify penasaran.

    “Aku tidak bisa merasakan kehidupan normal seperti orang lain!” kata Alvin jujur.

    Ify menatap Alvin dengan sedih dan menggenggam tangannya.


 

3600 Detik versi ICIL : Bab 7 “Ujian”

16 Okt

IFY menguap lebar di kamarnya. Rumus-rumus fisika bertebaran di pikirannya. Baru jam Sembilan malam tetapi melihat buku pelajaran di depannya benar-benar membuatnya mengantuk. Bagaimana mungkin aku menghafal semuanya? Batin Ify putus asa. Besok adalah ujian terakhir semester ini. Ify melihat cermin di sebelahnya. Matanya sudah merah, wajahnya kusut, san rambutnya berantakan. Sepertinya besok dia akan bisa mengerjakan ujian dengan baik. Ify mendesah lagi. Dia sudah minum dua cangkir kopi tapi tetap saja matanya tidak bisa melek. Untuk sementara ditutupnya buku di depannya dan dipejamkannya matanya sebentar. Aku perlu istirahat, katanya.

    “Ify!” teriak mamanya dari lantai bawah. “Telepon untukmu!”

    Ify mengambil telepon yang ada di samping tempat tidurnya. “Halo!” katanya sambil menguap.

    “Wah, kau kedengaran mengantuk!” kata suara di ujung telinganya.

    “Alvin!” katanya tanpa semangat. “Ada apa menelepon kemari?”

    “Aku hanya ingin menanyakan kabarmu!” katanya. “Bagaimana hasil belajarnya?”

    “Payah!” jawab Ify terus terang.

    “Kau mau aku membantumu ke sana?” tanya Alvin menawarkan bantuan.

    “Tidak! Tidak!” bantah Ify. “Aku kapok diajari olehmu! Aku hanya perlu istirahat sebentar!”

    Alvin tertawa. “Jangan-jangan kau malah ketiduran!”

    “Mungkin!” sahut Ify. “Sudah minum dua cangkir kopi tetap saja mengantuk. Sepertinya aku harus mengingat hal ini kalau-kalau aku tidak bisa tidur kapan-kapan.”

    Alvin tertawa lagi. “Ayolah, tidak mungkin separah itu! Kalau kau sudah penat, jangan dipaksa. Kalau kau masih mengantuk juga, coba saja cuci mukamu dengan air dingin!”

    “Yah! Barangkali aku bisa mencobanya!” kata Ify.

    “Aku meneleponmu karena aku ingin mengajakmu ke suatu tempat besok!” kata Alvin. “Karena ujian sudah berakhir, bagaimana kalau kita makan bareng di restoran yang baru buka di dekat sekolah itu?”

    “Oh ya, ide bagus!”

    “Aku tunggu kau sepulang sekolah!”

    “Oke!” Ify menjawab antsias. “Omong-omong kau sendiri tidak belajar?”

    “Oh, aku sih sudah selesai satu jam yang lalu!” kata Alvin tenang.

    “HAH?? Satu jam yang lalu?” tanya Ify terheran-heran. “Kok bisa?”

    “Aku memang cepat kalau menghafal!” kata Alvin. “Lagian otakku lebih encer disbanding punyamu!”

    “Apa kau bilang?? Enak saja!”

    “He, kenapa marah?!” kata Alvin lagi sambil menahan tawa. “Itu kan kenyataan. Menghafal rumus saja kau tidak masuk-masuk!”

    “Aku akan buktikan kalau besok aku bisa mengerjakan ujian dengan baik!” tantang Ify. “Sekarang juga aku akan belajar. Dadah!”

    Ify menutup teleponnya dengan kesal.

    Memangnya hanya dia yang punya otak encer? ujar Ify kesal. Aku juga bisa menghafalnya kalau mau berusaha. Iya, kan? tanyanya pada diri sendiri sambil memandang cermin.

    Ify melihat buku di depannya dan meringis. Dia mengangkat bahu dan mulai membuka buku itu lagi dengan malas.

    Ketika Ify terbangun keesokan harinya, dia kaget karena kesiangan. Ify berpakaian tanpa sempat mandi dan tiba di kelasnya sesaat sebelum ujian dimulai. Ia menarik napas lega.

    Soal ujian dibagikan dari depan ke belakang. Saat kertas itu tiba di mejanya, Ify memandang kertas itu dengan ngeri. Semua rumus yang telah dihafalnya semalam setelah diselingi minum kopi dan cuci muka dua kali, hilang semua.

    Oke. Tenang, jangan panik! Katanyamenenangkan diri sendiri. Aku harus tenang dan rumus-rumus itu akan datang dengan sendirinya! Ify menutup matanya selama satu menit untuk menenangkan diri. Ketika dia membuka matanya lagi, dia tetap tidak mengingatnya.

    Dua jam kemudian, Ify berjalan ke luar ruangan dengan langkah loyo. Tenaganya sudah terkuras menyelesaikan soal-soal di dalam tadi. Walaupun dia mengakui soal yang berhasil dijawabnya, tetapi sebagian besar dia tidak mengerti sama sekali.

    Tetapi kemudian dia tersenyum saat teringat janjinya bersama Alvin sepulang sekolah. Ify menghampiri kelas Alvin sambil berlari gembira. Matanya menyapu ruang kelas, tetapi yang dicarinya tidak berada di sana.

    “Hei!” katanya pada salah satu teman sekelas Alvin. “Kau lihat Alvin tidak?”

    Teman sekelas Alvin menjawab, “Kau belum tahu ya? Kemarin malam Alvin dibawa ke rumah sakit. Katanya kini ia dirawat di ICU!”

    Ify terpaku mendengar berita tersebut. Dia mati rasa. Semalam Alvin masih sempat bercanda dengannya. Hari ini dia sudah berada di rumah sakit. Ify berlari sekencang-kencangnya keluar dari sekolah dan menyetop taksi pertama yang ada di depannya.

    Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, jantung Ify berdetak tidak beraturan. Dia berdoa semoga Alvin tidak apa-apa. Ify menerobos masuk rumah sakit setelah tiba di sana. Di depan ruang ICU Ify melihat Papa Alvin sedang duduk sambil menutup wajahnya. Ify mendekatinya sambil terengah-engah dan duduk di damping lelaki itu.

    “Oom!” katanya sambil menelan ludah. “Bagaimana keadaan Alvin?”

    Papa Alvin membuka matanya dan menatap Ify. “Dia sekarang sedang tidur. Keadaannya sudah stabil!”

    Ify mendesah juga. “Syukurlah kalau begitu!”

    “Jantungnya sempat berhenti tadi pagi!” kata papa Alvin sedih.

    Ify hampir menangis mendengar berita itu.

    “Aku ayah yang payah!” desah papa Alvin. “Aku bisa menyelamatkan nyawa orang lain, tetapi nyaris tidak mampu menyelamatkan nyawa anakku sendiri. Sungguh ironis, bukan?”

    Ify menghibur lelaki di sampingnya. “Oom nggak payah kok! Alvin saja bercita-cita ingin menjadi dokter seperti Oom!”

    “Oya?” Papa Alvin sedikit terhibur.

    Ify mengangguk. “Oom, bolehkah saya menjenguk Alvin?”

    “Kenapa kau tidak tunggu dia bangun?” saran sang dokter.

    “Saya ingin melihatnya sekarang!”

    Papa Alvin mengangguk. “Oke. Masuklah!”

    Ify memasuki ruang ICU perlahan-lahan. Di tempat tidur yang diletakkan di tepi dinding kaca dia melihat Alvin. Ify mendekat ke arah kaca dan melihat Alvin sedang tertidur. Ify menatap Alvin dengan sedih. Disentuhnya kaca di depannya dengan tangannya. Dia ingin menyentuh Alvin. Ify ingat ejekan Alvin semalam sebelum dia menutup telepon. Dia tidak bisa percaya pemuda itu kini berada di balik kaca dan sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

    “Cepat sembuh, Alvin!” kata Ify pelan. “Kalau sudah sembuh, kau boleh mengejekku semaumu! Aku tidak akan keberatan!”

    Seakan-akan bisa mendengar suaranya, Alvin membuka matanya.

    Ify melihatnya lebih dekat lagi.

    Alvin memandang ruangan di sekitarnya dengan bingung. Hal terakhir yang diingatnya adalah dia sedang menelepon Ify dan kemudian mamanya memanggilnya untuk turun ke ruang tamu. Saat menutup telepon, Alvin yakin dia sedang berjalan membuka pintu kamarnya ketika tiba-tiba dia merasakan nyeri yang sangat di dada hingga membuatnya pingsan.

    Sudah berapa lama aku di sini? Tanyanya dalam hati.

    Kemudian pandangannya beradu dengan mata Ify yang menatapnya dengan sedih. Alvin tertawa lemah. Dari seragam sekolah yang dipakai gadis itu, Alvin tahu Ify belum sempat pulang ke rumahnya.

    “Hai!” kata Alvin lemah.

    Ify tidak bisa mendengar perkataan Alvin dari balik kaca, tapi dia bisa membaca gerakan bibir pemuda itu.

    “Hai!” balas Ify.

    Senyum Ify menghangatkan hati Alvin. Ify memerhatikan Alvin yang berusaha menaikkan ranjang tidurnya supaya bisa berhadapan dengannya.

    Karena Alvin tidak bisa mendengar suaranya, Ify menggerakkan tangannya di kaca dan menulis dengan jarinya. Alvin melihat gerakan jari Ify.

    SAKIT?

    Alvin memberikan jawabannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan Ify.

    TIDAK LAGI.

    Keduanya tersenyum.

    Alvin teringat kalau hari ini seharusnya dia mengikuti ujian fisika di kelasnya. Lalu dia menggerakkan jarinya lagi.

    UJIAN?

    Ify terdiam sesaat ketika melihat tulisan itu. Alvin menanyakan tentang ujian tadi pagi. Terus terang Ify tidak bisa mengerjkannya dengan baik. Tapi demi kebaikan Alvin dia berbohong.

    Ify tersenyum ceria sambil mengangkat jempolnya, menandakan dia bisa mengerjakan ujiannya dengan baik.

    Alvin tersenyum tertahan, lalu menulis lagi dengan jarinya.

    BOHONG

    Saat itu juga Ify tertawa. Rupanya dia tidak bisa menipu Alvin sebaik apa pun dia berbohong. Alvin meletakkan telapak tangannya di kaca. Perlahan-lahan Ify mengangkat tangan kirinya di kaca itu sampai telapak tangan mereka berdua bertemu. Mereka bertatapan tanpa berkata apa-apa setelah itu.

***

Lima hari kemudian, Alvin membereskan barangnya dari lemari rumah sakit. Ify mengetuk pintu ruangan dengan gembira. Hari ini Alvin akan pulang dari rumah sakit. Para dokter mengatakan kesehatan Alvin pulih dengan cepat. Mereka tidak tahu penyebabnya, karena waktu masuk, kondisi Alvin sangat parah. Mereka menyebutnya sebagai keajaiban.

    Apa pun itu Ify tidak peduli, yang penting Alvin sudah bisa pulang ke rumahnya dan sudah sehat. Ketika Ify mengatakan bahwa para dokter menganggap kasus Alvin merupakan keajaiban karena sembuh secara cepat, Alvin hanya tersenyum.

    “Mungkin belum waktunya!” kata Alvin tenang.

    Mendengar jawaban itu, Ify menatap Alvin yang sedang membereskan bajunya.

    “Sini, biar aku bantu!” kata Ify.

    “Terima kasih!” ucap Alvin sambil tersenyum. “Mungkin sebentar lagi Pak Budi menjemput!” kata Alvin. “Aku mau menunggunya di depan pintu rumah sakit. Jadi Pak Budi tidak usah parkir lagi. Aku sudah tidak sabar ingin keluar dari sini!”

    Ify mengerti perasaan Alvin. “Kalau begitu, ayo kita pergi!” Ify menutup resleting tas Alvin dan mengangkatnya.

    “Biar aku yang bawa!” kata Alvin mau mengambil tasnya.

    “Kau kan baru sembuh!” Ify menepis tangan Alvin. “Aku saja yang bawa!” Lalu Ify bergegas keluar dari kamar Alvin sebelum mereka sempat berdebat lagi. Alvin mengangkat bahu melihat tingkah Ify dan mengikutinya.

    Setelah lima menit menunggu di depan rumah sakit dan tidak ada tanda-tanda mobil Alvin muncul dari pintu gerbang, Ify berkata padanya, “Alvin sebaiknya kita masuk saja dahulu!”

    Alvin menggeleng. “Aku tidak mau masuk lagi ke dalam sana setelah aku bisa keluar sekarang!”

    Ify menatap hujan yang turun dengan deras. “Tapi cuacanya dingin sekali!”

    “Tenang saja,” kata Alvin, “sebentar lagi juga Pak Budi datang kok!”

    Ify tidak berargumen lagi dengan keinginan Alvin, jadi dia meletakkan tas Alvin di lantai dan membuka jaketnya.

    “Ini!” serunya. “Pakailah!”

    Alvin membelalak menatap jaket yang ditawarkan Ify. Dia melihat jaket merah Ify dengan tatapan tidak percaya. Warnanya merah mencolok dan di depannya terdapat gambar kartun seorang gadis yang sedang menampakkan gigi ompongnya. Jaket itu bertuliskan “Are you ready for school.”

    Alvin menggeleng ngeri. “Aku tidak akan memakainya!”

    Ify tersenyum sesaat. “Kau harus pakai! Nanti kalau kau kedinginan dan sakit lagi,bagaimana?”

    Alvin mundur satu langkah menghindari tangan Ify yang mengulurkan jaketnya. “Aku rasa aku lebih baik kedinginan saja!” kata Alvin.

    “Aku tidak akan membuarkanmu sakit lagi!” sanggah Ify. Dia menangkap tangan Alvin dan mengenakan jaket merahnya ke badan cowok itu dengan cepat. Alvin tidak sempat menghindar. Tahu-tahu Ify sudah menutup ritsleting jaket di badannya.

    “Nah!” kata Ify sambil menepuk tangannya dua kali. “Selesai!”

    Alvin memandangnya dengan tatapan tidak suka.

    Seorang pengunjung rumah sakit yang tiba di depan mereka menatap Alvin sambil menahan tawa. Jelas-jelas pria tersebut melihat jaket yang dikenakannya.

    Alvin semakin cemberut.

    “Ayolah!” kata Ify menghibur. “Tidak seburuk itu kok!”

    Tapi lima menit kemudian Ify tertawa terbahak-bahak, ia tidak bisa menahan diri lagi. pemandangan di sebelahnya akan membuat siapa pun tertawa. Seorang cowok dengan jaket yang sangat imut. Orang-orang pasti mengira Alvin punya selera yang aneh.

    Mendengar tawa Ify, Alvin semakin kesal.

    Ify membisikkan sesuatu kepada Alvin. “Anggap saja itu balasan atas sandal konyol yang kauberikan padaku tempo hari!”

    “Tapi itu lain!” Alvin protes. “Kau langsung pulang dengan mobilku tanpa bertemu siapa-siapa. Sekarang semua orang bisa melihatku!”

    Ify tertawa. “Aku tahu! Itu yang membuatnya semakin menarik!”

    Ketika Alvin mau membuka jaketnya, Ify mengancamnya. “Jangan coba-coba membukanya, Alvin!”

    Alvin mengurungkan niatnya mendengar ancaman Ify.

    “Ayolah!” kata Ify menyemangati. “Siapa tahu jaket ini akan menjadi tren kalau kaumemakainya!”

    Dalam hati Alvin mengumpat.

    Lima menit kemudian, mobil Alvin tiba. Dan dia tidak pernah merasa senang bertemu Pak Budi seperti ini sebelumnya. Alvin cepat-cepat masuk ke pintu penumpang. Ify mengikuti di belakangnya sambil terkikik geli.

    Di dalam mobil, Pak Budi juga memerhatikan jaket yang dikenakan Alvin tapi memutuskan untuk tidak berkomentar. Alvin menyuruh Pak Budi mengantar Ify ke rumahnya terlebih dahulu.

    “Istirahat yang banyak!” kata Ify ketika sudah tiba di depan rumahnya.

    Alvin mengangguk. “Masuklah!”

    Alvin memandang jaket yang dikenakannya sambil mendesah. Hari-hari bersama Ify memang tidak pernah membosankan. Sesampainya di rumah, Alvin disambut oleh mamanya di depan pintu.

    “Alvin!” Mama memeluknya. Lalu wanita itu memandang jaket yang dikenakan putranya sambil menahan tawa. Ia pun memutuskan untuk tidak mengomentari jaket itu.

    “Ayo masuk!” ajak Mama lagi.

    Mama rupanya telah menyiapka makanan dan minuman untuk Alvin. “Makan dahulu!” katanya.

    Alvin mengambil sendok yang disodorkan mamanya, lalu mulai makan, sementara Mama mengambil tas yang dibawa Alvin dari rumah sakit. Ia menguluarkan baju-baju putranya untuk di cuci.

    “Kau mau ganti baju sekarang?”

    Alvin menyentuh jaket yang dikenakannya. Entah mengapa dia merasa sayang melepaskan jaket itu setelah Ify tidak ada. Padahal tadi di rumah sakit dia ingin cepat-cepat sampai di rumah dan melepaskan jaket konyol itu.

    “Nanti saja, Ma. Aku mau makan dulu,” Alvin berbohong.

    Mamanya tersenyum mengerti dan keluar dari kamar.

***

Ify melangkah ke kamar mamanya. Hari ini hatinya sedang senang karena Alvin sudah keluar dari rumah sakit. Masih ada satu hal yang perlu dilakukannya. Dia mengetuk pintu kamar mamanya lalu masuk.

    Gina sedang bersiap-siap menghadiri pertemuan dengan para rekannya. “Ada apa, Ify?” tanya Gina ketika putrinya masuk.

    “Aku mau member sesuatu!” kata Ify.

    Ify memberikan bingkai foto yang dipegangnya pada mamanya.

    Gina menatap foto di dalamnya. Itu foto dirinya dan Ify saat putrinya mencoba gaun pesta di toko. Seorang pelayan toko ingin memfoto Ify mengenakan gaun tersebut dan memajang foto tersebut di tokonya. Lalu dia juga meminta berdua untuk berfoto.

    “Aku tidak tahu bagaimana berterima kasih atas bantuan Mama waktu itu!” kata Ify menjelaskan. “Aku hanya punya foto ini untuk Mama!”

    “Oh, Ify!” Gina terharu. Dielusnya kepala putrinya dengan penuh sayang. “Ini indah sekali!”

    “Mama bisa memajangnya di meja kantor Mama!” kata Ify.

    “Terima kasih, Ify!” kata Gina senang.

thinks i love

1 Agu

wasap readers? (ngikutin gayanya raditya dika. wkwk :p)
akhir akhir ini banyak hal baru yang bener bener bikin gue terpesona. pertama dance, kedua basket.
bahas yang dance dulu ye?
jadi kenapa gue bisa suka dance? karna gue abis nonton drama korea judulnya dream high. di drama itu, banyak banget ngecance sama nyanyinya. jadi gue langsung jatuh cinta. apalagi ada TAECYEON! haha *u* bahkan gue, nadya, ika, mia, centa rencana bikin girl band gitu (pelase jangan ngakak) pokoknya gue bener bener interest sama dunia dance!
sekarang, kenapa gue bisa jatuh cinta sama basket? jadi ceritanya gini, kemarin (tanggal 31 juli 2011) gue ke rumah nadya. emang udah rencana mau main basket di lapangan deket rumahnya nadya soalnya abis puasaan ada test basket. sesampainya di lapangan basket, lapangannya rame banget, yaudah, akhirnya kita nongrong di pos gitu. nungguin lapangannya biar sepian dikit. sekitar 15 menit kemudian, waktu gue ngeliat ke lapangan, ternyata ada sisi yang sepi. kita langsung ngibrit ke lapangan dengan semangat `45! haha 😀
awalnya, kita ngedrible dan ngeshoot asal asalan (maklum, baru junior) 30 menit kemudian, ada mas mas yang nyamperin dan tanya “mau bisa lay up a?”. gue dan nadya cuma cengo karna sumpah, tampang masnya itu serem! haha ._.v terus akhirnya diajarin lay up, malah dibilang lay up ku bener. padahal 100% ngawur. wkwk
terus mas yang tadi bilang “ayo ikut three on three biar ngerti. kamu suit sama dia” perintah masnya tadi. gue dan nadya sama sama nyengir. ‘three on three apanya! orang ngedrible aja kagak becus’ batin gue. dan bayangan gue, anak anak sekolahan kalo main basket kan rebutan gitu, langsung hopeless dah -_- tapi akhirnya kita suit dan gue kalah. masnya tanya lagi “siapa yang menang?” nadya ngangkat tangan, gue nunjuk nadya. “kamu sekelompok sama aku (bilang ke nadya) kamu sama dia (ngomong ke gue sambil nunjuk 2 orang satu pake baju putih, satu pake baju coklat)
permainan pun dimulai, bola dari mas yang tadi (pake baju item) di kasih ke nadya dan shoot sama dia. sekarang, giliran mas baju putih ngoper bolanya ke gue dan gue shoot. selama permainan gue ngerasain ada ragunya karna gabisa sama sekali dan seneng karna baru kali ini gue bisa main basket pake hati (ngomong apasih gue -_-). intinya, hari itu adalah BEST DAY EVER buat gue, haha 😀

IMPAS!

11 Jun

Hukum karma yang sempat menghantui,

Ku rasa sudah terhempas jauh.

Aku sudah membayarnya,

Dua kesalahan dimasa lalu.

Kesalahan yang membuatku kini menderita,

Karna aku harus menebusnya.

 

Jika aku dapat memutar waktu

Kembali ke masa lalu,

Kenapa tidak ku terima saja cintamu waktu itu?

Kenapa tidak ku tolak saja cintamu waktu itu?

Agar ku tak perlu merasakannya!

Tidak dicintai oleh orang yang sangatku cinta,

Dan tidak perlu merelakanmu dengan sahabatku!

 

Kini aku pun telah merasakan

Apa yang kalian rasakan saat itu

Maka, biarkanlah aku bahagia

Menghirup udara ini tanpa beban

Membuka mata dan hati

Mencoba untuk moving on!

 

Suara itu menyadarkanku

Hidupku belumlah berakhir,

Masih banyak mimpi yang harus kujadikan kenyataan

Masih ada seseorang diluar sana yang akan menghargaiku

Karna kuyakin,

gerbang masa depan menyambut dengan hangat

Akan kusongsong dengan senyum terkembang

 

shs.

NATIONAL DOUGHNUT DAY

4 Jun

    

National doughnut day atau hari donat sedunia diperingati seriap hari jumat pertama di bulan Juni. Tahun ini, National doughnut day jatuh pada 3 Juni. Biasanya di luar negri, setiap peringatan National doughnut day akan dibagikan donat gratis dari toko-toko yang menjual donat. Wow! Seandainya di Indonesia juga memperingati hari donat. Mungkin dunkin’ donuts bakal bangkrut gak ya? Haha 😀


    Sebenarnya, aku pribadi sebelumnya nggak tahu kalau ada hari donat nasional. Tapi, kemarin waktu aku online twitter yang jadi TTWW adalah #nationaldonutday. nah, tau deh dari situ. Terus aku surf di internet tentang peringatan hari donat nasional deh.


    Menurut http://www.punchbowl.com/ did you know that National Donut Day began as a fundraiser for the Salvation Army in 1938? It’s held annually on the first Friday of June, in honor of the female volunteers of World War I who served donuts to soldiers behind the front lines.

    Versi Indonesianya, taukah kamu kalau hari donat nasional dimulai sebagai pengumpulan dana untuk keselamatan tentara di tahun 1938? ini diadakan setiap tahun pada hari jumat pertama bulan juni, untuk menghormati relawan perempuan Perang Dunia I yang menyiapkan donat-donat untuk para prajurit dibelakang garis depan.

    WOW! Keren, kan? Tapi bagi kalian yang ingin tau sejaranya national doughnut day, bisa mengunjungi Wikipedia. Disana diceritakan lebih lengkap tentang hari donat nasional.

    Nah, guys, angkat tangan yang sebelumnya nggak pernah terfikir kalau ada hari donat nasional? Ayo, ngakuu… haha 😀 buat yang belum tau nggak papa kok. Dengan baca post kali ini, kalian jadi tau, kan? Okay, semoga bermanfaat, guys! Byee 😀


RADIASI MATAHARI & RADIASI HANDPHONE

3 Jun


&

    Gimana reaksi kalian ngelihat 2 gambar di atas, guys? Ngeri, kan? Saya juga ngeri banget!

    Sekarang lagi marak-maraknya pada ngomongin radiasi matahari dan radiasi hanphone. Sebenarnya apa sih radiasi matahari dan radiasi handphone itu? Lalu apa saja dampak-dampaknya? Saya sudah surfing dan mendapat beberapa bahan seru tentang tema kali ini yang harus anda baca! Scroll kebawah mouse kalian, guys!

    Menurut KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) arti radiasi sendiri adalah penyinaran; pengeluaran dan penyebaran gelombang atau partikel.

    Wikipedia
bilang kalau radiasi matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses thermonuklir yang terjadi di matahari. Radiasi matahari ini berbentuk sinar dan gelombang elektromagnetik.

    Sementara kalau di http://www.beasiswagratis.com Radiasi sinar matahari adalah suatu bentuk gelombang elektromagnetik. Gelombang elektromagnetik, tidak dipengaruhi oleh medan listrik dan medan magnet. akibatnya, sifat gelombang ini dapat menembus hampa udara yang ada di antara bumi dan matahari.  Radiasi yang dibawa oleh matahari ke bumi bisa sampai karena intensitas yang dipancarkan dari sumber radiasi(matahari) yang jumlahnya sangat besar. Karena besarnya itulah maka radiasinya bisa sampai ke bumi. Setelah sampai ke bumi, radiasi ini juga dikurangi sedikit demi sedikit oleh susunan atmosfer yang ada di udara, sehingga yang masuk ke bumi hanyalah sinar yang aman bagi manusia dan suhunya cukup untuk makhluk hidup.

    Walau radiasi matahari itu bisa sampai ke bumi, sebagian besarnya tidak dapat masuk lebih jauh ke bumi karena bumi juga memiliki medan magnet di antara kedua kutub bumi. radiasi yang dihalau oleh medan magnet itu dipantulkan kembali sehingga tebentuklah AURORA. Wow, saya jadi pingin pergi ke kutub biar bisa lihat keindahan aurora. (amiin).

    Kalau radiasi handphone bisa dikatakan pengertiannya sama dengan radiasi matahari. Cuman bedanya diobyek yang mengeluarkan radiasi. Kalau radiasi matahari yang ngeluarin matahari, sementara radiasi handphone sudah jelas dari handphone. Ingin tau lebih lengkap soal radiasi handphone? Klik yang satu ini.

    Radiasi matahari diperkirakan akan terjadi pada tahun 2012. Namun efeknya sudah cukup terasa di pertengahan tahun 2011 ini. Bukti nyatanya saja modem saya suka disconnect dan koneksinya super lambat! Lho kok bisa?

    2012, Kiamat atau Badai Matahari? (next>>)

    Wow! Sefenomenal itu ya ternyata 2 bahan kita di post ini. Nah gimana? Apa sinyal di hp kalian suka timbul-tenggelam juga, guys? Terus saya juga punya saran, gimana kalau ada telfon di hp kita di loudspeaker aja? Agar meminimalisasi radiasi yang ditimbulkan hp ke otak kita. tapi saya nggak begitu yakin cara itu efektif. Buat yang mungkin lebih jago, komennya ditunggu.

    And, the last but not least, semoga bermanfaat, guys! 😀

Apa aja boleh -_-

2 Jun

    Haloo… aku lagi rajin-rajinnya nih ngisi blog! Hehe. Abis nggak ada kerjaan. Mau belajar tapi males.

    Oh, ya. Kemarin ternyata anak-anak (mia, deasy, rosi, emil) pada nggak les! Padahal aku udah nyampe di GO. Tapi suasananya sepi gitu. Terus aku sms-in mereka tapi pada nggak dibales. Ngaret mungkin. Pikirku waktu itu. Terus karena udah setengah jam pada nggak ada yang dateng aku telfon. Tapi nggak diangkat. Satu jam kemudian kak mimi (mia) bales smsku katanya nggak les. Yaah… akhirnya aku nunggu bentar. Terus ada operation crew yang ultah. Parah banget deh ngerjainnya. Masak di iket pake tali terus di siram macem-macem, kopi, tepung, teh, air, banyak deh pokoknya.

    Mana orangnya itu diem aja lagi kayak pasraah gitu. Terus orangnya disiram pake sabun terus disiram pake air. Terus di dudukin di kursi kecil dan di iket di pagernya GO. Sumpah koyol banget pas orangnya itu berusaha mau berdiri. Abis gitu temen-temennya pada ngebawain kayak kue ultah sama kado gitu.

    Haha… dapet tontonan gratis waktu itu! Pas udah jam setengah lima aku pulang ke rumah deh.

    Dirumah aku bikin cerita baru judulnya ‘brownies love’ tapi nggak tau bakal kelar atau enggak. Abis ide ceritanya tiba-tiba aja muncul. Hehe.. do’ain jadi deh, guys! ^_^

    Sebenernya aku pengen bisa cari uang sendiri. Misalnya jadi penulis kek, atau apa kek. Terus nanti SMA-nya aku mau masuk SMA boarding di sampoerna academy (sma 10) selain dapet beasiswa bisa ngelatih kemandirian, kan?

    Tapi untuk bisa masuk sma 10 harus di seleksi SEJAWA TIMUR! Wow! Kata centa juga wawancaranya harus bisa memperkenalkan pake bahasa asing. Dan aku tertarik untuk belajar bahasa jerman! (padahal bahasa inggris juga belum ngeh.) haha…

    Hemm… udah dulu ya! Aku mau nerusin bikin ceritanya… hehe 😀

BERASA DI EROPA!!

1 Jun

    Hai-hai! Aku udah lama nggak ngisi blog -_- biasa sibuk (baca=sok sibuk) haha 😀

    By the way, hari ini Malang berkabut loh! Berasa kayak di eropa deh! (apa hubungannya). Awalnya kabutnya waktu aku keluar rumah nggak begitu tebel. Pas nyampe di sekolah tebel banget! Huaaah, asyiik! Sesampainya di kelas, nadya, sahabat aku bilang “wah, berasa kayak di eropa ya, Pat!” Just info, Pat=Patrick=aku. Hehe, kalau nadya=spongebob=bob.

    “iyaa! Ngedukung banget buat kita bisa sekolah di eropa! Belajarnya di luar yuk, bob! Sambil nikmatin pemandangan!” kataku.

    Akhirnya kita keluar dari kelas. Pas deasy (Mrs. Puff) ngomong, dari mulutnya keluar kayak gas putih gitu. “waah! Kayak di luar negri ya, bob! Lihat tuh mataharinya ketutupan kabut!” kataku. Dan aku sibuk ngomong ngoceh sana sini trus tanya ke nadya “dari mulutku keluar kayak putih-putih gitu gak, bob?” nadya dengan tampang nahan ketawa geleng-geleng. Aku merengut deh.

    Bayangin deh, waktu itu kayak di luar negri beneran! Udaranya dingin, terus mataharinya ketutupan gitu, jadi nggak begitu terang. Plus kabutnya agak gede-gede tapi nggak kerasa kalau dipegang.

    Aku sama nadya punya cita-cita pergi ke eropa bareng! Apalagi ke menara EIFFEL! Huaaah, tempat dambaan kita berdua tuh! Terus kita biasanya suka beli jajan ‘wafel chrunchox’ tapi aku bisa bilang wafel cancox. Hehe 😛 kan di paris wafelnya enak-enak jadi aku sama nadya makan wafel cancox sambil ngebayangin kalo itu wafel dari paris! Wkwk ;P terus kalau beli pop ice kita suka beli yang rasa yogurt stroberry! Rasanya yummy banget! 😀 tapi sayangnya hari ini aku nggak bawa kamera, jadi nggak bisa di abadi-in deh siasana langka kayak begini. Semoga besok berkabut lagi YA ALLAH. Amiiin 😀

    Setelah asyik-asyikan menikmati ‘suasana eropa’ tadi kita balik masuk ke kelas. Dan ujian kenaikan kelas deh! Huhu u,u nggak kerasa banget udah mau kelas 9! Padahal udah klop banget sama anak-anak ANDROID! (anak 8A rame dan solid). Apalagi AGREVIVE (choir, nadya, aku, ika, mia, centa) plus deasy! Aduuuh, nggak rela bener-bener deh aku! Rasanya tuh kayak baru kemarin daftar ulang kelas 8 dan sekarang udah UKK (ujian kenaikan kelas). Huaaa T_T (nangis guling guling).

    Semoga aja nanti kelas 9 dapet temen-temen yang baik juga! Tapi tetep aja nggak akan ada yang bisa ngegantiin temen-temen ANDROID apalagi AGREVIVE!

    Ah, okay, kita tinggalkan sejenak suasana mellow-mellow. Kita ganti ke suasana PERANG. Kenapa aku bilang perang? Karena emang lagi anak di tempat les ku di GO yang super nyebelin! Sebenernya aku sama dia nggak ada masalah sih, yang ada masalah sama dia tuh si deasy. Tapi sebagai teman aku ya harus membela deasy dong! Ya nggak?

    Jadi ceritanya anak itu di samarin jadi P aja ya? selalu bilang “ih, mbak deasy makin cantik deh!” gitu. Terus waktu hari kamis kita les kan nggak kebagian tempat duduk saking penuhnya. Akhirnya kita cuman minta soal terus pulang. Nah, besoknya emil bilang kalo setelah deasy sama aku pulang kemarin si P bilang dia nggak suka sama deasy. Katanya deasy itu anaknya bossy, sok, gitu-gitu deh. Terus pas hari seninnya aku masuk sama mia, si P bilang “deasy si tompel mana?” gitu. Nyebelin kan? Coba kalau dia dibilang “P si BANCI mana?” apa nggak tersinggung? Mikir dong! Jadi anak jangan belagu! Lagian yang sok bossy kan elo! Huft… jadi kebawa emosi nih aku. Dan nanti katanya deasy mau masuk buat tambahan b.indo sekalian mau ngedamprat si P! doain si P itu mau minta maaf ke deasy ya, guys! 😀 byeee.

Poster Pentas Seni

16 Apr

Halo, Haloo! Saya baru saja menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia yang diberikan oleh guru PPL yaitu membuat poster dengan tema

  • wajib belajar
  • budaya membaca
  • lomba kebersihan kelas
  • lomba menulis cerpen
  • lomba membaca puisi sekota malang
  • penebangan liar dan akibatnya
  • dan yang terakhir kegiatan pentas seni

Tema yang saya pilih tentunya tema yang gampang dong! Saya memilih tema kegiatan pentas seni! Chek This Out yaa! 🙂

Gimana? Gimana? Bagus nggak? Hehe.

Itu saya pilih pakai nama sekolah BINUS Junior High School Serpong karna saya nge-fans banget sama sekolah ituu!!

Terus, kenapa saya memilih pentas seni dengan tema ‘The Colour of Rainbow’? karena, karena saya juga nggak tahu! Haha. Ide itu tiba-tiba muncul begitu saja tanpa diundang dan dijemput. Hihi.

Untuk tanggal penyelenggaraannya ’23 Oktober’ saya pilih karena itu tanggal lahir saya! Haha.

Sementara untuk ‘Guest Star‘ nya (Bondan Prakoso, SMASH, Vierra, Super Idola Band [Band-nya Anak Idola Cilik], 7 Icon, Nidji, d’Masiv)  itu semua band favorit saya! Apa kalian juga suka?

Sebenernya pas awal-awal bikin poster ini saya mau ngasih Guest Star-nya itu Bruno Mars, Justin Bieber, Girls Generation, Super Junior, Lady Gaga, Jonas Brother, Spongebob juga boleh (?) Tapi kok kayaknya terlalu ngayal gitu deh. Haha 😀

Our Promise! (lanjutan dari cerpen Harapan Kosong)

8 Apr

***

Tiga tahun berlalu. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

***

Aku menatap sekolahku. Huft… nggak nyangka aku bisa masuk SMA favorit ini! Aku melangkah memasuki gerbang sekolah. Seminggu yang lalu, aku sudah menjali MOS yang benar-benar berbeda. MOS yang tidak menyiksa dan sangat mengasyikan. Minggu ini, kami para murid kelas 10 disuruh memilih ekskul. Dan yang membuatku kagum lagi dengan sekolah ini karena mengadakan ‘promo ekskul’ selama 3 hari, yang dimulai hari ini.

Tapi sedihnya, aku nggak kenal sama sekali murid-murid lain yang bersekolah di sini karena dulu SMP ku berada di kota Surabaya, dan sekarang aku diterima di SMA Internasional di Jakarta.

Benar-benar menyiksa! Pikirku dalam hati.

Dari belakang, aku mersa ada yang menepuk pundakku. “Hai!” Aku berbalik dan mendapati Cakka tersnyum lebar. Dia teman sebangkuku.

“Woy! Tumben telat, Cak?” Aku bertos ria dengan Cakka. Kami sudah sangat akrab. Dia orangnya baik hati dan nggak sombong, dan aku suka itu.

“Biasalah, kayak lo nggak tau jakarta aja! Macet neng tadi!” jawab Cakka dengan logat anak Jakarta yang kental.

“Duduk dulu yuk di sana! Aku capek nih!” aku menunjuk sebuah bangku taman. Dan aku segera menyeretnya.

“Iya, iyaa.. aduh, sakit nih tangan gue! Eh, lo bisa nggak sih kalo bicara sama gue itu pake lo-gue! Risih tau nggak kalo pake aku-kamu!”

“Yee.. Emang kamu siapa aku? Main nyuruh-nyuruh! Nggak mau ah! Enakkan pake aku-kamu! Wleek!” aku menjulurkan lidah kearahnya.

“Risih tauk! Kayak orang pacaran aja pake aku-kamu!” eh, yang bener aja? Apa hubungannya pake aku-kamu sama orang pacaran! Tapi, ogah lah ya dikira pacaran sama nih anak!

“Emang apa hubungannya coba?”

“Aduuuh, pokoknya ada hubungannya! Lo tinggal panggil gue dengan sebutan ‘lo’ dan manggil diri lo sendiri dengan sebutan ‘gue’ nggak susah kan?”

“Emmm, ntar deh. Liat-liat sikon! By the way, kamu mau ikut ekskul apa an?”

“Musik sama basket dong!”

Mataku terbelalak mendengar Cakka ingin ikut ekskul basket. “Emang kamu bisa main basket?”

“Emang ada yang ngelarang? impian gue itu jadi pemain basket di NBA! Lo aja yang belom pernah liat gue main basket! Kalo lo ikut apa?”

Emm, sebenarnya aku masih bingung mau ikut ekskul apa. “Nggak tau deh. Masih bingung!”

“Kenapa nggak ambil ekskul yang sama kayak gue?”

“Gila ya kamu! Suaraku itu cempreng banget! Aku juga nggak bisa main alat musik apa pun! Apa lagi basket! Pas stechingnya aja kira-kira aku bisa ngos-ngosan!”

“Gue bisa ajarin lo main piano!” Cakka menawarkan dengan sangat antusias. Dan pastinya aku sama sekali nggak antusias.

“Nggak minat ah! Lagian emang kamu bisa main piano? Nggak yakin deh aku!”

“Heh! Lu udah ngeremenih gue nggak bisa main basket, sekarang lu ngeremehin gue nggak bisa main piano! Gue nih masternya deh kalo soal piano!” kata Cakka dengan bangga sambil menepuk dadanya yang dibusungkan.

“Pret!”

“Lo perlu bukti? Ayo ikut gue sekarang!”

***

Aku benar-benar terhipnotis!

***

Cakka baru saja menyelesaikan permainan pianonya. Dia membawakan lagu U Smile-nya JB. Aku benar-benar terhipnotis! Nggak hanya menekan tuts-tuts piano saja! Dia juga menyanyikan lagunya!

Keren bangeeeet! Ajarin dooong!”

“Katanya tadi nggak yakin gue bisa main piano!”

Rese banget sih nih anak! “Ayolah Cak! Please!”

“Okay deh kali lo memohon!” sialan nih anak! Bener-bener! “tapi ada syaratnya!”

“Ah, masak kamu gitu sih sama temen sendiri, Cak.”

“Mau nggak nih?”

“Ya udah, emang syaratnya apa an?”

“Lu kudu ikut ekskul musik!”

“Ogaaaah!”

“Huft, ya udah deh kalo nggak mau.” Cakka berdiri dan hendak beranjak pergi.

Aku segera menahannya. “Ya udah aku ikut!” kataku sambil manyun.

***

Khawatir, benar-benar khawatir.

***

Hari ini, hari pertama pelajaran dimulai dengan normal. Dan hari ini pula aku nanti harus masuk kelas musik! Dan Cakka belum dateng. tapi sebentar lagi bel berbunyi. Ah, paling Cakka terlambat lagi. Pikirku dalam hati. Tapi kalau boleh jujur, aku khawatir sekali dengan keadaannya

Ternyata Cakka benar-benar tidak masuk hari ini! Hu-uh sial! Dia yang ngajakin ikut ekskul musik tapi di hari pertama malah nggak masuk!

Aku coba telepon deh! Tapi nomornya nggak aktif! Menyebalkan! Tapi seketika itu juga jantungku berdegub cepat. Keringat dinginku bercucuran.

“Dek, kamu mau ikut ekskul musik kan? masuk aja!” kata salah satu kakak kelas dengan ramah dan menunjuk kertas angket yang kubawa.

Astaga, tanpa sadar aku berjalan ke arah kelas musik dan sekarang sudah berada di depannya persis!

“Eh, anu, iya kak!” kataku tergagap dan melangkah masuk dengan ragu-ragu.

***

Lega sekaligus curiga.

***

Huft.. seminggu Cakka udah nggak masuk. Rasanya sepi banget.

“Oy!” seseorang melambaikan tangan ke arahku. Dan dia berlari ke arahku.

“Cakka!” Astaga! Cakka jadi kurus banget! “Ya ampun, Cak! Kemana aja kamu!! Katanya waktu itu kamu bakalan nemenin aku di kelas musik! Eh, kamu malah nggak masuk! Ngebelin deh!” aku mencubit lengan Cakka.

“Jiaah.. Sorry deh sorry! Jadi loe kangen nih sama gue?!”

“Ye! Sorry lah ya! Kamu kali yang kangen sama aku! Wlee! Eh, tapi, kamu kemana aja sih seminggu nggak masuk! Mana makin kurus aja nih!”

“Ah, perasaan lo aja kali! Elu tuh yang makin gembrot! Wakakak..”

“Ngajak berantem kamu! Enak aja aku dibilang gembrot! Tapi suer deh, Cak! Kamu jadi kurus banget!”

“Masuk yuk!” Cakka menggeret aku masuk menuju kelas.

Aku merasa Cakka menyembunyikan sesuatu dari aku. Tapi apa? Dan anehnya, dia mengenakan topi selama pelajaran berlangsung. Nggak Cuma itu, tapi dia juga bawa bekal!

“Ngapain ngeliatin gue terus?” tanya Cakka pada suapan ketiganya.

“Nggak papa! Tapi kenapa kamu pake topi? Mana nggak ditegur lagi sama guru-guru!” kataku sambil menunjuk topi yang dipakai Cakka.

“Lagi nge-ternd kali pake topi! Lu mau cobain masakan nyokap gue nggak?” Cakka menyodorkan kotak bekalnya ke arahku.

Aku menggeleng. “Tumben juga kamu bawa bekal?” tanyaku dengan nada penuh curiga. “Jangan bilang juga kalo bawa bekal itu lagi nge-trend!”

“Suka-suka gue dong!”

“Oya, Cak! Nanti hari pertama kamu masuk ekskul basket, kan? Aku boleh liat kamu main nanti ya!”

“Eh, nanti ya? Emm, boleh aja sih..”

***

Sebenarnya, apa sih yang kamu sembunyikan dari aku.

***

Aku berjalan disamping Cakka. Dan topinya masih setia berada di atas kepalanya. Lalu Cakka mengganti seragamnya dengan baju basket yang baru saja dibagikan.

Cakka benar-benar terlihat lebih keren dengan baju basketnya. Yah, tapi dia tetap mengenakan topinya! Padahal kan keren kalau nggak pake topi! Lagian emang ada ya? Orang main basket pake topi? Di lapangan Indoor begini juga?

Ternyata Cakka benar-benar jago! Tapi, waktu dia mau nge-shoot bola ke ring. Bolanya dilepas atau lebih tepatnya lepas dengan sendirinya dari tangannya. Dia kelihatan ngos-ngosan. Lalu dia keluar lapangan sambil menutupi hidungnya.

“Kok berhenti sih mainnya, Cak?” tanyaku pada Cakka. Dia tidak menjawab. hanya mengambil handuk dari tasnya (tanpa melepaskan tangan kirinya yang menutupi hidung) dan tersenyum. Dan segera berlari ke arah ruang ganti.

Tiba-tiba saja jantungku berdetak cepat kembali sama kayak waktu Cakka nggak masuk selama seminggu kemarin. Aku segera menyusul Cakka.

“Cak! Cakka! Kamu kenapaa!” teriakku sambil menggedor pintu ruang ganti yang tadi dimasuki Cakka.

“Gue nggak papa kok! Lu pulang aja duluan! Gue masih lama main basketnya! Oke?” Teriak Cakka dari balik pintu.

“Tapi kamu kenapa sih?”

“Kan gue udah bilang sih, Fy! Gue nggak papa!”

***

Sekarang, kamu nggak bisa menghindar lagi.

***

Ke esokan harinya, Cakka nongol di kelas sedetik sebelum bel berbunyi. Dia masih memakai topinya yang kemarin.

“Kemarin kamu kenapa sih, Cak? Kebelet pipis ya? Trus pulangnya kamu jam berapa kemarin?”

Cakka hanya tersenyum tipis. Dia terlihat agak gemukan. Syukurlah.

Berondongan pertanyaanku tadi nggak sempat terjawab karena guru matekamika sudah datang. Aku harus menahan diri sampai bel istirahat pertama berbunyi. Semoga aku tidak mati karena rasa penasaranku ini.

Waktu berlalu, dan berbunyilah bel istirahat.

“Cak, pertanyaanku tadi belom dijawab!”

“Hah? Emang tadi lu nanya apa?” Cakka malah nanya balik.

“Aduh, yang tadi pagi! Masak kamu udah lupa sih?”

“Yeee! Elu kan emang banyak nanya! Mau ingin tau bin sotoy!

“Terserah apa katamu deh! Tadi kan aku tanya..”

“Woy, Cak! Dipanggil Bu Enny tuh!” seru Ray. Bu Eni itu wali kelas kami.

“Oke! Eh, Fy, gue ke bu Enny bentar ya!”

Setelah Cakka menghilang, ku kira Cakka akan kembali ke kelas setelah Istirahat pertama ini selesai. Namun, Saat istirahat kedua hampir habis, dia nggak muncul-muncul juga. Ada apa ya?

Cakka baru muncul saat bel istirahat kedua berkahir berbunyi.

“Kemana aja, mas?” tanyaku keki. Kenapa sekalian aja nggak usah nongol sampai pulang! Hu-uh!

“Nggak kemana-mana mbak!”

“Jadi..” ah, sial! Guru sejarah sudah masuk terlebih dahulu sebelum aku bertanya pada Cakka. Aku tanya kan saja waktu pulang sekolah. Sekalian aku mau nebeng dia. Hehe.

Setelah 2 jam pelajaran penuh berakhir, kini saatnya untuk pulang sekolah! Akhirnya bebas bisa nanya-nanya ke Cakka! Aku menoleh ke arah Cakka. Dan seketika itu pula aku menjerit sambil menunjuk cairan merah yang keluar dari hidung Cakka. “CAKKAAA!”

Cakka kaget dan bertanya “Ada apa sih! Gue nggak budek!”

“Idungmu, Cak! Idungmu! Keluar darah!”

“Hah?” Cakka segera mengambil handuk kecil dari tasnya dan menutup hidungnya.

“Ayo ke UKS, Cak! Ayo!” kataku ngotot sambil narik-narik lengannya.

“Nggak perlu. Gue udah biasa kok. Santai aja kali.”

“Gimana bisa santai! Kamu mimisan! Ayo buruan!”

“Udahlah. Tenang aja! Gue udah biasa!”

“Udah biasa apanya sih, Cak? Aku baru pertama kali ini liat kamu mimisan! Mana bisa biasa aja! Kamunya juga nggak pernah kok sebelumnya mimisan, iya kan!”

“Aduuuh, kayaknya gue harus ngaku sekarang deh sama lo..” Cakka berhenti sejenak dan menarik napas. “Gue punya penyakit leukemia stadium akhir.”

“APAA!” aku kembali duduk di bangkuku. Dan entah mengapa air mataku mengalir dengan derasnya.

“Hey! Kamu kenapa? Jangan nangis dong! Aku nggak papa kok!”

“Aku takut, Cak!” kata ku lirih. “Aku takut kehilangan kamu..” suaraku bergetar dan tangisku semakin menjadi.

Cakka merangkulku. “Gue nggak akan pernah ninggalin lo kok, Fy! Tenang aja! I swear!”

***

Semoga, kamu menepati janjimu itu.

***

Seminggu kemudian.

Hari ini ulangan sejarah. Ditambah Cakka nggak masuk sekolah karena masuk rumah sakit! Gimana aku bisa konsen kalau begini!

Setelah menyelesaikan soal ulangan, tanpa memeriksanya kembali hasil ulangnku itu, aku segera membalik kertas ulangan dan pamit pada guru sejarah. Dan segera berlari menuju tempat parkir dan melajukan mobilku dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit. Aku bergidik ngeri. Aku benci rumah sakit. Aku benci warna putihnya. Aku benci juga bau obat-obatannya. Dan aku benci karena di tempat inilah aku berpisah dengan sahabatku di masa kecilku. Dan aku tak menyangka aku harus kembali ke tempat yang dicat serba putih ini. Dan aku nggak bisa membayangkan kalau aku akan kehilangan sahabatku untuk kedua kalinya ditempat ini!

Setelah bertanya pada suster dimana Cakka dirawat. Dan sempat kesasar. Sampai juga di pintu depan kamarnya Cakka. Aku mengetuk pintu, dan yang keluar adalah Mama Cakka.

“Permisi Tante, bagaimana keadaan Cakka?”

“Keadaannya memburuk. Tante bener-bener khawatir. Ohya, kamu temannya Cakka yang bernama Ify itu kan?”

“Eh, iya tante. Kok tau?”

“Cakka sering bercerita banyak soal kamu! Dan dari tadi dia mengigau manggil nama kamu”

Malu-maluin aja nih Cakka. “Boleh saya masuk tante?”

“Tentu! Tante tinggal dulu cari makanan ya!’

“Iya tante!”

Aku melangkah masuk ke kamar Cakka. Dia tidur dengan nyenyak dengan banyak kabel yang menghubungkannya pada alat-alat yang aku tidak tahu untuk apa itu dan botol infus.

Aku duduk dikursi samping tempat tidurnya. Dan berbisik “Gimana keadaanmu?”

Dan Cakka membuka matanya. “Gue tau, lo pasti dateng!”

“Eh, gue panggil mamamu dulu ya!”

“Nggak usah!”

Setelah itu, kami saling bertatapan.

“Gimana tadi ulangan Sejarahnya?”

“Gila! Parah banget, Cak! Kamu nggak masuk, sih! Aku jadi nggak bisa nyontek kamu!”

“Haha.. yang ada, gue yang nyontek elu!”

“Heuuh, tapi syukurlah kalo kamu nggak papa!”

“Siapa bilang gue nggak papa! Justru sekarang gue di rumah sakit ini pasti ada apa-apa! Tapi katanya lo benci banget sama rumah sakit. Gimana ceritanya bisa nyampek kesini?”

Aku cemberut. “Ya mau gimana lagi! Masak aku nggak jengukin kamu! Kejam banget itu namanya!”

“Haha..”

“Ya udah, aku pulang ya! Cepet sembuh ya, Cak!”

“Mana bisa sembuh, sembuh sama dengan gue mati, kalee! Haha!”

“Hust! Jangan ngomong sembarang ah!” aku rasanya jadi pengen nangis.

“Hey! Kenapa lagi? Kok nangis sih?”

“Habis..” kataku berusaha menahan air mata yang mau keluar “Kamu si bilang yang enggak enggak!”

“Yaelah, kan aku udah janji! Aku nggak akan ninggalin kamu! Sekarang kamu harus janji nggak boleh nangis lagi! Okay?”

***

Aku mohon. Jangan tinggalkan aku.

***

Seminggu kemudian.

Lagi-lagi Cakka nggak masuk! Aku telepon ah.

“Halo, Cak! Kenapa nggak masuk?”

“Nggak papa. Nanti lo pulang sekolah mampir ke rumah gue ya!”

“Emangnya ada apa an?”

“Nggak papa! Pokoknya gue tunggu ya! See you!”

Setelah bel pulang berbunyi, aku melajukan mobil menuju rumah Cakka. Tapi sayangnya terjebak macet. Huft! Menyebalkan!

Setelah setengah perjalanan menuju rumahnya, tiba-tiba dia meneleponku.

“Halo? Bentar ya, Cak! Kamu tunggu bentar lagi, ya! Aku lagi kejebak macet nih!”

Terdengar suara isakan disebrang. “Halo, Ify..” lho? Ini kan suara mamanya Cakka!

Astaga! Jantungku berdegub cepat lagi! Aduh. Ada apa ini! “Eh, Iya, halo tante.. maaf tadi aku kira Cakka..”

Kini suara isakan itu berubah menjadi tangis yang kencang. “Halo.. halo.. tante? Ada apa?” kali ini detak jantungku berdegup lebih kencang. “Tante! Ada apa, Tan?”

“Cak.. Cakka..” ucap mama Cakka sangat lirih dan terbata-bata.

“Iya tante. Cakka kenapa?”

“Cakka.. ma, masuk rumah sakit lagi, Fy!”

“APA?!! Ya udah, saya segera kesana, tan!”

***

Kau berbohong! Kau ingkar janji!

***

Sekarang aku berada di depan pintu kamar Cakka. Air mataku terus mengalir sejak aku memutar arah menuju rumah sakit. Aku mengetuk pintu kamar Cakka. Tak ada yang menjawab. Akupun memutuskan untuk masuk. Cakka sedang duduk di tempat tidurnya sambil tersenyum padaku. Kumohon. Itu bukan senyuman terkahir yang kulihat darimu! Kumohon. Air mataku mengalir semakin deras. Aku melangkah mendekati tempat tidurnya.

“Hey! Kenapa lo nangis sih?” Cakka mengulurkan sapu tangannya.

Aku meraihnya dan menghapus semua air mataku. “Kamu yang buat aku nangis! Kita kan janjiannya dia rumah kamu! Bukan di rumah sakit!” kataku dengan suara parau.

“Maunya sih gitu! Tapi.. ya udahlah! Ke taman yuk! Di sini tamannya bagus lho!”

“Tapi, kamu nggak papa?”

“Enggak kok! Tenang aja!”

Sesampainya di taman, Cakka mengjakku duduk dibangku taman itu.

“Huft…” Cakka menghembuskan nafasnya perlahan. “Mungkin, sekaranglah saatnya.” Ujarnya dengan pandangan lurus. Seakan dia tidak menghiraukan aku yang sedang duduk di sampingnya.

“Udah saatnya apa an, Cak?”

Dia menoleh padaku. Dan menatap mataku lurus-lurus. “Sorry ya, Fy!”

“Sorry kenapa sih, Cak?”

“Emm.. gue ambil sesuatu dulu ya! Ketinggalan di kamar tadi!”

“Gue temenin ya!”

“Nggak usah!”

Lalu Cakka berjalan dengan tenang menuju kamarnya. Namun 10 menit berlalu Cakka tidak kembali juga. Aku mulai khawatir. Jantungku tiba-tiba berdegub cepat. Lebih cepat dari yang sebelum-sebelumnya. Dan aku memutuskan untuk menyusul Cakka di kamarnya.

Di depan pintu kamarnya, Mama Cakka menangis sejadi-jadinya. Papa Cakka juga ada di sana. Dia memeluk Mama Cakka dan mengelus-elus punggungnya. Mencoba menangkan. Tapi Papa Cakka juga ikut menangis.

“Ada apa tante?” tanyaku pada Mama Cakka.

“Cakka..” tangis Mama Cakka Pecah.

“Cakka sudah nggak ada..” Papa Cakka mencoba menjelaskan hal yang barusan terjadi padaku dan menenangkan Mama Cakka.

Sementara aku benar-benar nggak bisa mencerna semua ini. Sebuah ranjang yang bisa di dorong keluar membawa tubuh Cakka keluar dari kamarnya. Ada bekas darah yang keluar dari mulut dan hidung Cakka, ada pula di tangannya. Aku menangis dan menghentikan ranjang tersebut dan memeluk erat-erat sahabatku itu. Tubuhnya dingin. Dan kaku. Tangisku makin pecah.

***

Selamat jalan, Cakka. Semoga kau takkan melupakanku.

***

Hari ini, aku baru saja pulang dari pemakaman Cakka. Sesampainya dirumah, aku segera masuk kamar dan menguncinya rapat-rapat.

Aku memandang kotak biru muda yang berada di atas tempat tidurku. Aku membukanya perlahan. Ada kertas terlipat berbentuk bola basket. Aku membukanya. Dan membacanya.

Dear Ify,

Sorry ya, kalau gue nggak bisa nepatin janji gue. Tapi gue harap lo bisa nepatin janji lo untuk nggak nangis. Lo boleh ngatain gue sepuas hati lo. Karna gue udah ingkar janji. Tapi gue harap lo tetep inget sama gue. Jangan pernah lupain gue ya, Fy! Eh, tapi sebenernya lo boleh nangis kok! Tapi pas cuman hari pemakaman gue doang ya! Setelah itu, lo janji nggak bakal nangis lagi! Okay?

Oya! Satu lagi, gue harap lo bisa temuin sahabat yang bisa jaga lo, Fy! Yang bisa nepatin janji-janjinya, trus yang bisa gantiin gue juga. Tapi ingat! Gue nyuruhnya buat cari sahabat baru! Bukan nyuruh lo lupain gue! Karna kalo lo lupain gue, gue bakal sedih banget.

Hug, Cakka.

p.s : ada CD buat lo! Tolong disetel ya setelah baca surat ini! Dan juga ada gelang. Gelang persahabatan! Semoga lo suka sama gelangnya, ya!

Air mataku mengalir. Aku mengambil CD yang terletak didasar kotak biru ini
dan menyetelnya di player-nya. Wajah tampan Cakka muncul.

“Hai Ify! Lo lama banget sih? Kemana aja!” aku melihat ada tanggal video itu kapan direkam. Hari saat Cakka mengajak aku ke rumahnya. Lalu dia mulai nyerocos lagi. “Padahal kan gue mau kasih lo hadiah! Mau tau hadiahnya apa? Okey, chek this out!” di video, Cakka berjalan menuju piano putih miliknya. Dan jari-jarinya mulai menari-nari diatas tuts-tuts hitam-putih itu. Kali ini lagu yang dimainkan adalah Rindukan dirimu yang liriknya sedikit diubah.

“Berjanjilah wahai sahabatku

Bilaku tinggalkan kamu

Tetaplah tersenyum

Meski hati

Sedih dan menangis

Kuingin kau tetap tabah menghadapinya

Bila ku harus pergi

Meninggalkan dirimu

Jangan lupakan aku….oooo

Semoga, dirimu disana

Kan baik-baik saja

Untuk selamanya

Disini aku kan selalu

Rindukan dirimu

Wahai sahabatku”

Tangisku pecah. Aku tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata. Tapi aku berjanji, aku tidak akan menangis seteah ini, Cak!

***

To Be Continue